Vanilla Attanaya Raharja POV
Selama di Jogja, aku harus berusaha bersandiwara. Aku tidak akan menceritakan semuanya kepada Caramel. Satu doaku, semoga saja ia tidak akan curiga. Beginilah nasib anak kembar. Kami memiliki ikatan batin yang kuat, bahkan aku tidak bisa berbohong darinya. Sesuatu yang aneh, namun kata Mama wajar karena kami kembar. Berbeda dengan orang yang lahir seorang diri ke dunia.
Aku dan Stevan keluar dari Yogyakarta internasional Airport dan saat kami keluar, ternyata wajah Caramel sudah ada di sana. Segera saja ia memelukku, lalu bergantian memeluk Stevan sebentar. Tanpa banyak berbicara, aku langsung mengajak Caramel untuk pulang ke rumah. Seperti biasa, ia menjemput kami dengan Pajero kesayangannya. Aku heran pada Caramel, mungkin ia lebih pantas menaiki sebuah sedan atau mobil sport, tapi kenapa ia bisa cinta pada mobil ini yang sebenarnya adalah bekas milik Papa.
Ini adalah pertama kalinya Stevan aku ajak pulang ke Jogja. Sepertinya dia cukup menikmati pemandangan yang ada.
"Mel, gimana keadaan orang rumah?"
"Sehat, Papa juga makin males beranjak dari depan TV."
"Why?"
"Hampir setiap hari ada pertandingan bulutangkis. Makanya mau cepat-cepat pensiun. Stress gue, Van. Lo aja deh yang pulang dan pegang perusahaan Papa. Gue mau temani Tante Sari berobat. Kasian gue sama dia."
Oh, Tante Sari, tetangga kamar Mama sewaktu opname di Singapura. Tidak aku sangka Caramel masih berhubungan sampai sekarang.
"Lo masih berhubungan sampai sekarang?"
"Masih. Kasian tau, suaminya milih ceraikan dia, tapi dia.nolak bercerai kalo harta gono gininya nggak jatuh ke dua anaknya. Intinya dia mau cerai asal semua yang mereka miliki jatuh ke anaknya semua. Mereka harus sama-sama nol lagi."
Wow, menarik juga apa yang dikatakan Caramel ini. Menyetujui bercerai asalkan semua Gino gini di limpahkan ke anak lagi. Tentu saja suami Tante Sari tidak akan mau, bisa lari tunggang langgang selingkuhannya jika ia kere hore. Menurutku memiliki suami tidak perlu perlu perawatan hingga maksimal terutama tubuh, karena kemungkinan untuk di ciduk oleh wanita yang gatel terlalu besar. Contoh saja Pakdhe Risnawan dulu. Bagaimana rumah tangganya hancur bersama budhe Kartika hanya karena orang ketiga, namun kini ia telah berbahagia dengan istri barunya yang sungguh hot menggoda iman. Sejujurnya, Mbak Nada yang sudah hot saja kalah hot dengan Kimaya.
"Good. Seharusnya seperti itu, biar pelakor jauh-jauh dari rumah tangga kita. Kalo perlu harta di atas namakan istri semua. Jadi perempuan jangan mau rugi."
Caramel menghela nafasnya dan memutar kedua bola matanya.
"Lo jadi perempuan, bener-bener dah, ah. Terlalu memikirkan logika Lo, perasaan Lo sekali kali Lo junjung tinggi."
Vanilla memilih tersenyum kecil. "Gue nggak mau harus menghancurkan diri gue demi orang yang nggak pernah tau perjuangan gue untuk mempertahankan dia."
"Stev, Stevan," panggil Caramel karena sejak tadi Stevan duduk diam di kursi penumpang belakang.
"Ya?"
"Kenapa Lo diam aja? Lagi sakit gigi?"
"No."
"Terus kenapa diam aja."
"Nyimak pembicaraan kalian berdua."
Kini aku melihat Caramel tertawa kecil. Sungguh ia bertolakbelakang dengan diriku. Caramel itu lebih polos, pikirannya terlalu lurus dan selalu baik ke orang. Bahkan jika tidak karena aku yang "menjaganya" entah berapa banyak materi yang sudah melayang hanya karena ia mudah di tipu begitu saja oleh orang lain. Sesuatu yang baik tetapi jika kebablasan juga sangat mengkhawatirkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
#SteVanilla
ChickLit"Aku enggak mau nikah kalo belum dapat suami setajir Mas Juna dan semanis Mas Ervin memperlakukan Mbak Luna." - Vanilla Attanaya Raharja. "Lebih baik melajang seumur hidup, karena menikah dan berkeluarga itu butuh biaya yang besar selain tanggung ja...
