"Woi, Tam."
Tama refleks menoleh. Langkahnya melambat ketika melihat Agus mengangkat tangan dari sudut kantin, gaya lebaynya mirip orang sedang menyelamatkan korban tenggelam. Ia segera menggeser tas ransel ke depan, lalu menjatuhkan diri ke bangku kosong di sebelah Agus.
"Udah kelar kuliah lo?" tanya Agus sambil menyandarkan siku di meja, dagunya ditopang telapak tangan, matanya menatap Tama malas tapi penasaran.
"Masih ada satu mata kuliah lagi. Tapi gue males. Maunya pulang, ngadem di rumah. Capek ngeliat muka dosen." Keluh Tama sambil menyandarkan punggung ke kursi, mengusap wajahnya pelan, lalu menghembuskan napas panjang seolah tenaganya ikut habis bersama kalimat itu.
"Makin gede makin kayak anak kecil lo. Jiwa lo ketuker ama Cakka kali, ya." sindir Agus sambil membuka botol minum.
"Eh iya ya, gue juga ngerasa akhir-akhir ini Cakka lebih dewasa dari gue. Jangan-jangan ada yang nuker jiwa gue waktu tidur." Ucapnya sambil menggaruk kepala, lalu menatap langit-langit kantin dengan wajah curiga berlebihan, seolah berharap ada jawaban mistis jatuh dari sana.
"Itu bukan dituker, Tam. Lo aja yang nggak mau ngalah,"jawab Agus tanpa mengalihkan pandang dari ponselnya, ibu jarinya tetap lincah menggulir layar, seolah omelan Tama cuma jadi suara latar.
Tama penasaran, kepalanya nyosor ngintip ke arah layar. Sebuah senyum muncul saat melihat Agus tengah stalking akun sosmed cewek. Dengan iseng, ia nyengir lebar. "Heh, ini lo lagi stalking siapa?"
Agus langsung menutup layar ponselnya, tapi gerakan Tama lebih cepat. Ia berhasil merebut ponsel itu dengan jurus andalannya: gerakan tangan kecepatan cahaya level dua.
"Balikin, Tam," seru Agus dengan nada peringatan.
"Bentar dong. Cuma liat bentar. Sumpah," ujar Tama, walau jelas niatnya tidak sesuci janji kampanye.
Terjadilah duel rebut-rebutan ponsel. Dua mahasiswa bertingkah kayak anak TK rebutan pensil warna. Suara bangku bergeser dan tawa cekikikan Tama menarik perhatian sekitar.
"Tam, balikin. Ini udah kayak sinetron perebutan warisan." Suara Agus mulai penuh tekanan.
"Eh, iya iya. Gue balikin, tapi nanti," ucap Tama, lalu melempar ponsel ke udara dan menangkapnya sendiri. "Gue nih kayak penjaga gawang masa depan hubungan lo, Gus."
Sebuah tas selempang mendarat mulus di wajah Tama. Duak!
"Aduh!" keluh Tama sambil mengusap dagu. "Wah lo tega banget, Gus. Sakit tau!" a mendengus kesal, lalu melirik Agus dengan tatapan dramatis—setengah mengadu, setengah berharap dikasih simpati yang jelas-jelas nggak akan datang.
"Makanya jangan ngintip-ngintip." Sahut Agus santai sambil menyeringai tipis, menurunkan ponselnya sebentar hanya untuk melirik Tama, lalu kembali fokus ke layar seolah tidak terjadi apa-apa.
"Heh, heh, kalian ngapain sih? Kayak lagi gladi resik KDRT nasional," sahut Juno tiba-tiba, nongol kayak hantu penasaran, dengan tiga cup kopi.
"Ini si Agus lagi jatuh cinta, Jun. Dia stalking cewek di FB. Sok-sokan diem-diem padahal mukanya udah kayak abis makan sambel. Pedes tapi bahagia," ujar Tama, memprovokasi.
Agus hanya mendesah, pasrah, sambil duduk kembali. "Lo semua mulutnya tuh, ya gak ada yang niat menjaga rahasia." Gumamnya sambil menggeleng pelan dan mengusap wajahnya menggunakan satu tangan.
Bukannya bersimpati, Juno justru menambah panas suasana. "Cieeeee," Juno langsung berseru. "Agus jatuh cinta! Hei dunia! Agus jatuh cin—"
Tisu gulung di atas meja itu pun langsung mendarat mulus ke mulut Juno.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembar Sial | END
RomanceTiga serantai yang bersahabat sejak duduk di bangku SMA, lebih tepatnya sejak ketiganya terlambat dihari yang sama, mendapat point dan hukuman yang sama dari polisi sekolah, bermasalah dalam hal asmara. Dan sama-sama menjadi target cinta monyet, Bam...
