14. Badai dan Nestapa

15.2K 2.3K 321
                                        

Netra-netra itu memperhatikan pemandangan yang berdiri megah menantang di hadapannya. Sebuah medan yang belum dieksekusi saja sudah terbayang lelahnya akan seperti apa jika tetap dipaksakan. Jalannya terjal menanjak, kemiringan di perkirakan mencapai 80 derajat dengan jalur tanah lengket, akar beriapan dan vegetasi yang tumbuh lebat. Namun bagi Adinata, setiap medan pasti bisa ditaklukan apabila terus melangkah sedikit apapun pergerakannya.

"Perasaan kita gak lewat sini waktu itu." Celetuk Rafa setelah mengingat-ngingat.

Adinata mengangguk. "Kita harus potong kompas."

"Lo gila?!" Hema sontak menyerobot tak setuju. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Potong kompas adalah istilah untuk memotong jalur atau berjalan secara tegak lurus. Atau dengan kata lain, menciptakan jalan baru pada jalur yang bukan semestinya. Berisiko? Tentu. Selain trek-nya yang keluar lintasan, jalur liar seperti ini juga berpotensi mengganggu tempat persembunyian hewan-hewan berbisa seperti ular.

"Kenapa emang? Justru dengan cara ini, kita jadi hemat waktu. Inget Hem, kita cuman punya waktu enam hari lagi. Ini aja udah sore."

Mendengar pendapat Adinata yang terkesan memaksa, membuat Hema menghadapkan tubuhnya pada lelaki itu. "Lo juga harus inget, gak semua yang ada disini itu punya tenaga yang cukup. Ini terlalu berat buat yang cewek."

"Tenang aja, semisal emang ada trek yang butuh pegangan, gue ada webbing sama tali frusik. Lagian nih, kalau di depan ada apa-apa, pasti gue duluan kan yang kena? Gue navigator disini, percayain sama gue."

"Emang gak ada jalan lain?" Tanya Jendral yang tidak ingin mengambil resiko.

"Ada. Tapi harus putar balik kecuali kalau lo mau lebih lama lagi disini." Kalau Adinata sudah berkata dingin, maka dia betulan ada diambang yang sangat tidak mau dibantah. Egois? Sedikit. Namun ini juga demi kebaikan semua kan?

Jendral menatap ke semua anggota perempuannya. "Jadi gimana nih ciwi-ciwi? Kalau gak kuat bilang aja sekarang. Nggak papa, kita bisa balik lagi."

Semuanya saling lirik satu sama lain. Kalau dilihat-lihat memang sudah pasti berat, tapi lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali. Sebab sebagai perempuan, mereka tidak mau dianggap sebagai penghalang atau bahkan beban. Cukup dengan mereka memberatkan diri sendiri, jangan sampai memberatkan orang lain.

"Kita bisa Jen." Kinar berkata mantap diakhiri dengan senyuman menyakinkan.

"Gak ada masalah lagi kan?"

Hema hanya berdengus lantas menjulurkan lidahnya sedikit mengejek Adinata. Sementara si navigator malah tertawa ringan seolah lupa dengan percekokan sebelumnya. Dia mulai mengeluarkan tiga webbing berwarna biru di dalam carriernya, menyambungkannya dengan simpul hingga bisa menyatu sangat kuat. Jika tiba-tiba dibutuhkan, maka semua sudah siap.

"Cil, nanti lo di belakang gue. Biar gue bisa nuntun lo." Peringat Hema pada Widya. Se-tidak akurnya Hema bersama Widya, dia tetap akan menjaga adiknya sekuat yang dia bisa.

"Emang dari tadi gue ada dimana? Di atas lo?"

Meninggalkan sepasang Adik Kakak yang tiada hari tanpa adu argumen itu, kini Jendral menghampiri Meru yang duduk paling ujung menjadi penutup barisan itu.

Jendral berdeham. Ada niat tertentu kenapa dia menghampiri Meru dan rupanya bahasa tubuh Jendral terbaca oleh anak itu. "Ada apa?"

Meski sedikit tidak enak, Jendral tetap mengutarakan kalimatnya. "Kita mau trabas jalur, apa gak sebaiknya almarhumah ditinggal disini aja Bang?"

"Gue udah gagal bawa Raida pulang dalam keadaan selamat. Gue gak mau gagal kedua kalinya." Begitu kata Meru. Tegas tanpa ada ragu.

"Bukan apa-apa, gue takut lo sama Taksa kewalahan."

JENGGALA [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang