25. Delusi malam hari

67 28 22
                                        

Lantunan lagu menanti sebuah jawaban milik bang fadly berdawai memenuhi ruang minimalis yang temaram. Si tuan tampak diam mematung menikmati syair yang menggambarkan suasana hati, Netra sayu menatap hampa langit-langit kamar. Hanya ada kenapa dan mengapa yang mengelilingi isi kepala. Semua kalimat interogatif tertuju pada Rayyan, ia merasa hidupnya penuh ketidakadilan.

Kenapa sih, semua hal yang ada dalam hidup gue, harus ada sangkut pautnya sama dia?

Baginya Rayyan terlalu rakus, selalu mengambil bagian atas skenario hidup yang ia perankan dari segala arah.

Emang dia kurang apa sih? Masih nggak puas udah punya wajah ganteng, otak encer, cucu kebanggan? Kenapa dia masih terlibat dalam urusan pribadi gue?

Ya, Airin contohnya, dan yang membuatnya tak habis pikir ketika mengetahui Wena adalah tetangga sepupu tampannya itu. Dia menganggap segala aspek kehidupannya berlabel Rayyan.

Nggak mungkin kan, masalah kerjaan atau jodoh juga bakal ada di bawah naungan dia.

Tama menggeleng, membuang jauh-jauh kemungkinan yang ada, ia harus lebih berusaha lagi untuk tidak terlibat dengan rivalnya itu dalam segala aspek yang belum terjamah oleh Rayyan.

Yang ada dia bisa besar kepala, dan mereka bakal anggep gue nggak ada apa-apanya kalo bukan karena Rayyan, hiish, nggak boleh-nggak boleh terjadi- Ia tengah mengangkat bendera perang kali ini.

Tama bangkit dari posisi bersandarnya, ia melirik jam dinding yang menunjukkan tengah malam, jika overthinking sudah mengendalikan dirinya, dapat dipastikan ia tak akan tidur malam ini. Kini bola matanya bergerak ke arah jendela, bohong jika ia tak memikirkan tetangga cantiknya di seberang sana. Perlahan ia bangkit, lantas menyingkap tirai yang menyelimuti jendela mungilnya. Gelap, itulah yang pertama kali Tama dapati tatkala matanya menatap ke arah kamar Airin di lantai atas. Mungkin gadis itu sudah terlelap, atau dia sedang marathon Drakor. Ia jadi teringat malam-malam sebelumnya, atau bisa dikatakan sebelum hubungan mereka merenggang.

Tama kembali memutar ingatan, jika dipikir-pikir saat itu dirinya memang terlihat kekanak-kanakan, bukankah seharusnya dia mendengarkan penjelasan Airin, Bukti nyata kini dirinya begitu ingin tahu perihal apa yang akan gadis itu sampaikan, apa alasan dia bersama Rayyan saat itu. Dasar Tama bodoh, ia justru bagaikan seorang pria yang memergoki kekasihnya berselingkuh, Aish, ayolah Tam, mendrama sekali dirimu. Tanpa sadar pria itu memukul-pukul kepalanya. Bego, bego, bego Lo Tam, batinnya menyalahkan dirinya sendiri. Siapa pun tahu jika diantara mereka tak ada hubungan spesial yang mengikat keduanya. Kini dia terlihat seperti anak kecil yang tengah merajuk karena tak kebagian bola. Konyol memang.

Masalahnya di sini, Tama bukanlah siapa-siapa Airin, perlu penegasan ulang, mereka bukan sepasang kekasih, ia menyesal karena telah bersikap tak semestinya. Astaga, pasti gadis itu menganggapnya aneh, bagaimana jika Airin sengaja menjaga jarak dengannya? Bagaimana jika Airin semakin tak menyukainya? Bagaimana jika gadis itu tak memberikannya kesempatan dan menjatuhkan pilihannya pada Rayyan? Lalu, jika itu terjadi apa yang harus ia lakukan setelah itu? Bagaimana dia bisa menerima realita bahwa dia harus merelakan Airin menjadi milik Rayyan? Apa yang harus ia lakukan jika keduanya berdiri di pelaminan? Hei, Tam kurangi kecepatan melajumu, sepertinya kamu berpikir terlalu jauh.

"Mikir apaan sih gue?" Tama menggaruk kepalanya yang tak gatal, berusaha keluar dari negative thinkingnya.

"Airin tuh bakal nikah sama gue, kita bakal happy ending dan bahkan punya 5 anak." Tegasnya pada diri sendiri. Itulah Tama yang sedang dalam mode berimajinasi.

Padahal jika hubungan keduanya baik-baik saja mungkin mereka saat ini tengah melakukan sleepcall, yang berujung mengamati paras ayu Airin yang tengah tertidur atau sekadar mendengar dengkuran lembut dari sambungan video. Tama merindukan itu, jangankan bertukar pesan saat ini untuk bertemu pun sangat sulit, memang sedingin itu hubungan keduanya. Jujur Tama merindukan masa-masa dimana ia akan membelokkan laju sepeda motornya ke depan pintu gerbang Airin sepulang dari kampus, sebelum memutuskan untuk pulang ke rumahnya sendiri. Menghilangkan penat setelah seharian meguras otak-katanya. Tunggu, tidak mungkin kan saat ini Airin tengah melakukan sleepcall dengan pria lain, Tama panik, ia kembali mengamati jendela kamar gadis itu, tiba-tiba hatinya memanas memikirkan hal itu, sepertinya otak Tama mulai butuh istirahat.

Selalu seperti ini, ia seakan terjebak dalam keadaan yang sama dan dengan perasaan yang sama, disetiap hubungan mereka bermasalah. Selalu dengan Airin yang tak pernah berusaha menanyakan kabarnya, seakan memang tak peduli, juga dengan perasaan pria itu. Dan selalu Tama yang berpikir dengan begitu keras, definisi cinta bertepuk sebelah tangan. Lagi-lagi pria itu menyatakan bahwa semesta memang kejam padanya. Entah seberapa lama lagi ia harus bersabar dengan keadaan, berapa hari tanpa senyuman yang akan ia lewati untuk menemukan keajaiban, berapa purnama yang harus ia lewati untuk dapat melihat dan bertemu dengan Airin, seakan untuk menoleh ke arah gadis itu benar-benar butuh effort lebih. Yang Tama yakini saat ini, tak ada gelap yang abadi. Walau terjaga dalam malam lagi, cie-ilah, Tama sedang menghibur diri sendiri.

Sampai waktu itu tiba, semoga dia masih tetap di sana.

Tama meraih ponsel yang tergeletak di atas meja belajar, membuka galeri foto miliknya yang terpampang deretan gambar Airin, ia mengamatinya satu persatu, bibir itu tersungging kala mendapati senyuman Airin pada salah satu foto. Hingga jari-jemari itu terus menggulir setiap slide dan menunjukkan sebuah potret nama Bella yang sengaja ia ambil siang tadi.

Sejenak Tama terdiam, mengingat wajah dingin gadis itu ketika berbicara dengannya. Jika dipikir-pikir, memang apa yang membuat ia tertarik pada Bella? Atau kalimat tanya itu bisa di ubah seperti ini, sejak kapan ia tertarik pada si empunya nama? 

Ya, gadis pemegang tahta tertinggi sebagai orang tercuek yang pernah ia temui. Ini bukan hanya sekadar paras ayu, atau rasa penasarannya yang tinggi pada kepribadian Bella, hanya saja setiap ia melihat wajah gadis itu ada sesuatu yang membuat dirinya yakin jika pertemuan mereka bukan hanya sekadar ketidaksengajaan. 

"Enggak, enggak. Gue yakin banget kalo dia jodoh gue."

Halah, Tama. Memang selalu pintar membuat lelucon untuk menghibur diri, menangkis kenyataan bahwa memang dia lemah terhadap gadis cantik. Anggap saja itu hanya tema pria yang tengah berbaring melebarkan imajinasi. Bahkan ada deretan kata mencengangkan yang melintas di kepala Tama. 

"Kira-kira kalo gue poligami nggak salah kan? Gue jadiin Airin istri pertama dan Bella istri kedua gue, eh nggak, kebalik. Bisa aja Airin cerai sama suaminya jadi gue jadiin dia istri kedua gue."

Sudahlah untuk malam ini, biar dia dengan judul dan isi karangan fiksinya. Sepertinya dia perlu meringankan isi otaknya, untuk bisa berpikir normal kembali. Walau ini bukan kali pertama ia terobsesi dengan perempuan, hanya saja ada hal aneh yang membuatnya kembali tersenyum ketika mengingat Bella yang notabenenya tidak pernah memperlakukan Tama dengan begitu spesial, oh ayolah Tam belajar dari pengalaman, tidak mungkinkan dirimu menaruh hati dengan begitu sembarangan, karena jika tak terbalas Bella pasti akan ia anggap penjahat hatinya, dasar Tama yang tak kenyang dengan kisah cintanya dengan Airin.
Mungkin memang malam sudah terlalu larut, hingga membuat isi kepala Tama berantakan.

Sepertinya Tama sedang menuju ke arah melanggar janjinya sendiri untuk tidak menaruh hati pada gadis lain selain Airin. Semoga keajaiban segera mengingatkan Tama, karena jika hal itu terjadi akan muncul masalah baru dalam hidupnya, dan ia akan kembali overthinking lantas menyalahkan segalanya jika pada akhirnya ia patah hati. Kesalahan terbesar yang selalu terjadi pada Tama dengan siklus berulang terletak pada kebodohannya sendiri.

Kembar Sial | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang