24. Dunia yang kejam

78 28 26
                                        

Jika dipikir-pikir bukankah ia pergi ke ICT untuk menghindari perintilan-perintilan yang diyakini membawa pengaruh buruk baginya, menghindari kesialan maksudnya, tapi justru ia bertemu dengan Agus, Bella ataupun Riana dalam satu waktu. Ia menarik ucapannya beberapa waktu yang lalu. Senyuman di wajah Tama terus terukir bahkan terbawa hingga ke rumah. Membuat sang ibu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh putra sulungnya yang sedari datang hingga kurang lebih lima belas menit hanya berbaring di sofa menatap langit-langit rumah, dengan sunggingan bibir yang lama-lama justru membuat Tanti bergidik ngeri. Tak tahu saja jika Tama sedikit gila hanya karena kertas berisi nama Bella, bahkan jika diamati bukan hanya nama gadis itu yang terpampang ada banyak deretan nama yang tak penting bagi Tama.

"Tam, kamu nggak lagi meriang, kan?"

Pria itu hanya menggeleng, tanpa megalihkan pandangannya.

"Dehidrasi kali ya, atau laper? Tadikan kamu nggak sempet sarapan, main nyelonong aja sampe botol minum kamu ketinggalan."

Tama tetap membantah tebakan sang ibu dengan gelengan kepala yang membuat sang ibu semakin.

"Tam jangan gitu, ih. Mama takut liatnya, kamu nggak abis kena gendam kan?"
tama menoleh ke arah sang ibu dengan kening berlipat.

 "Lah, suudzon mulu." Kini giliran Tama yang dibuat bingung dengan pertanyaan sang ibu.

"Mama tuh takut liat muka lo kayak penywise  gitu," sahut Cakka yang tiba-tiba datang menimbrung sembari melahap kue buatan Tanti.

"Yaelah, darimana juga datengnya nih bocil, merusak suasana aja." gumam Tama sembari beranjak setelah mendapati Cakka duduk tak jauh darinya. Melihat mulut sang adik penuh dengan kue, ia teringat akan Agus. Tama mengurungkan niatnya dan kembali duduk sembari mengutak-atik ponsel.

"Halo, gue udah di rumah, nih."

"Lah, cepet banget, gue baru mau tidur."

"Hehe, iya, kuliah gue libur. Buruan deh ke sini."

"Okelah, OTW."

"Yo- elah, kampret nih anak," umpat Tama ketika Agus memutus panggilannya sepihak.

Tama menyesuaikan posisi duduknya, menarik napas panjang sejenak, pura-pura santai, meski sadar Cakka masih mengamati setiap gerak-geriknya. Cakka, dengan kue di kedua tangan, sesekali melahapnya sambil matanya tidak lepas dari Tama. Untuk menghindari percikan api di antara mereka, Tama lebih memilih memainkan ponselnya, scroll sebentar, sesekali menatap ke arah Cakka, yang seakan sedang mencoba membaca "kode rahasia" dari ekspresi wajah Tama.

"Tam, anter ini ke rumah Rayyan ya, tadi dia telfon kalo nggak bisa mampir, soalnya pulang malem." Sambil berkata begitu, sang ibu meletakkankotak itu dengan hati-hati di atas meja makan, matanya menoleh ke Tama seakan memastikan pesannya tersampaikan.

"Yaudah besok aja dia suruh ambil," sewot Tama yang masih sibuk dengan dunianya.

"Ngawur, lagian mama udah janji sama budemu mau antar kuenya sore ini."

"Yaudah anda yang antar kan anda yang bersedia."

Adegan itu terjadi secepat kilat, seolah sang ibu mendekatinya dengan gerak seperti ninja.

Sepasang telinga Tama mendadak panas karena cubitan sang ibu. "Aduh, duh, duh, Ma! Sakit, sakit, telinga Tama bisa bolong, Ma!" eluhnya panik, namun seruan itu sama sekali tak diindahkan. 

Justru, wanita itu malah semakin mengencangkan cubitannya. "Nih, biar lepas sekalian."

Terdengar suara Cakka tertawa lepas, menikmati adegan di depannya. Tama hanya melirik sekilas dengan mata tajam seperti elang, alisnya sedikit mengernyit, sambil matanya menelusuri sekitar, mencari sesuatu yang bisa ia lempar ke arah Cakka.

Kembar Sial | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang