21

2.8K 628 65
                                        

Stevan Boselli POV

Hari ini aku dan Vanilla sudah berdandan dengan pakaian adat Jawa. Kami berdua duduk sambil menonton Adam yang sedang dimandikan. Cukup menarik melihat ini semua. Ini sama seperti sedang berwisata budaya.

"Stevan, kamu kenapa diam saja dari tadi?" Tanya Vanilla sambil membuka permen yang baru saja ia ambil dari dalam tasnya kemudian ia menawariku. "Mau?"

Aku menggelengkan kepalaku. "Nggak, buat kamu saja."

"Okay."

Setelah itu kami sama-sama fokus untuk melihat prosesi adat yang sedang dilakukan. Tidak sampai satu jam setelahnya kini aku dan Vanilla sedang ikut mengantri dawet yang di jual oleh Pakdhe dan Budhenya. Uniknya kali ini kami membayar bukan dengan uang kertas atau receh melainkan kereweng. Sungguh unik dan dawet itu rasanya lumayan nikmat. Ini adalah pertama kalinya aku mencicipi minuman ini.

"Aduh, aduh, calon manten jilid duanya, kapan ini mau nyusul?" Tanya Budhe Liz kepadaku saat aku dan Vanilla sedang menikmati nikmatnya dawet di pinggir kolam renang.

Aku dan Vanilla hanya tersenyum. Untung saja kali ini Vanilla berinisiatif menjawabnya.

"Doakan saja secepatnya ya, Budhe."

"Pasti, pasti budhe doakan buat kalian. Btw, kalian pemberkatannya di Indonesia kan?

"Iya, Budhe rencananya gitu."

"Jadi di Bali?"

Aku mengernyitkan kening ketika mendengar Budhe Liz lantang mengatakan Bali sebagai tempat pemberkatan kami. Aku memang memiliki Plan B dulu dengan Vanilla sebelum bertemu Pat lagi, bahwa kami ingin mengadakan resepsi kecil kecilan di Bali. Namun kini alokasi biaya resepsi sudah berkurang cukup banyak untuk membiayai tes DNA.

"Hmm, belum tau sih. Nanti aja dipikirkannya, Budhe."

"Lho, kok gitu? Tadi Mama kamu sudah bilang sama budhe kalo Angi nggak usah pulang ke Jerman. Pulangnya setelah kamu menikah gitu katanya. Sekalian lahiran di sini katanya. Biar dekat sama keluarga, banyak yang bantuin."

Mampus....
Hidupku kini benar-benar tidak tau harus berbuat apa. Aku dan Vanilla berencana untuk menikah secara sederhana, namun jika dilihat lihat, benar-benar sederhana versiku dan Vanilla dengan keluarganya tentunya berbeda kelas. Sekarang aku tau rasanya rendah diri itu seperti apa. Bukan karena insecure ya, tapi lihat saja bagaimana keluarga Vanilla ini. Tidak ada yang sesederhana diriku.

"Doakan saja ya, Budhe. Aku sama Stevan ke dalam dulu," ajak Vanilla sambil menggandeng tanganku untuk memasuki rumah.

Selesai acara ini ada acara keagamaan sehingga aku dan Vanilla memilih untuk duduk di luar sambil melihat pemandangan taman luas di rumah orangtua Adam. Vanilla hanya duduk diam sambil menatap mainan anak-anak yang ada di taman ini seperti perosotan, trampolin, ayunan dll.

"Kamu kenapa lihat mainan itu sampai segitunya?" Tanyaku pada Vanilla.

Aku melihat Vanilla menghela nafasnya kemudian ia tersenyum. Walau ia tidak menjawab diriku, namun aku tau jika si dalam hatinya, ia sedang memikirkan masalah kami berdua. Aku hanya berharap, anak Pat, bukanlah anakku.

***

Sore hari ketika prosesi adat menjelang pernikahan Adam selesai di gelar, aku dan Vanilla tidak bisa pulang ke rumah karena kini para sepupu Vanilla mengajak kami untuk berjalan jalan.

"Jalan, yuk," ajak Nada pada kami semua ketika kami sedang menikmati salad buah sambil bermain monopoli.

"Kemana?" Tanya Ervin yang sedang sibuk menjadi bandar dalam permainan ini.

#SteVanillaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang