Tama termenung di tengah suasana riuh kediamannya, gelak-tawa, basa-basi ringan hilang dari pendengaran, entah kemana nada rintik hujan yang begitu anggun dan membuatnya candu, kini sungguh begitu menyakitkan, memecahkan segala kekuatan yang meyakinkan Tama selama ini, seakan menimbulkan sebuah kubangan dalam yang akan membekas. Mungkin ia akan membenci hujan setelah ini.
Tama mengerjap, mengatur napas yang sesak, mencairkan sendinya yang beku, berusaha bangkit dari keterkejutannya. Namun, Tama tak sanggup, ada sesuatu yang patah dari dalam dirinya, sungguh perasaannya begitu terombang-ambing, setelah mendapati secarik kertas dengan amplop silver yang tampak cantik nan elegan, tergeletak di atas meja.
Tama merutuki hujan yang tak kunjung reda dan semakin memborbardir suasana hatinya, ingin rasanya ia berteriak lantang bahwa dirinya terluka, tapi untuk apa? Tak akan ada yang mengerti, tak akan ada yang peduli, bahkan dua insan yang namanya terukir memenuhi sisi depan amplop itupun tengah berbahagia menyiapkan segalanya. Tanpa memikirkan perasaannya sedikit pun.
Kenapa? Kenapa dia harus bertahan dengan ketidakpastian, oh, ayolah Tam, sekali pun dirimu tidak pernah mendengar ungkapan bahwa Airin menyukaimu. Entah senyumanmu, sikapmu, leluconmu, gayamu atau apapun itu. Terlambat, tentu saja, Tama sudah terlanjur menjatuhkan diri dengan terjun bebas pada perasaan yang tak berujung. Hanya membuatnya terempas-empas tanpa menyentuh dasar. Hujan lebat dan gemuruh halilintar di luar sana seakan menggambarkan apa yang Tama rasakan saat ini.
Di antara tawa bahagia, Tama berdiri seorang diri terpaku meratapi kesialannya. Entah kemana ia akan berlari, Tama berharap jika ia masih bermimpi, ini hanya mimpi buruknya karena tidur di jam mata kuliah. Ia harap dirinya segera bangun, apapun yang terjadi setelah bangun nanti ia tak akan membuang kesempatan dan segera menemui Airin.
"Tam, Tama."
Tama tersadar setelah mendapati tepukan kencang pada bahunya, lucu sekali, di saat ia menginginkan keajaiban selalu datang ketidakmungkinan, kini ia benar-benar yakin jika Tama sudah tak dapat menggapai apa yang ia yakini.
"Iya, kenapa?" Tama mengangkat alisnya setengah hati, menoleh sebentar ke arah Rayyan tapi matanya segera mengalir ke lain arah.
"Gue minta tolong sama lo, buat jadi groomsmen gue, ya?" Rayyan tersenyum tipis, satu tangan masuk ke saku celananya, Pandangannya tenang, menatap Tama dengan tatapan hangat yang nyaman.
Itu artinya, Tama harus berdiri mendampingi mempelai sepanjang acara berlangsung? Lucu sekali. Tentu saja Tama ingin menolak, tapi apalah daya bibirnya terlanjur membeku.
Belum sempat memberi respons, Rayyan kembali menepuk bahunya dengan pelan beberapa kali, "Tampil yang cakep, seragamnya udah gue kasih ke nyokap lo."
Tama menatap datar punggung sepupunya yang menjauh, sungguh ia tak Sudi melakukannya, berdiri berdampingan sepanjang acara sama saja membunuh diri sendiri. Oh, tidak, Tama harus memutar otak.
Kali ini ia benar-benar butuh seseorang untuk bersandar, tanpa memperdulikan sekitar yang tengah ber-euphoria, pria itu meninggalkan rumah dan memilih mendamparkan diri di rumah Agus yang notabenenya memang hanya berbeda gang.
Namun, sedari kedatangan Tama hingga waktu 20 menit berlalu, hanya hening di antara Tama juga Agus. Tak ada yang ingin memulai pembicaraan, Tama masih meratapi kesenduanya dan Agus dengan kebingungannya harus bagaimana memulai obrolan. Hanya detak jam yang mengisi ruangan, Agus mengetuk-ketuk ujung jari pada lututnya yang ia lipat, sembari sesekali melirik ke arah Tama yang sama sekali tidak bergerak.
Tak sabar Agus pun menarik napas, "sebenernya lo kenapa sih? Dateng-dateng aneh banget, kayak orang abis kejatuhan jenglot." Asal Agus.
Tama menarik napas, setelah 20 menit baru kali ini ia bergerak merubah posisi, "dari tadi kek nanya gitu, nggak peka banget lo jadi temen."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembar Sial | END
Storie d'amoreTiga serantai yang bersahabat sejak duduk di bangku SMA, lebih tepatnya sejak ketiganya terlambat dihari yang sama, mendapat point dan hukuman yang sama dari polisi sekolah, bermasalah dalam hal asmara. Dan sama-sama menjadi target cinta monyet, Bam...
