"GIMANA?!" sambut Juno pada Tama yang baru saja membuka pintu kamar Agus.
"BRO... LO NGGAK AKAN PERCAYA!"
Dengan heboh, Tama menceritakan semuanya. Dari ajakan diskusi, reaksi Bella, sampai momen "Masuk grup Telegram"
Bahkan Agus sampai memeluk guling, "GILA LO BRO. GUE BANGGA!"
Tama duduk di lantai, wajahnya masih penuh euphoria. "Gue pikir dia bakal cuek, Gus. Tapi ternyata... dia dengerin. Dia seriusin. Gokil."
Agus mengangguk-angguk sok bijak. "Lo baru masuk tahap satu, bro. Tapi lo udah ninggalin jejak. Ini awal yang bagus."
Malam itu mereka ngeteh bersama, merayakan small win Tama yang pertama. Tapi Tama tahu, perjuangan baru dimulai. Bella memang sudah memberi celah, tapi hatinya masih sedingin freezer Alfamart. Dan Tama, si cowok ambisius tukang galau, tidak akan menyerah hingga es itu mencair.
***
Dari chat panitia, Tama resmi masuk divisi dokumentasi. Walaupun aslinya tidak benar-benar mengerti soal kamera, dia rela belajar dari YouTube semalaman.
Bukan untuk mendapatkan hasil bagus, tapi agar ada alasan sah untuk mengikuti Bella.
Misi pertamanya adalah memotret rapat internal panitia Dies Natalis. Yang berlokasi di ruang sidang fakultas. Setting-nya formal, tapi vibe-nya santai. Orang-orang duduk melingkar, dengan laptop dan notulen. Tama masuk dengan kamera mirrorless yang baru dia pinjam dari Juno pagi itu juga.
Dan di ujung ruangan, duduklah Bella, datar. fokus. Wajahnya sangat serius, seperti juri sidang skripsi. Rambut dikuncir satu, tangan sibuk mengetik, dan kadang-kadang matanya naik ke layar proyektor. Tama berdiri di pojok, pura-pura menyetting kamera.
"Wah, kurang cahaya nih," katanya pelan. Padahal lighting-nya cukup. Ini hanya alasan agar bisa mendekati Bella.
Dia mulai berjalan pelan, mencari angle, tapi sebenernya ingin mencari momentum. Kamera di tangan, jantung di tenggorokan. Saat dia melewati belakang kursi Bella, tiba-tiba gadis itu menoleh.
Sebenarnya Tama sedikit terkejut. "Hehe, lagi trial-error." Tama mesem, canggung tapi bahagia.
Bella kembali menatap ke depan. "Gak apa. Yang penting hasilnya gak blur semua."
Uhuk. tamparan halus.
Tapi Tama malah semakin semangat. Karena Bella membicarakan hasil fotonya—artinya Bella akan melihat hasil kerjanya. Dan ada peluang untuk impress. Setelah Bella memberi komentar halus "asal jangan blur semua," Tama segera fokus total. Maksudnya... fokus untuk tidak jatuh di depan Bella. Dia kembali ke pojok ruangan, pura-pura mengecek hasil foto. Padahal apa yang pria itu cek bukanlah komposisi atau lighting—melainkan ekspresi Bella.
"Hmm... ini agak blur, tapi cantiknya tetep dapet. Ini juga... senyum tipis tapi membunuh."
Tama tersenyum sendiri sembari memperhatikan layar LCD kamera. Hingga salah satu panitia menyela dari belakang. "Wih, Tama udah jatuh cinta sama hasil jepretannya sendiri nih?"
Tama loncat kecil karena terkejut, hampir melempar kamera. "Hah? Nggak, nggak! Ini lagi nge-zoom... eh, review hasil kerja doang..."
Orang-orang tertawa kecil. Bella pun menilik ke arahnya, dengan ekspresi netral—tapi mata seakan tengah menahan tawa.
GOL
BELLA NGEH
ADA REAKSI
Beberapa menit kemudian, penanggung jawab sie dokumentasi—Rizky—mengumpulkan anak-anak buahnya untuk briefing kecil. Tama pun ikut duduk bersama dua senior dan satu anak baru lainnya. Dan tentu saja... sejajar dengan duduk Bella di seberang sana. Pas sekali.
"Jadi nanti ada dua yang pegang kamera, dua yang ngatur lighting & data file," kata Rizky. "Lo ambil dokumentasi stage kanan ya. Tama, lo handle dari sisi audience." sambungnya pada Tama juga satu anak baru lainnya.
Setelah briefing bubar, Bella sempet berjalan ke arah Tama. Tanpa banyak bicra, dia menyodorikan flashdisk.
"Nih, nanti file mentahnya dikumpulin di sini. Ini flashdisk khusus milik kita, biar nggak kecampur sama data pribadi lo."
Tama memegang flashdisk itu bak benda suci. Tapi karena tangan pria itu terlalu berkeringet, flashdisk itu terjatuh dan mental ke atas kaki Bella.
Tok.
"Eh! Maaf! Gue... itu tangan gue basah dikit, bukan karena ngelihat lo ya, tapi karena AC-nya dingin..."
Bella berdeham pelan. "Iya, iya. Santai aja." Senyumnya tipis. Tapi itu tersenyum.
Sedang Tama ingin segera menulis di batu besar GUE DILIHATIN SAMA CINTA.
***
Malam itu, Tama tengah fokus mengedit beberapa foto, tapi semuanya kembali ke satu subjek yaitu Bella. Ada satu foto candid saat Bella menunduk sibuk menulis, di pojokan membentuk siluet halus di wajahnya. Tama memberi caption dalam hati; Candid paling estetik minggu ini.
Dia share satu set foto ke grup panitia, termasuk foto Bella.
Tak lama, Bella me-reply ; Yang ini bagus. Siapa yang motret?
Tama cepat-cepat menjawab. Gue.
Bella hanya me-react menggunakan emoticon jempol. Jempol dari gadis itu adalah validasi hidup.
Pria itu langsung membuka chat pribadinya, nekat sedikit.
Kalau lo butuh foto khusus buat keperluan konten atau feed pribadi... bilang aja ya, gue siap
Wah, jadi fotografer pribadi dong?
Iya, asal lo juga siap jadi model pribadi
Tama menahan napas. Ditepuk nyali sendiri. Tapi jawaban Bella datang 2 menit kemudian.
Kamu ini ya
Jangan ditanya bagaimana Tama, Jantungnya seakan hendak melompat dari tulang rusuk.
Malam itu Tama tak bisa tidur. Dia terus mengulang-ulang chat terakhir Bella yang seakan menjelma bak mantra. Cakka yang tak sengaja mengintip sang kakak dari ambang pintu pun menyengir.
"Kak, lo nyengir mulu. Serem tau."
Tama abai, ia tersenyum sambil menatap langit-langit kamar. Sibuk dengan pikirannya sendiri. Membuat Cakka bergidik ngeri lantas pergi.
Gue gak tau ini beneran atau delusi. Tapi kayaknya... Bella gak sebeku itu lagi.
Dan untuk pertama kalinya sejak semester ini mulai, Tama merasa, dia bukan lagi junior yang invisible, dia adalah laki-laki berkamera yang mulai masuk frame di kehidupan Bella.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembar Sial | END
RomanceTiga serantai yang bersahabat sejak duduk di bangku SMA, lebih tepatnya sejak ketiganya terlambat dihari yang sama, mendapat point dan hukuman yang sama dari polisi sekolah, bermasalah dalam hal asmara. Dan sama-sama menjadi target cinta monyet, Bam...
