12. Sad boy edisi Ke-2

135 44 5
                                        

Pagi yang tenang di kediaman Tama. Pria itu tampak bersantai, malas-malasan di kursi dengan setoples kacang Shanghai dan secangkir teh panas di atas meja. Tidak ada pertempuran pagi ini, karena Cakka, bocah tampan itu, sedang demam. Keadaan ini terjadi setelah anak ayam pelanginya meninggal dua hari lalu dalam sebuah insiden tabrakan yang dramatis. Namun, ketenangan itu harus berakhir begitu sang ibu muncul dari dapur, membawa sekeranjang sayuran.

"Lah, Tam, gimana mereka bisa ketemu?" ucap Tanti sembari meletakkan keranjang juga talenan di atas meja. Dengan tatapan fokus pada layar televisi.

Tama yang hendak menyuap kacang shanghai itu pun terhenti. "Hmm, tadi nggak sengaja ketemu."

"Gimana bisa nggak sengaja, sih?" gerutu Tanti, ibu Tama, dengan wajah penuh kekecewaan. Bahkan gerakan mengupas wortelnya terhenti sejenak, seolah ia tenggelam dalam alur pikirannya.

Begitu juga dengan Tama yang mengalihkan pandangannya dari ponsel. Lagi-lagi ia harus mengabaikan kacang shanghai yang sudah tertahan dalam gigitannya. "Ya, mana Tama tau."
Pria itu kembali memainkan ponselnya, lebih tepatnya membuka tutup chating juga foto profil Airin pada Whatsapp-nya. Tanpa menyadari tatapan garang sang ibu.

"Kamu gimana bisa nggak tahu, sih? Kan Mama udah bilang, tolong lihat dulu selagi Mama ambil sayuran di dapur!" pekik Tanti dengan nada menuntut. Sementara itu, Tama tampak berat hanya untuk menelan sebutir kacang Shanghai yang hancur di mulutnya, rasanya pun terasa hambar.

Dengan sekali tarikan napas, dan keberanian seujung kuku, Tama kembali bersua selembut mungkin, agar tak semakin memperburuk perasaan sang ibu. "Namanya juga film, terserah yang nulis naskah, lah, Ma."

Tapi, "kamu tuh emang nggak ngerti perasaan perempuan ya, Tam. Pantesan sampe sekarang masih jomblo, Airin aja nggak doyan sa-" protes Tanti terhenti kala layar televisi berubah menjadi gelap, menampilkan kepalanya yang dihiasi oleh roll rambut berwarna pink.

"TAMA!" teriak ibu dua anak itu, mendapati Tama melompati sofa sambil melempar remote sembarangan. Bahkan Tanti terlihat seolah siap melayangkan pisau yang digenggamnya saat itu juga.

Namun, tak lama kemudian, Tama memutar badan dan mendekat ke meja. "Permisi, ketinggalan," katanya, sebelum kembali berlari menjauh setelah meraih gelas tehnya.

"Taamaaa, sini nggak kamu!"

"ENGGAK." Teriak Tama yang tak sedikitpun menghentikan langkah lebarnya.

"Haduh, ampun deh tuh emak-emak kalo udah nonton tv, ngerusak suasana, bawa-bawa Airin lagi, kan baper." Eluhnya yang kini bersandar pada pintu sembari mengelus dada. 

Sebagai korban perubahan jadwal dadakan, yang sebelumnya sudah rapi dengan katelpak jurusan itu, ia kini mendamparkan diri di teras rumah. Melanjutkan tidur terasa sayang karena tubuhnya sudah terlalu wangi. Alhasil, ia memilih melakukan pemanasan ringan daripada harus menjadi korban FTV pagi.

Dengan bibir komat-kamit menghitung gerakan, secara tak sengaja pandangan Tama menangkap sosok Airin yang berdiri menyandar pada pembatas balkon, sepertinya gadis itu tak menyadari keberadaan Tama di bawah sana, karena kedua matanya yang tertutup dengan senyuman terukir menghiasi wajah ayunya, seakan larut dalam semilir angin pagi.

"Makin aneh aja tuh cewe."

Mati-matian pria itu menahan bibirnya untuk tidak berteriak memanggil atau merecoki gadis di sana. Alhasil, dia hanya bisa menatap dalam diam, bahkan ia mulai melupakan hitungan gerakannya. Bukan hanya membungkam bibir, nyatanya ia pun menjelma menjadi pria uring-uringan dibeberapa waktu tertentu,  jika sudah memasuki tengah malam ia akan semakin menjadi-jadi, jatuhnya jadi seperti pria pengidap PMS akut. Hanya karena membuka-tutup atau mendelete deretan kata yang sudah ia ketikan pada kontak Airin, ditambah backsound galau yang memperparah suasana hati Tama.

Kembar Sial | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang