35. Atensi Fana

37 14 0
                                        


"Tam, Tam."

Pria itu sama sekali tak mengindahkan panggilan Bella, bahkan ia semakin mengeratkan genggaman kala gadis itu berusaha memberontak.

"Tam, tangan gue sakit." sontak ia melepas cengkeramannya tanpa mengutarakan sepatah katapun, ia terus menarik langkah membelakangi Bella yang bertambah ganjil dibuatnya. 

Ayolah, Bella bahkan tak tahu-menahu atas apa yang Tama rasakan, pria itu menghentikan langkah kakinya, membalik badan lalu berjalan mendekat. Tanpa ba-bi-bu, Tama menggapai tubuh gadis yang masih sibuk mengusap telapak tangannya yang memanas lantas membawanya ke dalam pelukan Tama.

Sejenak hanya keheningan dan kenyamanan yang menyelimuti keduanya, mantik mereka terlalu sibuk menginterpretasikan setiap kejadian yang telah mereka alami. Lebih-lebih Tama, entah dari mana keberanian memeluk Bella itu ia dapatkan. Apakah itu sebuah bentuk refleksi dari guncangan emosinya, atau ia memang membutuhkan dekapan, atau bisa dibilang mencuri kesempatan dalam kesempitan. Namun, selama gadis itu tak menendangnya biarkan ia merasakan ketenangan ini sebentar saja. Tetapi, Bella tetaplah Bella, gadis itu mendorong tubuh Tama segera sebelum kelancangan lain terjadi. 

"Sorry," sendu Tama, raut wajah itu bukan semu daya yang dibuat-buat, netranya menunduk layu, bibirnya bergetar, pelupuk matanya memerah dengan rahang mengeras. "Gue minta maaf, gue udah maksa lo datang ke sini, tapi gue sama sekali nggak ada maksud buat ninggalin lo tadi, cuman—" Tama menghela napas sesaat, "—cuman ada sesuatu yang harus gue selesein, mungkin ini nggak penting buat lo." Tama tersenyum kecut. "Sebenernya itu pernikahan sepupu gue, cucu pertama di keluarga besar gue." Tama kembali menatap Bella yang masih diam menyimak, seolah mempelajari setiap gestur dan menyelami air muka pria itu, "dan gue janji bakal ngelurusin kesalah pahaman nyokap gue. Gue bakal jelasin kalau hubungan kita hanya sebatas junior dan senior di kampus." Tak mendapati respons dari Bella, pria itu kembali berujar. "Mau gue anterin pulang sekarang?"

***

Di sepanjang perjalanan keduanya fokus pada proposisi masing-masing, terutama Tama yang mulai merasa segan kepada Bella, entah apa yang telah merasuki Tama hingga ia benar-benar tak bisa mengontrol emosi. Entahlah apa yang ada dalam pikiran Bella tentangnya setelah ini, ia merasa ikhlas jika harus dianggap pedofil, pria mesum, atau badboy cap kadal buntung, barangkali. Sepertinya kesempatan Tama untuk mendekatI Bella bahkan sirna dalam sekejap mata.

"Tam."

"Hah, iya? Lo manggil gue?" Tama sedikit memiringkan kepalanya memastikan jika Bella memang memanggilnya.

"Iya." ucap Bella sedikit berteriak.

"Kenapa?" balas Tama dengan berteriak juga.

"Gue mau nanya, tapi Sorry, kalau pertanyaan gue agak sensitif."

"Hah, senin-kamis? Apanya?"

Gadis itu mencebik, "sensitif Tam," teriak Bella lebih keras.

"Oh, sorry, sorry, kena angin nggak begitu denger jadinya."

"Jadi boleh nanya nggak nih gue?"

Tama mengangguk, sembari sedikit menoleh ke arah Bella.

"Kenapa lo keliatan nggak suka di acara pernikahan sodara lo tadi?" kini Bella sedikit mencondongkan wajahnya sebatas leher Tama.

Tama kembali meluruskan posisi duduknya, "Nggak pa-pa, cuma capek aja."

"Terus kenapa lo nggak jadi ganti baju? Lo juga nggak bawa baju itu lagi."

"Gue lupa naro. Sumpah tadi gue bingung banget dimana toiletnya saking gedenya itu hotel, gue cuma muter-muter doang di selasar." alibi Tama berusaha menukar topik pembicaraan. Masa bodoh gadis itu mempercayainya atau tidak. "Oh, iya, lo tau nggak dimana tempat jual kue yang tadi?"

"Maksud lo, dessert box?"

Tama mengangguk sembari menatap Bella dari kaca spion.

"Bukannya lo tau tempat jual macaroon, kenapa lo bisa gatau tempat jual dessert box?"

"Itu gue kebetulan beli di toko langganan emak gue, karyawannya bilang itu menu baru, gue suka karena bentuk sama warnanya unik, ngomong-ngomong lo suka?"

"Suka apa?"

"Macaroonnya lah masak gue." kekeh Tama, sedang Bella hanya mengangguk-angguk. "Jadi gimana lo suka macaroonnya apa gue?" goda Tama. Sayang, gadis itu hanya melempar tatapan datar tak berminat menanggapi guyonan asal Tama. Tak terasa obrolan kecil itu mengiringi perjalanan mereka yang kini telah sampai di depan rumah Bella.

"Emm, Bel, makasih ya udah mau bantu gue."

Bella yang baru saja melepas helm itupun terdiam, keningnya mengernyit, "bantu apaan?"

Bola mata Tama bergerak ke sana-kemari merasa sedikit canggung, "maksudnya, udah nemenin gue." kekeh Tama.

Bella hanya merespons pria itu dengan anggukan kepala.

"Lo nggak marah kan sama gue?"

"Apaan sih, pertanyaan lo kayak anak kecil, udah mending lo pulang, jangan buang-buang waktu gue." celoteh Bella yang mulai kembali ke setelan pabrik.

Yes, lega rasanya ketika tak mendengar ataupun mendapati wajah garang dari gadis itu. "Berarti kapan-kapan mau dong jajan macaroon atau setbox itu bareng?" celetuk Tama sembari menaik-turunkan alisnya.

"Dessert box Tam." koreksi Bella dengan tatapan enggan.

"Iya itu maksudnya, mau ya." paksa Tama.

"Gue sibuk nggak ada waktu." sarkas Bella.

"Yaudah kalo gitu gue yang beli, makannya di rumah lo."

Bella hanya menatap Tama datar, sebelum akhirnya mengusir pria itu agar segera menyingkir. "Mendingan lo pulang sekarang. Sebelum gue bener-bener nggak mau ngeliat lo lagi."

Tama mengangkat telapak tangannya setinggi pelipis, "siap komandan," segera Tama menyalakan motor maticnya. "Gue anggap jawabannya iya."

Bukannya menjawab gadis itu justru meninggalkan Tama begitu saja. Tama pun tak gentar ia berteriak akan mengiriminya pesan ketika akan datang berkunjung, percaya diri sekali dia jika Bella akan membukakan pintu. Tama membawa laju motornya dengan berselimut euforia. Bagaikan zat pemabuk, rasanya gadis itu membuatnya semakin candu, mungkin kali ini Tama harus sedikit egois dan lebih gila lagi untuk mendapatkan Bella, tidak harus berlari, jalan kakipun bukan berarti tak sampai 'kan? Dasar Tama, bukannya belajar dari masa lalu, justru ia semakin menjadi-jadi dengan afinitasnya. Sepertinya Tama sudah sedia tameng yang begitu kuat kalau-kalau ia terhempas sewaktu-waktu. Atau mungkin seharusnya ia belajar teknik kuntilanak; susah senang tetap tertawa.

Andai mendekati perempuan bisa ditebak endingnya, mungkin tidak akan ada lembar baru dalam catatan kesialan yang begitu miris baginya, hanya sampai pada level tragis namun tidak membuatnya trauma. Dikatakan lelah, tentu saja, berjalan mengikuti Bella hampir setengah hari, belum lagi harus berhadapan dengan dua mempelai sompret itu benar-benar menguras energinya, Tama memperhatikan keadaan rumah yang begitu lengang, sudah bisa dipastikan semua keluarganya masih berpesta-ria di hotel megah itu. Tama tak peduli, ia menyandarkan tubuhnya pada sofa, membuka ponsel yang sedari tadi terus berdering sepanjang perjalanan. 

Cara balas dendam terbaik bukanlah dengan mencari pasangan baru.

kendalikan diri lo sendiri, bentuk hukuman tertinggi adalah diam. 

Cari kedamaian dengan diri lo sendiri, mungkin kenyataannya lo susah melepaskan, tapi lihat seberapa jauh seseorang melangkah menjauhi lo, jangan membuat diri lo menderita tanpa alasan, lepaskan. 

Tama tercengang setelah membaca pesan panjang dari Bella, bagaimana bisa gadis 1000 pintu itu dapat dengan mudah menebak isi hatinya, apa dia cenayang, seberapa jauh Bella membaca isi pikirannya? Ini tidak bisa dibiarkan ia harus menemui gadis itu besok. Bella benar-benar mengalihkan dunia Tama dalam sekejap. Ia menggigit bibirnya, rasanya ribuan bunga telah tumbuh di hatinya, sepeduli itukah Bella padanya? Benarkah, ada seorang wanita yang peduli padanya? 

Kembar Sial | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang