18. Bella

109 35 11
                                        

Tama yang terpaksa menaiki tangga menuju lantai 5, karena lift yang tak kunjung sepi pengguna, terhenti sejenak di lantai 4, kala mendapati Juno yang tampak berjalan keluar kelas dengan lesu.

Membuat Tama menyimpan lembaran tugasnya rapi-rapi, masa bodoh dengan tugas yang hampir semalaman ia kerjakan. Melihat kawannya murung, membuat hasrat TA mendorongnya berbelok ke lain arah mengekori Juno, Hah, lagu kuno.

"Jun." Sembari mengapit ranselnya di dada, Tama berlari kecil menghampiri pria bergigi kelinci yang bahkan tak menghentikan langkahnya.

Pria itu menoleh singkat, enggan menyahuti panggilan Tama. Ia mendaratkan tubuhnya pada salah satu bangku tunggu. Menengadahkan kepala dengan napas panjang.

"Kenapa lo?" Tama memposisikan dirinya di bangku seberang.

Tak segera menjawab, Juno memejamkan mata dan sekali lagi menarik napas panjang.

"Gue mesti ngulang satu mata kuliah-Lagi."

Alis Tama terangkat, lagi? Memangnya ada berapa banyak mata kuliah yang bermasalah? Tapi, ia tak heran karena Juno memang terlihat seperti hantu kampus yang selalu Tama temui di setiap sudut gedung, kapanpun.

Tama merubah posisi yang semula mencondongkan tubuhnya, kini bersandar pada punggung bangku dengan satu tangan yang ia sampirkan pada sandaran bangku kosong di sampingnya.

"Kalo udah kesatu, kedua, ketiga, kenapa masih harus kesekian kalinya?"

"Hah, biasalah, cowok keren emang banyak cobaannya," ujar Juno sembari menggulung makalahnya.

Tama mencebik, hilang sudah rasa simpatinya. Ia merutuki tindakan menyimpan lembaran tugasnya di dalam tas. Lebih baik, ia duduk di dalam kelas.

Riuh gemuruh di dalam perut Tama terdengar hingga menggetarkan gendang telinga Juno, hanya saja pria itu tak peduli, ia masih terlalu larut dalam afeksinya.

Berbeda dengan Tama yang segera sadar bahwa ia tak sempat menyapa sarapan paginya. Tama melirik arloji yang menunjukkan bahwa hari semakin siang.

"Jun, lo mau temenin gue makan?" Tama menilik ke arah Juno yang masih diam memainkan gulungan makalahnya.

"Sorry Tam, bukan nggak mau, cuma gue lagi krisis uang!"

Tama tahu itu, semua fasilitas Juno sedang dalam pengawasan orangtuanya, dampak dari beberapa mata kuliah yang harus Juno manja.

"Udah, gue yang traktir."

"Banyak duit lo?"

"Nggak juga, ayo!" Ujar Tama sembari menyenggol kaki Juno yang memang menjulur sejajar dengan kakinya.

Lagi-lagi Juno tak segera memberi jawaban, pria itu tampak terdiam dengan wajah menimang ajakan Tama.

"Eh, tapi makannya di kantin deket fakultas FEB ya," Juno yang tadinya lesu tiba-tiba berdiri penuh semangat, meninggalkan Tama yang masih duduk manis di tempatnya. Tama hanya bisa melongo melihat perubahan suasana hati Juno yang begitu cepat.

Kenapa harus di gedung sebelah? Bahkan kantin di gedung mereka hanya tinggal turun satu lantai, dan lebih murah. Tetapi, pertanyaan itu hanya sebatas tanda tanya yang tergambar di atas kepalanya. Setelah satu objek terlintas di kepala Tama. Samar-samar, senyuman terbit di wajah pria itu, "oke."

Seperti biasa, keduanya langsung memesan nasi uduk—menu yang entah sejak kapan menjadi favorit mereka. Semua itu bermula dari Agus, yang terlalu sering memesannya hingga akhirnya jadi kebiasaan.

karena jika dipikir-pikir sebenarnya nasi uduk tak masuk daftar kriteria makanan yang mereka sukai. Terutama Agus yang anti dengan nasi beragam lauk. Semua karena keadaan, terlalu seringnya mereka bersama membuat hal itu menjadi sebuah kebiasaan.

Kembar Sial | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang