Detik jam terus berlalu, namun nalar Tama tentang Bella tak begitu. Beberapa kali ia masih membuka tutup roomchat mereka, tampaknya bukan hanya gadis itu Tama pun sempat melirik nama Airin dan terjerumus pada lubang kesalahan yang ia gali sendiri. Alhasil, ia berakhir menggalau sembari merutuki kebodohannya setelah membaca ulang histori chat keduanya.
Lagi-lagi ia menyalahkan semesta yang selalu memberinya takdir buruk, seakan tak ada kesempatan untuknya merasakan kebahagiaan. Sebuah tanda tanya besar menghadang di depan mata, perihal apa kesalahan terparahnya hingga ia terus dipermainkan oleh semesta.Jujur saja, ia masih merasa sakit juga kecewa atas pernikahan sepupu dan juga gadis impiannya itu.
Tetapi hal yang semakin menyiksa pria malang itu adalah perasaan Tama yang seakan tak ingin pergi, rasa cinta dan ketergantungan itu melekat terlalu dalam. Walau ia yakin semua hanya tentang waktu, jika waktu itu telah tiba ia akan tersadar bahwa dirinya telah membuang-buang waktu dengan percuma. Ia hanya butuh bersabar dalam prosesnya, meskipun itu terlihat mustahil bagi seorang Tama dengan kesabaran setipis tisu dibagi dua dan mudah tantrum ketika suasana hatinya memburuk.
Ayolah Tam, lo hanya butuh membuka diri dan melihat berapa luasnya dunia lo
Seketika ia menjadi bersemangat ketika memikirkan gadis-gadis yang akan datang mengisi hari-harinya, estimasinya mulai berkelana menciptakan skenario epic versi imajinasi Tama yang anti-mainstream, tapi dari sekian banyak sketsa yang ia gambar dalam delusinya, wajah Bellalah yang tergambar begitu nyata. Isi kepalanya jadi berisik dipenuhi nama gadis itu, membuat Tama semakin mengurut dada untuk sekadar memejamkan mata. Ia mulai tertarik dengan kepribadian Bella. Mungkin tidak ada salahnya jika ia mencoba untuk membuka lebaran baru bersama Bella yang bisa jadi adalah takdir Tama sebagai pengganti Airin yang telah mengkhianatinya. Terlalu percaya diri.
Bellatrixia
Bermodal rangkaian kata itu, ia mulai berselancar menjelajahi beberapa sosial media, pria itu meghempas tubuhnya kala sama sekali tak mendapati akun yang ia minta, sebagai generasi milenial mustahil jika gadis itu tak bermain sosial media di era modern kini.
"Nih anak pake nama apaan sih?" Sungut Tama sembari terus berusaha mencari tahu.
Jari-jemari Tama yang ia ketukan pada ujung ranjang menciptakan keriuhan berirama, sedang otaknya tengah berputar-putar mencoba mendapatkan petunjuk.
"Raymon," pekiknya sembari menjentikkan jari. Namun, raut wajah pria itu kembali datar mengingat ia tak berteman dengan seniornya juga mantan kakak kelasnya itu. Dengan modal coba-coba ia mengetikkan nama 'Raymon' dan berhasil, Tama tersenyum sumringah, ia membuka salah satu foto dan peek a boo keberuntungan tengah berpihak padanya, ia mendapati sosok Bella di sana, tengah berdiri di antara Raymon dan Wena juga pria yang sering ia lihat bersama gadis jutek itu, dan beberapa orang lainnya.
Tama jadi penasaran sedekat apa Raymon juga pria itu dengan Bella, pasalnya setelah ia scroll banyak foto kebersamaan mereka terutama pria tinggi yang baru Tama ketahui namanya adalah 'Jin'—setelah membuka tag.
Tapi, masa bodoh dengan hal itu, karena tujuan Tama adalah menemukan akun Bella yang sayangnya terkunci, bahkan ia tak percaya melihat jumlah akun yang Bella ikuti lebih sedikit ketimbang pengikutnya. Dan sepertinya gadis itu bahkan tak pernah memposting apapun di sana.
Akan sangat sulit jika Tama yang mengambil inisiatif untuk mengikutinya dulu, mengingat Bella tampak tak menaruh minat padanya, yang ada di kepala Tama saat ini ia harus mencari cara agar Bella yang lebih dulu mengikutinya di IG. Gadis itu benar-benar misterius.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembar Sial | END
RomanceTiga serantai yang bersahabat sejak duduk di bangku SMA, lebih tepatnya sejak ketiganya terlambat dihari yang sama, mendapat point dan hukuman yang sama dari polisi sekolah, bermasalah dalam hal asmara. Dan sama-sama menjadi target cinta monyet, Bam...
