"Bell, kira-kira, gue masuk dalam kriteria pasangan ideal lo, nggak?"
Apa Tama terlalu banyak bertanya? Tapi rasa penasaran itu sangat membakar pikiran dan hatinya, jari-jemarinya berantuk-antuk di atas paha, satu kakinya bergerak cemas, menunggu jawaban gadis yang masih diam itu.
Mengendikkan bahu, "emang apa yang lo tau tentang ideal?"
Memangnya apa lagi jika bukan standar yang dianggap sempurna? Pertanyaan Bella adalah sebuah tamparan untuknya, bahkan dia jauh dari kata sempurna, pria ideal apalagi. Bagaimana bisa dirinya seceroboh itu.
"Nggak ada yang sempurna di dunia ini, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan," ulas Bella sembari menatap pantulan dirinya dari kaca tembus pandang itu.
"Bicara tentang ideal ya, semua orang punyalah pasti, tapi bagi gue itu menyulitkan kita untuk mencari pasangan. Ideal nggak harus bicara tentang fisik." Imbuhnya yang kini menatap Tama lekat.
"Kalo konteksnya tentang kriteria dalam hubungan yang gue mau sih, yang pasti jujur dan transparan dalam hubungan, kesetiaan, komunikasi yang baik dan efektif, kemandirian, kedewasaan ketika mengatasi masalah, kecerdasan, punya keseimbangan antara pekerjaan, hubungan dan kegiatan lain."
Tama menghela napas, semua yang Bella sebutkan merujuk pada hubungan yang sempurna, tapi dunia tempat banyaknya kekhilafan, kan?
Gadis itu mengetuk meja pelan dengan ujung telunjuknya. "Tapi, pada akhirnya ideal itu subjektif, point terpentingnya di sini adalah menemukan pasangan yang sesuai dengan nilai-nilai diri kita."
Kali ini Tama setuju, nilai diri sangat penting bak kompas yang membantu kita menavigasi hidup dengan cara yang lebih baik. Bukan hanya senyuman gadis itu yang membuatnya candu, tapi tutur kata, pola pikirnya membuat Tama mulai terobsesi. Selamatkan Tama sebelum jatuh begitu saja.
***
Jendela kamar Agus terbuka dengan kasar hingga menimbulkan suara karena terbentur dinding, membuat Agus yang tengah tidur terperanjat. Dengan mata memicing dan tubuh yang masih sedikit kaku dalam keadaan tidak fokus serta setengah sadar, ia terduduk, menatap Tama yang tengah berusaha memanjat jendela kamarnya. Astaga, teman tidak manusiawinya itu memang suka membuat gebrakan.
Kini giliran Tama yang terhentak, karena pria yang tadi ia dapati tengah tidur telungkup kini telah duduk bersila, menatapnya dingin tapi juga lucu. Lihatlah wajahnya yang berantakan seperti kucing baru bangun tidur.
"Lo apa-apaan sih Tam, ganggu tidur gue aja." ucapnya masih dalam proses membangunkan diri dengan suara serak khas bangun tidurnya.
Tama menilik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 9 malam, "tumben-tumbenan lo tidur jam segini," Bukan jam normal Agus untuk tidur malam terlebih ini malam minggu. Detik berikutnya ia kembali memposisikan diri sepertinya hendak melanjutkan tidur.
"Eh, lo kok malah tidur lagi." Tama menarik-narik bantal pria itu sebagai bentuk protes.
Dengan mata terpejam Agus menepak keras tangan Tama dengan gerakan cepat. "Berisik banget lo, gue abis ikut dua seminar tadi capek, lagian lo dateng-dateng udah kayak rampok."
Tama bergerak menjauh, duduk melantai di dekat ranjang. "Heh, gue terpaksa ya cosplay jadi rampok, gegara bel rumah lo nggak fungsi, bahkan dari tadi gue ketuk-ketuk pintu nggak ada sahutan, gataunya bobokir lo." cerocos Tama setelah mendengar komentar spontan pria pucat di sana. Namun, Agus berlagak tuli, tak minat menyimak pekikan Tama, ia justru kembali melanjutkan tidur yang sebelumnya terganggu.
"Rumah lo sepi amat, pada tidur apa begimana?" Pasalnya rumah temannya itu biasanya masih terpantau ramai oleh bapak-bapak yang bermain catur dengan ayah Agus, atau bahkan ibunya yang masih anteng menonton sinetron.
"Lo kalo mau ngerampok, ngerampok aja sana, tapi skip kamar orangtua gue." ujar Agus asal sembari mengibas-ngibas tangannya memberi isyarat agar Tama menjauh dan tidak mengganggu tidurnya.
"Ck, cus mabar, rank gue turun kemarin abis dipakek main sama Cakka." eluhnya sembari mengutak-atik game di ponselnya.
"Ah elah Tam, Tam, lo nggak bisa banget liat temen ayem tentrem, yaudah ayo." Sungut Agus sembari berusaha bangun dari tempat tidurnya. Hanya push rank yang tidak bisa ia lewatkan.
"Lo darimana, rapi amat wangi lagi? Biasanya lo ke sini cuma pakek boxer doang, mana bau ketek," ucap Agus setelah menenggak air putihnya di nakas.
"Sekata-kata lo, gue abis wakuncar." ujar Tama sembari melempar senyum tengilnya. "Emang lo reklamasi muluk." sindirnya, Agus memang selalu menghabiskan waktunya untuk tidur dan membangun pulau impian di bantalnya.
"Kampret," pria itu melayangkan gulingnya ke arah Tama. "Gegayaan lo, emang siapa pacar lo, si Sana?"
"Hah, ngapain?" wajahnya di buat terkejut sedemikian rupa ke arah Agus yang mengambil posisi telungkup di atas ranjang menghadap padanya.
"Lah, gue kira sama Sana, soalnya Juno bilang lo abis kasih dia hadiah."
Tama mencebik, dasar cicak buntung biang gosip alias bigos.
"Fitnah itu fitnah."
Agus menoyor kepala Tama seakan tak terima dengan bantahan pria di bawahnya. "Ya, gue mana tau kampret, orang Juno yang bilang." Kesalnya.
"Lagian lo percaya-percaya amat ama bigos." ujar Tama ngotot.
"Au ah gelap, jadi main kagak ini?"
"Yaudah buru. Eh, tapi bentar," Tama menoleh, "lo nggak ada amunisi nih, kopi kek camilan gitu? Mikir nih masalahnya."
Kembali pria pucat itu menoyor kepala Tama. "Lo wakuncar ngapain njir, makan angin lo keliling kota, masih minta-minta." Cerocosnya sembari bangkit dari ranjang. "Bikin kopi sana di dapur, sekalian gue ya." Agus mengambil sebuah kotak di atas lemari pakaiannya.
"Dih," Tama mencebik, "tapi gue buka pintu ada orang rumah nggak nih?" ujar Tama yang mulai berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati pintu.
"Nggak mereka keluar kota, lagian lo kayak lagi di rumah presiden aja, nggak inget lo lompat jendela tadi."
"Yaelah, sensi amat lo. Apaan tuh," Tama mengintip tulisan pada tutup kardus. "Ecie, dari Wena, cie."
"Lo bikin apa pulang?" ujarnya dengan intonasi tegas.
Sontak Tama mengangkat telapak tangan memberi hormat."Siap Ndan." Pria itu bergegas membuka pintu dan menghilang dari pandangan Agus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembar Sial | END
RomanceTiga serantai yang bersahabat sejak duduk di bangku SMA, lebih tepatnya sejak ketiganya terlambat dihari yang sama, mendapat point dan hukuman yang sama dari polisi sekolah, bermasalah dalam hal asmara. Dan sama-sama menjadi target cinta monyet, Bam...
