Langkah kaki itu bergerak santai menuruni anak tangga, dengan satu tangan menahan backpack di punggung kanannya, dan satu lagi bersembunyi di balik kantong celana. Hampir sampai di belokan tangga kedua, pria dengan hoodie putih itu mengerem mendadak, netranya beradu dengan manik hitam milik Sana yang tersenyum simpul ke arahnya.
"Ah, kebetulan ketemu lo di sini." Sana menyodorkan tas kain berukuran sedang yang berisi kotak makan transparan. Meski hatinya masih terguncang oleh kejadian satu minggu lalu, rupanya gadis itu menolak menyerah begitu saja. Dengan langkah mantap, ia mencoba menarik perhatian Tama.
Tama melirik sesaat, "apaan nih?" Alis Tama terangkat, dengan wajah kebingungan.
"Itu bento, tapi gue nggak pakai daging atau ayam, semoga aja lo bisa makan ikan gorengnya," ujar Sana sembari memindahkan tas kain itu ke tangan Tama.
"Ah, nggak masalah kok, gue nggak ada alergi. By the way, makasih banyak ya San. lo jadi repot-repot gini." Tama menggaruk tengkuknya yang bahkan tak terasa gatal, dalam sekejap perhatian pria itu bergeser pada sosok gadis berkemeja krem dan rambut legam panjang terurainya, tengah mengantre lift 20 langkah dari punggung Sana.
"Sekali lagi makasih ya, San. Gue permisi dulu." Tama menuruni anak tangga dengan langkah tunggang-langgang, berharap lift di sana tak segera terbuka. Sana menatap punggung Tama dengan mata sendu, hati tak puas karena harapannya tak terwujud—tak ada momen jalan bareng pria yang ia taksir. Kekecewaan itu diam-diam menyesakkan dadanya, tapi ia tetap berdiri di sana, menelan rasa itu dengan senyum tipis yang tak sampai ke matanya.
Rupanya Tama bernasib baik hari ini, ia berdeham mencoba mengalihkan perhatian gadis mungil di sampingnya, Tak kunjung mendapat respons, dirinya menyodorkan tas kain dari Sana ke hadapan Bella, dan berhasil, hal tersebut membuat Bella menilik pandang menatap skeptis pria ber-headband itu.
"Buat lo, siapa tahu lo belum makan siang."
Gadis itu tampak mengamati sekitar, sebelum kembali menatap lurus ke arah pintu lift, mengabaikan Tama.
"Gue yakin, lo nggak bakal sia-siain maka—"
Denting lift berbunyi, seakan ingin kabur dari terkaman harimau di sampingnya, Bella berjalan melewati Tama begitu saja memasuki lift. Jangan pikir pria seribu akal itu akan diam saja, nyatanya ia rela mengikuti Bella dan kembali naik ke lantai lima demi mencuri kesempatan untuk bisa mengobrol dengan gadis dingin itu.
Dan di saat itulah ia baru sadar jika sosok Jino berdiri tepat di samping Bella. Entah kenapa ia jadi merasa geram dengan pria maskulin itu, jika ada yang bisa melihat bagaimana jantung Tama mencak-mencak di dalam sana. Ingin rasanya melempar pria tinggi itu ke danau di depan gedung perkuliahan.
Namun, tiba-tiba suara gemuruh di bawah sana menarik atensi Tama yang berusaha menahan tawa. Pria itu sempat menatap Bella yang kikuk sembari menutup perut dengan tas slempangnya. "Kata emak gue, menolak rejeki it—"
Bella menatap jengah, sebelum akhirnya menyahut tas kain pemberian Tama tanpa angkat bicara, bukan hanya karena ia lapar atau merasa canggung, tetapi dia mulai segan dan terusik.
"Sama-sama," senyum Tama terpatri. Sedang Bella hanya merotasi bola mata malas, sama sekali tak mengindahkan ucapan Tama.
"Siang ini, langitnya cerah banget ya?" Ujar Tama berusaha mencari topik pembicaraan walau sebenarnya langit tampak berawan kelabu. Bella meliriknya sekilas tanpa minat.
"Tapi aneh ya, sedikit dingin, anginnya bikin semriwing gitu," sindir Tama yang merujuk pada air muka gadis di sampingnya.
Menghela napas, gadis itu mati-matian berusaha untuk bungkam dan menahan frustasi yang siap ia muntahkan. Baru beberapa hari yang lalu ia mengatakan untuk tidak berurusan lagi dengan Tama, nyatanya alien itu berdiri di sampingnya dengan senyum kotak yang unik—mungkin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembar Sial | END
RomanceTiga serantai yang bersahabat sejak duduk di bangku SMA, lebih tepatnya sejak ketiganya terlambat dihari yang sama, mendapat point dan hukuman yang sama dari polisi sekolah, bermasalah dalam hal asmara. Dan sama-sama menjadi target cinta monyet, Bam...
