23. Bellatrixia

103 29 17
                                        

Sepertinya pilihan Tama kali ini benar-benar meleset, bukan karena ICT yang begitu sejuk dan membuat pria itu beberapa kali mengusap mata akibat rasa kantuk yang menyerang, walau sebenarnya ia hampir tertidur, jika saja ia tak mengindahkan bisikan-bisikan yang seakan menginterupsi dirinya untuk mencari tahu sumber objek perbincangan heboh para gadis di sampingnya.

"Iih, itu kating yang nyamperin si Ayu di kelas kemarin, kan?"
Gadis itu menuding sambil menepuk-nepuk meja, mata melirik ke sekeliling memastikan semua mendengar.

"Hah, mana, yang mana?"
Beberapa gadis lain ikut celingukan, menatap ke segala arah, sambil saling berbisik.

Itu obrolan biasa di kalangan junior, maba terutama. Semacam bagian dari penyesuaian diri dengan kampus—kata Tama. Siap atau tidak, kita akan bertemu hal-hal baru yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Sama seperti dirinya dulu, yang seakan terkejut dengan kehidupan di kampus; seolah selama ini ia tertinggal begitu banyak hal yang membuatnya terdengar seperti cowok katrok.

"Denger-denger, dia nyamperin Ayu buat nembak dia."
Gadis-gadis di sekitarnya menatap satu sama lain dengan mata membulat, mulut sedikit terbuka, jelas tak percaya dengan kabar yang baru saja terdengar.

"HAAH!"

Serentak terdengar seperti paduan suara, mengisi kelas dengan tawa dan celingukan penasaran.

Beberapa mahasiswa di sana merasa risih sekaligus terkejut, terlihat dari cara mereka menatap Tama—terutama gadis-gadis yang duduk semeja dengannya. Namun, berbeda dengan Tama yang masih berusaha mengusir kantuknya.

"Hah, nggak salah dia nembak Ayu? Si cewek nggak asyik yang sok misterius itu? Mendingan juga gue."
Dia mencondongkan badan sedikit, dagu terangkat, jari telunjuk menunjuk dramatis ke arah dirinya sendiri, jelas menunjukkan rasa percaya diri dan sedikit iri.

Ini bagian yang tidak Tama sukai. Seketika ia berpikir, mungkinkah dirinya juga sempat digosipkan? Tapi untuk hal apa? Ada alasan apa dirinya menjadi bahan gosip para gadis? Ah, kalau soal Juno sudah jelas. Sedangkan dirinya? Sudahlah, ia terlalu bodoh untuk hal seperti itu. Lagipula, apa yang bisa dibandingkan dengan dirinya—nilai pas-pasan, wajah biasa saja, kuliah hanya modal hadir, pecinta libur dadakan termasuk tanggal merah, hobi rebahan, dan suka mengganggu Airin. Ah, soal Airin... mending dilewatkan dulu dari pikirannya.

"Gue kira kak Bella pacarnya, mereka lebih keliatan serasi, sih. Ketimbang sama si Ayu."
Tama melirik sekilas ke arah salah satu gadis di pojok, hanya gerakan refleks karena terkejut.

"Lo kenal kak Bella?"
Gadis itu mencondongkan tubuh, mata berbinar-binar, jelas penasaran, membuat Tama tak sengaja mulai memasang telinga.

"Nggak kenal, sih. Cuma sekadar tahu aja." Nada suaranya pelan tapi masih terdengar oleh Tama.

"Foto dia ada banyak di dinding kamar sama kaca lemari kakak gue." Tama mengerutkan dahi, merasa hal itu agak menggelikan; dia hanya menyimpan foto Airin di ponsel dan laptop, bukan menempel di dinding kamar.

"Kok bisa?" Pertanyaan itu keluar dengan suara rendah, mata Tama menatap penasaran.

"Dia mantan pendamping kakak gue dulu waktu ospek." Gadis itu menjawab dengan tenang.

"Lo punya kakak di sini? Kok nggak bilang anjir."

"Ada, dia udah semester 5."

Tama memicing, bisa dipastikan kakak dari gadis itu satu angkatan dengannya. Kini, Tama jadi penasaran dengan sosok perempuan bernama Bella yang dimaksud. Banyak mahasiswi bernama Bella di kampus ini, bukan?

Kembar Sial | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang