"Parah sih, gue sampe baca doa macem-macem waktu itu, doa mau makan, doa mau tidur segala gue baca."
Di sinilah Afridial Tama Wibowo terdampar. Ia tengah mendongengkan insiden epiknya selama menjalankan LKP—Latihan Kepemimpinan—fakultasnya, bermodal argumen receh: ketinggalan kunci, agar bisa berlama-lama di rumah Airin, tetangga cantik seberang rumahnya.
Padahal sebenarnya, sang ibu sudah pulang dari arisan sejak setengah jam yang lalu. Tentu saja Tama tahu hal itu, sebab sang ibu mengirimkan pesan dan bahkan melakukan panggilan yang sengaja ia abaikan.
"Kaget gue, tiba-tiba si Agus cosplay jadi komodo gitu. Untung ilernya nggak beracun," lanjut Tama sembari mencamil keripik singkong milik Agus yang berhasil ia rampas.
Airin hanya mengangguk-angguk, tak begitu mengindahkan curhatan Tama. Ia tengah sibuk dengan dunianya sendiri di dalam ponsel. Selain sebagai tetangga cantik, unik, dan penuh sensasi itu, ia juga bisa disebut sebagai black box-nya Tama. Airin tahu segalanya tentang Tama—lebih dari yang Juno dan Agus ketahui.
Tak terkecuali siapa saja teman Tama, barisan gebetan Tama, bahkan siapa saja yang pernah menolak pria itu mentah-mentah. Bahkan jam kencing tengah malam Tama pun ia tahu. Itu semua karena Tama tidak bisa menjaga mulut di hadapannya. Ya, semuanya, seluruh privasinya. Namun, berbanding terbalik dengan dirinya, sedekat apa pun mereka, tak banyak yang Tama ketahui tentang Airin. Dan ia tidak menyadari itu.
Tak ada sahutan lain selain deheman dan anggukan dari Airin. Membuat Tama kesal dan merebut ponsel Airin begitu saja. "Lo lagi chatting-an ama siapa sih, sampe nggak nyimak gue?"
Sang pemilik ponsel pun langsung bangkit dari duduknya.
"Ck, apaan sih Tam? Balikin! Gue masih baca Wattpad," seru Airin, turun dari sofa dan berusaha merebut ponselnya kembali. Walau ia tahu, hal itu percuma, karena tubuh Tama yang jauh lebih tinggi darinya.
"Nggak bakalan. Dengerin ya, gue ngeluarin peraturan baru. Selagi lo sama gue, dilarang pegang ponsel." Ucapnya sembari menunjuk wajah Airin dengan ponsel yang ia genggam.
Airin mengerutkan kening. "Enak aja lo. Biar apa coba? Sini!" Hampir saja ia berhasil meraih ponselnya, namun kalah cepat dari gerakan mundur Tama.
"Ya, biar lo fokusnya ke gue lah," celetuk Tama, sembari melipat tangan di depan dada.
Hening sejenak. Bukan karena memproses seruan Tama, gadis itu justru terbahak setelah mencoba menahan tawa. Sedangkan kerutan pada kening Airin kini berpindah ke wajah Tama.
"Ngapa lo? Stres?"
"Gue—"
Ucapan Airin terjeda dengan tawanya sendiri, bahkan tubuhnya ambruk ke atas sofa, mengipas-ngipas wajahnya yang memanas. Gadis itu berdehem, mencoba menghentikan tawa, menilik Tama yang masih berdiri di ujung sofa dengan tatapan heran.
"Bwahahahahahahaha!"
Gagal. Gadis itu kembali tergelak, semakin membuat Tama dongkol.
"Ketawa deh lo sampe besok, sampe keriput kalau bisa," sungut Tama, yang kini memilih mengantongi ponsel Airin. Sepertinya pria itu serius dengan permintaannya. Tapi sekali lagi, siapa Tama yang berhak mengontrol seorang Airin Kanya Vandana?
"Gini loh Tam, gue miris ama lo. Segitunya butuh perhatian," jelas Airin sembari mengubah posisi duduk, kini menghadap Tama yang duduk bersila di bawahnya.
Pria itu mengangkat satu alisnya. "Gue nggak butuh dikasihani. Gue butuh saran."
"Saran apa lagi sih? Gue juga udah sering kasih lo kritik pedes. Terus lo mau yang kayak gimana? Yang lebih pedes? Gue nggak bisa, harga cabe lagi naik."
"Mau yang kayak lo."
Melihat Airin memasang wajah serius, Tama jadi sedikit menciut.
"Gue butuh penyemangat hidup, Iriiiin. Hidup gue tuh hampa, gitu. Gue juga pingin kayak Juno, ada yang bangunin tiap pagi, ngucapin selamat tidur, have a nice dream ke gue. Lo tau sendiri gue apes mulu kalo cari cewe, kan? Gue nih kurang apa sih sebenarnya? Ganteng?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembar Sial | END
RomansaTiga serantai yang bersahabat sejak duduk di bangku SMA, lebih tepatnya sejak ketiganya terlambat dihari yang sama, mendapat point dan hukuman yang sama dari polisi sekolah, bermasalah dalam hal asmara. Dan sama-sama menjadi target cinta monyet, Bam...
