"Maksud lo apa sih nganggurin gue di lobi?"
TUT...
Tama memutus panggilan sepihak, hampir saja ia melupakan Bella, Tama tersadar jika dirinya belum sempat mengganti baju. Ah, masa bodoh ia pun tak berminat memakainya, sejenak Tama memperhatikan kemeja dalam genggamannya. Lega, apa yang terjadi sebelumnya memang semestinya terjadi, mulai detik ini ia pastikan tak akan berlarut dalam kesedihan, menganggap semuanya baik-baik saja mustahil memang tapi Tama yakin membuatnya asing sangatlah mudah. Akan ia pastikan, untuk menjauhkan Airin dari dunianya sejauh mungkin, karena dalam cerita Tama tetap Airin penjahatnya, anggap saja sabar tama selama ini telah menjelma menjadi sadar, selesai sudah.
Tama menghempas kemeja itu ke atas kursi, sengaja meninggalkannya di sana, ia tak ingin membohongi dirinya sendiri, bahwasanya ia tak bisa menerima kebahagiaan Rayyan dan Airin. Jadi, untuk apa ia memakai kemeja seragam miliknya, sungguh tak sesuai isi hati. Tama buru-buru menghampiri Bella yang mungkin sudah memasang wajah monsternya, dan sesuai tebakan gadis itu tengah bersedekap dada dengan alis hampir menyatu, tatapan dingin dan tajam itu seketika melumpuhkan keberanian Tama.
Menggaruk kepala, Tama tersenyum kotak menunjukkan sederet giginya, siapa tahu bisa menular pada gadis di hadapannya, "sorry ya gu—"
"Maksud lo apa?" Bella mendorong kuat tubuh pria tinggi itu hingga terhuyung ke belakang, ia tak peduli ada berapa pasang mata yang melihat, sepertinya gadis itu benar-benar marah, "Udah gue bukan tamu undangan, gue juga gatau di dalem tuh acara pernikahan siapa, lo malah ninggalin gue nggak jelas kayak gini."
"Tenang, tenang, gue bakal jelasin, gue sama sekali nggak ada maksud ninggalin lo."
"Lo bilang ganti ba—"
"Ssttt, udah-udah lo pasti laper kan, yok makan di dalem, lo abisin semua kalo perlu," serobot Tama sembari mendorong pelan tubuh mungil Bella, sedang gadis itu hanya mengerjap beberapa kali dengan langkah kikuk.
sial, baru saja mereka menginjak ujung karpet merah yang terbentang dari pintu masuk, emosi yang sebelumnya telah berkurang kini kembali menjalari tubuh Tama dengan begitu cepat dan hebatnya, tanpa sadar tangan yang masih bersandar pada bahu Bella itu mencengkeram kuat sontak membuat gadis itu mengerutkan kening, Bella menatap bergantian ke arah bahu juga pria tinggi di sampingnya.
Sadar akan tatapan itu, Tama menyingkirkan tangannya dari bahu Bella lantas menggiring gadis itu ke meja prasmanan, "lo makan gih, biar nggak marah-marah muluk," ujar Tama sembari menaik-turunkan alisnya.
Bella menatap sejenak deretan menu pada meja, "gue nggak laper."
Tama mengernyit, "eh jangan gitu, gue tau gue salah, tapi kan—" berhenti, ia menatap Bella yang masih tanpa ekspresi, "oke gue bakal jelasin, tapi nggak di sini." Tepat setelah kalimat terakhir Tama membalik badan lantas berjalan ke arah pintu keluar, namun tubuhnya terhenti ketika seseorang menahan lengannya.
Tama menatap pelik pada Bella yang justru menyeretnya ke arah meja dessert, "gue pengen makan yang ringan-ringan aja," tunjuknya pada salah satu dessert box.
Masih dilanda elusifnya, tama mengangguk mengiyakan, memang perempuan susah ditebak. Tetapi, ia juga merasa aman gadis itu mungkin sudah tak merajuk lagi padanya, mengingat begitu kuat emosinya beberapa waktu yang lalu. Tama jadi bisa merangkai kata untuk ia sampaikan pada gadis yang tengah menikmati dessert box dengan lahap itu, entah kenapa jadi terlihat imut, tanpa sadar membuat sudut bibir Tama terangkat.
"Bel, itu," tunjuk Tama pada sudut bibirnya sendiri sebagai isyarat.
"Belepotan ya?" buru-buru gadis itu, merogoh isi tasnya, dan mengeluarkan sapu tangannya untuk membersihkan sisa kue di mulutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembar Sial | END
RomanceTiga serantai yang bersahabat sejak duduk di bangku SMA, lebih tepatnya sejak ketiganya terlambat dihari yang sama, mendapat point dan hukuman yang sama dari polisi sekolah, bermasalah dalam hal asmara. Dan sama-sama menjadi target cinta monyet, Bam...
