10. Sad boy

219 50 14
                                        

Sudah empat hari lamanya Tama mengabdikan diri pada dunia kegalauan. Ia menjelma menjadi sad boy paruh waktu—mogok makan, mogok tidur, dan yang paling mencolok: mogok ketawa. Bahkan untuk nongkrong bersama Juno atau Agus, ia menolak keras kecuali ada embel-embel "gue traktir." Itu pun tetap harus disertai drama lima menit mikir-mikir dulu.

Sisi negatif dari kesedihannya? Tama makin menganut paham hidup "satu kali mandi." Itu pun hanya jika harus ke kampus. Kalau tidak, ia akan menyepi di kamar seperti pertapa yang sedang menulis novel tentang mantan terindah.

Sisi positifnya justru membuat dosen-dosen takjub. Tama menjadi mahasiswa rajin. Tugas-tugas yang bahkan belum diumumkan deadlinenya sudah ia kumpulkan. Ia datang ke kampus lebih awal daripada tukang bersih-bersih, dan kalau ruang kelas masih terkunci, ia tanpa ragu meminta kunci ke ruang jurusan. Benar-benar transformasi dari badut kampus menjadi penjaga gawang kedisiplinan.

Penyebab semua ini? Sepupunya, Rayyan. Dua hari lalu, ia tiba-tiba muncul dengan misi mencari model untuk iklan sampo dari perusahaan tempatnya bekerja. Celakanya, ibu Tama dengan bangga mencalonkan Airin. Lebih celaka lagi, Rayyan menyetujui. Dan paling celaka? Airin pun ikut menyanggupi.

Sejak saat itu, Airin mulai menjaga jarak. Semua panggilan Tama diabaikan. Semua pesan dibaca, lalu ditinggal seperti mantan yang terabaikan. Alibi Airin klasik: baterai lowbat, ponsel ketinggalan, atau yang paling licik—mode pesawat aktif seharian.

Jika biasanya Airin lebih memilih rebahan daripada pergi keluar, kali ini ia rutin meninggalkan rumah. Tapi bukan untuk healing, melainkan demi menghindari Tama. Sayangnya, hujan deras hari ini menggagalkan misinya.

Tama datang dengan tubuh kuyup, membawa folder berisi materi kuliah. Demi alasan yang lebih penting—mengintervensi kehidupan gadis itu secara dramatis.

Airin sedang menikmati makan siangnya, nasi, telur dadar pakaikecap dan teh hangat ketika suara khas Tama menggema.

"Gue nggak suka lo ikut beginian," seru Tama lantang, duduk di seberang meja makan seperti jaksa sidang dadakan.

"Ribet amat hidup lo, Tam," balas Airin santai, tetap fokus pada telur dadarnya yang separuh hampir gosong.

Tama mendekat. Ia menarik kursi di samping Airin, menyambar gelas teh Airin, dan menenggaknya setengah gelas.

"Lo nggak mikir apa, Rin? Lo bakal diliatin banyak orang! Nanti kalo ada yang naksir, trus nge-stalk lo, nemu foto lo di Google, disave, dijadiin wallpaper, ditempel di tembok, trus diguna-gunain, gimana?"

Airin menatapnya, ekspresinya campuran antara geli dan bingung. Jemarinya menyentuh sendok secara tidak sengaja, terus menggeser piring kecil di depannya. Terus terang, nafsu makannya mulai menguap.

"Ha?" gumamnya, menatap Tama yang kini cuma berjarak dua jengkal darinya—cukup dekat buat lempar sendok tapi terlalu dekat untuk bisa tenang.

"Lo batalin aja kontraknya, biar Rayyan cari model lain. Kalo mau, gue punya banyak temen yang mau jadi model. Gratis, asal dikasih makan siang," kata Tama sambil mencondongkan tubuh ke depan, kedua alis terangkat.

Airin menghela napas panjang, meraih gelas tehnya kembali.

"Nggak bisa, Tam," ucapnya tenang, menundukkan kepala sebentar, mata melirik ke jendela seolah ingin melarikan diri dari percakapan dramatis ini.

"Kenapa? Lo takut? Kalo perlu, biar gue yang ngomong!" Nada suara Tama makin meninggi, tubuhnya maju sedikit, tangan terkepal di pinggang, seolah siap bertarung melawan dunia demi argumennya.

Gelas teh yang hanya seinci dari bibir Airin kini tertahan. Ia menatap Tama lurus-lurus.

"Kalo gue batalin, gue harus ganti rugi. Dan itu... gede banget. Gue nggak mampu," ucap Airin sambil menepuk meja pelan, wajahnya datar tapi jelas menahan semua emosi yang bercampur aduk.

Tama membeku. Kalimat Airin menamparnya lebih keras daripada tagihan tugas makalah di akhir semester. Ia menatap gadis itu sebentar, lalu menunduk, menahan diri. Di dalam hatinya, kerusuhan emosi tingkat tinggi terjadi. Ia bisa membayangkan Rayyan berdiri di studio, memuji Airin yang terlihat "fotogenik banget" sambil tersenyum tipis. Ia bisa membayangkan fotografer memuji rambut Airin, lalu ada cowok ganteng lain yang memberi nomor WA—lama-lama bisa berakhir nikah kontrak.

"Rin," suara Tama akhirnya keluar, berat dan serak seperti kaset kusut, bibirnya sedikit bergetar.

"Hm?" Airin menoleh dengan alis terangkat.

Tama menelan ludah, napasnya ditarik dalam-dalam. "Gimana kalo kita pacaran?" Tama menatap Airin dengan harapan.

"Ha?" Airin mengerjap, bahu sedikit mengangkat, kepala miring, ekspresi penuh tanda tanya. "Buat?"

"Ya biar lo ada alasan buat nolak cowok-cowok lain," jawab Tama, tangan terkepal pelan di pangkuan, alis berkerut tegang.

Sunyi. Lima detik. Enam. Sampai dua belas. Airin menatapnya utuh, mata sedikit melebar, bibir mengeras.

"Berarti gue nggak boleh deket-deket bokap gue dong?" Airin mencondongkan tubuh, tangan disilangkan di dada, ekspresi campuran antara kaget dan jengkel.

"Gue serius, Rin!" Ucapnya tanpa sedikit pun senyum—benar-benar wajah seseorang yang tidak sedang bercanda.

"Gue juga serius Tam." Tangannya disilangkan di dada, menegaskan bahwa ia sama seriusnya dengan Tama.

"Terus...?" Tama menunggu, tangan disedekapkan di depan dada, satu alis terangkat tinggi menyaingi menara Petronas, mata menatap Airin penuh antisipasi.

"Apa?" dagu Airin sedikit terangkat, alis berkerut tipis.

"Jawabannya apa?" Tama mencondongkan badan ke depan, nada suaranya makin menekan.

"Enggak." Airin menepis harapan Tama begitu saja.

"Kok gitu?!" alis Tama makin mengernyit dengan mata melebar.

Airin menghela napas panjang, napasnya terdengar jelas. Ia menatap Tama lurus, dengan ekspresi penuh kesabaran yang nyaris habis.

"Lo sadar nggak sih, Tam. Lo tuh terlalu gampang ngajak cewek pacaran." Suaranya datar tapi tajam.

"Lo yang nggak pernah peka! Nggak pernah ngerti gimana gue jungkir balik buat dapetin lo!" Tama maju sedikit dan  suara hampir bergetar karena frustrasi.

"Tam, lo cowok manja. Suka pamer gebetan. Lo bercanda terus sampe gue nggak tau, mana yang serius, mana yang cuma buat lucu-lucuan. Bahkan sekarang pun gue nggak yakin lo beneran serius." Airin melempar pandangan ke depan, menghindari tatapan Tama.

Kali ini, Tama terdiam. Dia tahu Airin benar. Semua benar. Semua hal bodoh yang pernah dia lakukan kini menampar balik dengan sentuhan emosional maksimal.

Bendera putih sudah dikibarkan. Jelas, Airin tidak tertarik dengan hubungan yang hanya setengah matang. Semua trik Tama—mulai dari pura-pura cuek, ngebanyol tiap saat, sampe ngajak pacaran dadakan—gagal total.

Ia menyalahkan Rayyan. Kalau saja pria itu tak datang mungkin Airin masih mau mengobrol panjang dengannya. Mungkin mereka masih bisa saling goda tanpa beban. Mungkin banyak kemungkinan yang kini tak ada lagi artinya.

"Maaf," gumam Tama akhirnya, suara terdengar serak tapi tulus.

Airin tidak menjawab, hanya menghela napas. Sebuah dehaman pelan terdengar sebagai penutup. 

Mungkin, itu adalah akhir dari percakapan mereka. Atau... akhir dari semuanya.

Yang pasti malam ini, Tama akan kembali berdiam di kamarnya, menyeret selimut yang tak pernah benar-benar menghangatkan, playlist patah hati berdengung di telinga, mata kosong menatap plafon.

Dan mandi? Bisa nanti.

Kembar Sial | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang