Suasana riuh memenuhi halaman gedung administrasi. Barisan panjang calon mahasiswa baru tampak mengular di bawah sengatan matahari—dan Tama, sambil menatap wajah-wajah panik di sekeliling, mulai bertanya-tanya, apakah nyasar jurusan bisa dihitung sebagai olahraga ekstrem. Keringat mengalir, wajah-wajah letih bermunculan, dan pakaian yang semula rapi mulai kehilangan bentuknya. Lembar kertas herregistrasi berubah fungsi jadi kipas darurat: digerakkan di depan wajah, ditempelkan ke kepala, bahkan sebagian nekat menarik bagian bawah kaos untuk mengusir hawa panas.
Tama memperhatikan semua itu dari bawah pohon besar di sudut halaman. Sembari menyeka peluh yang mengalir di pelipis, ia memperhatikan sekelompok perempuan yang tampaknya lebih sibuk memoles liptint ketimbang mengantri. Beberapa menyisir rambut dengan jari, yang lain menajamkan alis pakai pensil kecil, sesekali saling beradu pose untuk selfie dari ponsel masing-masing. Di tengah panas dan keramaian, mereka seperti punya dunia sendiri.
Tak jauh dari mereka, sekelompok senior perempuan terlihat sibuk memberi arahan pada para mahasiswa baru. Gestur mereka cepat dan sedikit cerewet. Tama sempat menangkap lirikan tidak suka dari beberapa orang yang melintas. Gila, ini halaman kampus apa halaman rumah sendiri, sih? batinnya.
Sementara itu, Tama, Juno, dan Agus yang memang baru tiba, dan langsung menyesali keputusan mereka masuk lewat pintu belakang. Ide Tama yang katanya "biar cepet" justru berujung mereka harus lari ngos-ngosan sejauh dua kilometer, setelah motor mereka dicegat oleh satpam kampus.
"Gila... kalah tuh bajaj," keluh Juno pada beberapa perempuan yang tengah terbahak, ia duduk di bangku halaman sambil mengipas dirinya pakai map.
"Haah... lebih gila lagi temen lo nih. Setengah napas gue ilang," sahut Agus sambil menepuk-nepuk dadanya. Matanya memelototi Tama.
"Yaelah, lo tahu sendiri, lewat depan tuh rame banget. Kayak antrean BTS Meal—masuk bisa, keluar belum tentu," bela Tama sambil menarik kerah kemejanya, mencoba mendapatkan angin.
Agus, yang sejak tadi diam, akhirnya meledak. Ia mulai mengomel, mengingat kembali peristiwa ketika satpam menolak mentah-mentah motor mereka masuk gerbang belakang. Suasana kemudian hening. Hanya suara speaker dari panitia yang terus berbicara bersaing dengan gaduh para calon maba.
Tama melirik jam tangannya dan mendesah pelan. Harapannya duduk nyaman di ruang ber-AC sirna sudah. Harusnya gue bawa topi... dan pake baju cerah. Kenapa juga tadi sok-sokan pake hitam? Lucu juga, ya. Baru hari pertama aja udah pengen dropout.
"By the way, lo jadi masuk Sosiologi, Tam?" tanya Juno tiba-tiba, memecah keheningan.
Tama menoleh sebentar, menghela napas panjang, lalu menggeleng.
"Lah, terus?"
"Gue masuk Kesejahteraan Sosial."
Dalam sepersekian detik, air mineral yang baruJuno minum dan masih tertahan dalam mulut Juno memilih memberontak dan menyembur ke arah Tama, nyaris membasahi wajah yang—sayangnya—terlalu percaya diri untuk disebut estetis.
"Yakin lo? Otak lo aja belum sejahtera!" ledek Juno, terpingkal.
Tama mendengus, "Ya mendingan gue kesasar, daripada lo yang sengaja nyasar jurusan." Tama menepuk-nepuk kemejanya sendiri, berusaha mengusir panas.
"Gue kan ada alasannya." Juno mengangkat bahu, menatap Tama sambil menahan tawa. "Nah, lo kesasar nggak pake alasan."
"Di mana-mana, yang kesasar tuh lebih logis daripada yang sengaja nyasar." Tama menggeleng, menatap punggung Juno.
"Gue nyasar punya tiket tujuan, nah lo cuma—"
"Sama-sama nyasar. Rame lagi," potong Agus sambil meletakkan map di pangkuannya, akhirnya ikut nimbrung.
Tama tertawa pendek. Ya, kalau dipikir-pikir, ia memang asal isi jurusan kedua di formulir. Harapannya masuk Ilmu Politik justru menjerumuskannya ke Kesejahteraan Sosial. Meski masih dalam satu fakultas, tetap saja bukan rencana awal.
Tama melirik Juno. Cowok itu malah lebih parah: dari Teknik, sekarang nyemplung ke Fakultas Keguruan. Semua karena orang tuanya guru, katanya. Ironis banget hidup lo, Jun...
"Yadeh, Kang Relax. Lo apa-apa bawaannya 'relax' sih," timpal Juno.
"Siapa?" tanya Agus, datar.
"Lo."
"Nanyak," balas Agus, menampilkan smirk sekenanya. Ia cuek pada otot-otot Juno yang terlihat siap mendaratkan tas ke kepalanya kapan saja.
Tama memutar bola matanya.
"Lo jadi HI, Gus?"
"Iya—"
Untuk kedua kalinya, Juno menyemburkan air yang hendak ia teguk.
"Beh! Gue salut sekaligus iri, bestie!"
"Tapi gue nyasar juga," potong Agus cepat, tak ingin terlalu dipuja. "Salah ngisi formulir waktu daftar SNMPTN. Mau masuk Komunikasi, yang masuk malah HI."
"YE! Sama aja lo nyasar, Bambang!" seru Tama, memukul pelan kepala Agus menggunakan map yang digulung.
"Nama gue Agus, bukan Bambang."
"Nggak usah nyebut-nyebut Bambang deh, nanti dia datang lagi, kena kutukan baru tahu rasa lo pada." sahut Juno.
Mereka terdiam sejenak, mengingat satu nama yang bikin perut bergejolak: Bambang Kristina. Hati mereka langsung menjerit, "Tolong jangan hadir di sini..." Bayangan masa SMA muncul sekejap—Menyebut nama Bambang Kristina rasanya seperti memanggil makhluk urban legend. Sekali disebut, dia datang. Rambut rapi berlebihan, eyeliner mencolok dan setajam niat hidupnya, drama selalu siap tayang, dan kebiasaan berdiri menempel di bahu mereka bertiga seolah ruang pribadi hanyalah mitos. Ke mana pun ketiganya pergi, Bambang ikut. Bukan berjalan tapi menempel, seperti aksesori wajib yang haram hukumnya jika dilepas. Di SMA, Bambang tak pernah benar-benar berdiri di samping—dia selalu terlalu dekat, terlalu terlibat, dan terlalu yakin bahwa mereka bertiga membutuhkan dirinya untuk bernapas. Kalau Bambang muncul sekarang, jangan-jangan hari pertama kuliah ini bakal langsung jadi bencana.
"Gue berasa hidup lagi setelah lulus SMA dan nggak ada alasan buat ketemu sama Bambang," celetuk Agus tiba-tiba.
"Kemarin lo mati, Gus?" balas Juno sambil melirik sinis.
Di sela percakapan yang belum usai, sebuah suara menyela
"Ada yang memanggil saya?"
Mereka menoleh secara refleks. Seorang pria tambun dengan kacamata melorot dan tas laptop di tangan kanan menatap mereka sambil tersenyum ramah. Nametag di dadanya terbaca jelas:
Bambang Bangoen Pribahadi, M.Si, Ph.D
Tama menatap nama itu. Rasanya dunia berhenti berputar.
Ya Tuhan, kenapa ketemu Bambang yang justru naik level?
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembar Sial | END
RomanceTiga serantai yang bersahabat sejak duduk di bangku SMA, lebih tepatnya sejak ketiganya terlambat dihari yang sama, mendapat point dan hukuman yang sama dari polisi sekolah, bermasalah dalam hal asmara. Dan sama-sama menjadi target cinta monyet, Bam...
