31

1.2K 162 6
                                        

#Stevanilla Part 31

Vanilla Attanaya Raharja POV

Aku mengetuk-ngetukkan ujung bolpoin yang ada di tangan kananku ke meja kerjaku sambil memikirkan bagaimana gilanya isi kepalaku saat ini. Semalam saat tiba di rumah tiba-tiba aku memikirkan nasib Madre yang akan hidup sebatang kara saat Stevan pergi ke Korea Selatan sebentar lagi. Menyadari jika Patricia tidak akan mungkin bisa membantu Stevan menjaga Madre karena ia harus menjaga anaknya, jiwa sosialku yang receh ini bangkit dan seakan menuntun diriku untuk melakukan ini semua meskipun tidak ada paksaan dari siapapun.

Oh my God...
Apa lo masih kurang kerjaan, Vanilla? Sampai rela melakukan ini semua demi mantan pacar lo yang enggak memprioritaskan diri lo dalam hubungan kalian dulu?

Setan jahat dalam diriku terus mendengungkan semua kalimat-kalimat itu namun aku mencoba untuk mengabaikannya. Aku benar-benar tidak tega kepada Madre apalagi kondisi Madre yang sedang seperti ini. Nanti jika Madre pulang ke rumah sedangkan aku harus tetap pergi ke kantor lalu bagaimana? Siapa yang akan menjaganya?

Aku jelas tidak bisa menyelesaikan masalah ini seorang diri. Aku butuh bantuan dan yang terlintas di dalam kepalaku saat ini adalah sosok kembaranku, Caramel. Ya, aku harus menghubungi dirinya kali ini.

Mengingat perbedaan waktu diantara kami berdua saat ini, aku mencoba mengirimkan pesan kepadanya terlebih dahulu tanpa langsung meneleponnya.

Vanilla Attanaya : Mel, lo sudah mulai kerja lagi belum? Kalo belum, lo ke sini dong. Gue lagi butuh bantuan lo.

Setelah mengirimkan pesan itu, aku segera menyenggol tombol send dan akhirnya pesan itu terkirim dengan tanda centang dua.

Mengingat ini masih di jam kerja, aku segera kembali memfokuskan pikiranku kepada pekerjaan-pekerjaan yang hampir menyentuh deadline-nya. Semoga saja kembaranku yang mencintai musik koplo itu tidak mengabaikan pesanku begitu saja karena aku benar-benar mengharapkan bantuannya kali ini. Hanya dia orang yang bisa aku percaya untuk menjaga Madre. Selain dia saudaraku, dia juga cukup berpengalaman dalam merawat Mama saat sakit kanker. Ia juga orang yang sabar dan lebih telaten daripada diriku.

***

Pukul lima sore aku sudah keluar dari kantor dan langsung pulang ke apartemen. Aku butuh menenangkan diri terlebih dahulu setelah tanggung jawab gila yang baru saja aku ambil tadi pagi. Saat aku sampai di apartemen, aku langsung mandi dan makan. Aku berharap jika perutku kenyang, aku bisa berpikir lebih jernih daripada saat ini.

Baru juga aku selesai makan, sebuah panggilan video call masuk ke handphone milikku. Aku tersenyum melihat nama Caramel yang muncul di sana. Segera saja aku mengangkatnya.

"Hallo, Mel," sapaku ramah dengan senyum yang menghiasi wajahku.

"Lo butuh bantuan apaan sih, Van? Kok sampai gue harus ke sana? Lo kira jarak Indonesia-Italia kaya jarak Depok ke Jonggol?"

Aku tertawa melihat ekspresi kembaranku ini ketika mengatakan semua ini.

"Buruan deh lo ke sini."

"Memang lo mau bayarin pengurusan visa sampai tiket pulang pergi?"

"Gue bayarin visanya aja."

"Duileh... Biduan bengek lo, Van. Mahalan tiketnya daripada urus visanya."

Aku menghela napas panjang. Ya meskipun ini benar, tapi aku tidak bisa membayari Caramel terlebih untuk tiketnya. Toh, gajiku di sini saja hanya pas-pasan untuk hidup dan travelling. Meskipun ada yang simpanan, itu merupakan uang darurat yang tidak boleh aku otak-atik jika tidak kepepet sekali. Tentu saja harus begitu karena aku hidup di negeri orang yang jauh dari keluarga. Tidak ada yang bisa aku andalkan kecuali diriku sendiri.

#SteVanillaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang