Setelah momen 'kamu ini ya' yang sudah menjadi wallpaper batin Tama, harinya berubah cerah. Matahari lebih hangat. Angin lebih syahdu. Bahkan nasi warteg rasanya seperti nasi Jepang. Dan hari itu, notifikasi masuk ke ponsel Tama.
Tam, bisa ke ruang humas? Gue mau ngobrol dikit soal konsep aftermovie lo ya.
Tama segera bangun dari duduknya seperti bangun dari kemiskinan.
"GILAAA, JUN. DIA NGAJAK GUE NGOBROL BERDUA!"
Juno yang hendak menyuap nasi kuningnya hanya menoleh malas, "Tam, jangan norak. Tapi juga jangan ngaret. Kalo lo dateng telat, cinta lo tamat."
Tama segera menyahut jaketnya menatap pantulan dirinya dari freezer minuman, kemeja kotak-kotak yang sudah disetrika dua kali, celana jeans anti-luntur, dan sepatu putih yang sudah agak tidak putih.
Ruang humas sepi. Hanya ada satu meja meeting panjang, dua kursi, dan kipas angin yang bunyinya seperti suara motor yang rantainya tersangkut, juga Bella yang duduk di kursi dekat jendela, tanpa earbuds yang menempel di telinga. Datanglah Tama dengan senyum menahan grogi.
"Sorry, nunggu ya?"
Gadis itu menoleh. "Baru dua menit."
Tama menarik kursi, duduk sejajar. Tapi tidak sejajar mental. Bella membuka laptop, mulai menunjukkan moodboard yang dia lihat di reels IG semalam.
"Gue mikir kalo tone visualnya bisa kaya gini. Ambience yang hangat tapi tetap dinamis. Yang penting nggak norak. Pasti bagus, lo bisa kan?"
Tama mengangguk, pura-pura mengerti.
Padahal di otaknya sedang meributkan hal lain. Anjir, dia cakep banget hari ini. Fokus, Tam FOKUS!"
Bella terus berbicara sembari menunjukkan referensi yang ia cari di pinterest. Sedang Tama hanya diam menyimak lebih tepatnya setengah menyimak, setengah menghafal nada suara gadis itu.
"Lo udah kepikiran storyline, Tam?"
Tama reflek jawab, "gue kepikiran kita bisa pake narasi suara\ gitu. Kayak—misalnya—'Dalam hidup, kadang kita gak sadar, bahwa momen kecil bisa jadi besar.' Terus footage-nya masuk satu-satu."
Bella terdiam. Lantas melirik Tama.
"Ee..." Tama panik. "Gitu gak sih? Garing ya? Gue bisa bikin ulang kok, bisa. Jangan dipecat ya."
Gadis itu tertawa kecil.
"Nggak segitunya juga kali. Tapi lumayan ada niatnya."
DUAR. Ketawa kecil itu loh. Ngerti nggak? Ketawa. Dari Bella.
Setelah mengobrol soal konsep, mereka mulai cek footage di laptop Tama. Karena volume-nya kecil, Bella menyarankan untuk disambung ke speaker kecil. Dan di sinilah Tama kembali menunjukkan dirinya sebagai Raja Bodoh Kampus. Bagaimana tidak, ketika hendak mencolokkan kabel audio ke laptop, dia salah lubang. Bukan, bukan dalam artian lain. Tapi serius—dia justru mencolokkan kabel ke port charger, tapi malah ngeyel jika speaker Bella bermasalah karena tidak kunjung bersuara.
Bella menahan tawa. "Tam, itu bukan colokan audio."
Sedang laki-laki itu hanya menyengir kuda. "I-Iya, maaf. Biasanya, biasanya laptop gue beda sistem. Hehe."
"Emang laptop lo dari planet mana?"
Tama terbahak. "Planet galau."
Senyum lebar terpancar dari wajah Bella. "Wah, warga lokal juga berarti."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembar Sial | END
RomansaTiga serantai yang bersahabat sejak duduk di bangku SMA, lebih tepatnya sejak ketiganya terlambat dihari yang sama, mendapat point dan hukuman yang sama dari polisi sekolah, bermasalah dalam hal asmara. Dan sama-sama menjadi target cinta monyet, Bam...
