Keheningan menyeruak, bukan hanya di dalam kamar Tama, tetapi juga di dalam kepala pria itu. Untuk pertama kalinya, ia merasa takut dengan dirinya sendiri. Ia takut retakan yang berusaha diperbaikinya kembali menjadi kepingan. Itu sangat menyakitkan. Jujur saja, Tama tak ingin merasakannya lagi—terlalu menguras energi. Cukup dengan patah hati yang dibuat oleh Airin; dia bahkan hampir kehilangan beberapa keping retakan hatinya. Bisa dikatakan, Bellalah yang berhasil membantunya menemukan kepingan terakhir itu dan mengembalikannya kepada Tama.Tama telah menghabiskan semua cintanya untuk Airin. Namun pilihannya untuk mencintai Bella pun adalah sebuah kekalahan telak, yang sudah terlihat akhirnya sebelum itu dimulai. Tapi namanya juga Tama, masih saja melanjutkannya memuaskan rasa penasaran dan egonya yang semakin menjerumuskannya pada jurang kesakitan. Ia sempat berpikir mengapa ia harus mempunyai perasaan jika hanya untuk merasakan kekecewaan, dua wanita yang datang dan semua menoreh luka dalam, bahkan luka yang masih menganga itu semakin terkelupas dalam.
Tama juga ingin merasakan euforia masa-masa pendekatan, pacaran seperti orang lain, tetapi mengapa ia selalu dihadapkan oleh kisah fana. Seakan-akan ia memang tak diperbolehkan secuil saja menyentuh cinta. Ia merasa hidupnya sangat tidak berguna, membahagiakan orangtuanya saja tidak, dirinya masih payah sangat payah dalam hal apapun, jika dibandingkan dengan Rayyan, ia memang tak ada apa-apanya. Jangankan sepupunya itu dibandingkan dengan Agus atau Juno pun ia tak berarti, Agus adalah murid dengan IQ di atas rata-rata, sedang Juno terlahir dari keluarga kaya dan memiliki wajah tampan walau otaknya minim, sedang dirinya? Ia tak mempunyai apapun, otak pas-pasan, wajah biasa saja, rajin jika sedang sakit hati. Sedangkan dirinya dihadapkan dengan dua wanita high value, kau berharap apa Tam? Dia melakukannya lagi, mengulang hal yang sama untuk melompat ke muara yang sama pula.
Umumnya, siklus orang lain dalam menjalin hubungan adalah pendekatan, bertukar pesan, pacaran, lamaran, tunangan, dan menikah. Ya, setidaknya jika tidak sampai pada titik komitmen selamanya, biasanya berhenti di tahap pacaran. Sedangkan Tama, paling tinggi hanya sampai di fase bertukar pesan, lalu menjadi asing. Awalnya, ia besar kepala soal hal itu karena merasa dapat bersilih-ganti lawan jenis seperti Juno. Namun, lambat laun, dirinya sendiri yang kelelahan, dan berujung miris dengan dua gadis yang benar-benar menjadi impiannya.
"Masa iya sih, gue bakal sebatang kara seumur hidup," resah Tama, kini ia melihat cinta bagai medan perang.
'Fokus karir Tam, bahagiain dulu orangtua lo, minimal lo bisa beli rumah gedong lah buat mereka, cinta-cintaan ntar aja'
Tama mengangguk pelan, mendengar sanubarinya. Beginilah Tama jika sedang menjiwai emosi roller coaster: beberapa menit yang lalu tenggelam dalam kesedihan, beberapa detik berikutnya bangkit dengan penuh semangat, dan selanjutnya jatuh lagi sejatuh-jatuhnya.
"Hidup gue gini amat ya, kek lagi berenang di sungai amazon."
Tama membaringkan tubuh di atas ranjang. Ia menoleh ke arah ponselnya yang hening sejak semalam—tidak seperti biasanya; setidaknya biasanya ada chat random dari grup SMA-nya atau chat dosen di grup kelas.
"Bella ngapain ya?" gumamnya ketika membuka room chat Bella. Tama memang selalu mencari gara-gara untuk dirinya sendiri. "Sekali-kali kek dia yang ngechat duluan, ngajak ribut kek apa gitu, gue bingung cari topik mana dia slow respons." Bukan hanya merespons lambat, bahkan gadis itu mengabaikan pesan Tama berhari-hari walau sudah membacanya.
"Apa gue culik aja ya nih anak?"
Dan detik berikutnya terdengar bunyi dering memanggil.
"Apa?"
"Eh, diangkat toh, gue kira nggak, hehe."
"Yaudah gue matiin nih."
"Eh, eh, jangan dong, gue butuh naik turun gunung berjuta kali dulu nih buat nelfon lo, masa main matiin gitu aja."
Hening...
"Em, gue culik mau nggak?"
Masih tak ada jawaban dari Bella, ajakan garing Tama terbawa angin begitu saja.
"Apaan sih lo nggak jelas."
TUT, dan telepon berakhir.
Bukannya mengangkat tangan, pria itu justru menggigit bibir karena pikiran liciknya. Hanya dengan menyisir rambut dan mengenakan jaket denim yang tergantung di balik pintu kamar, tak lupa memasukkan ponsel ke dalam saku jaket dan menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh, ia bergegas ke rumah Bella. Ayolah, Tama ini bagaikan menangkap ikan di air keruh. Namun, rasa tak sabar untuk bertemu gadis itu mengalahkan akal sehatnya. Sepanjang perjalanan, ia mengulum senyum, menangkis kuat-kuat segala kemungkinan yang menimbulkan ironi. Tak ada yang bisa menghalau Tama ketika keberanian bak singa itu keluar, kecuali fakta lapangan.
Dengan api semangat, pria itu menekan bel rumah. Pada bunyi bel yang kelima, pintu baru terbuka, menampilkan sosok pria setinggi pohon kelapa yang menatapnya bingung—begitu juga Tama yang melongo. Keadaan sunyi beberapa detik, sebelum akhirnya suara burung gagak dalam benak Tama menghilang.
"Em, selamat siang, saya temennya Bella, dia ada?" ucapnya dengan hati-hati.
"Temennya yang mana? kok gue baru tau lo." selidik pria itu.
"Kebetulan kalo gitu, saya juga belum pernah tau Mas, saya Tama," ucapnya sembari mengulurkan tangan, "masnya siapa ya?"
Pria itu menjabat tangan Tama. "Gue, Chandra, lo temen kuliah, temen forum atau komunitas mana?" Bukan, bukan nama pria itu yang Tama ingin dengar. Namun, fakta baru yang Tama tahu ternyata Bella seaktif itu.
"Temen kuliah, Mas sendiri siapanya Bella?" terkadang kita harus menjadi bodoh untuk mengetahui sesuatu.
"Gue kakaknya, jangan formal-formal lah, santai aja. Oh ya, lo anak BEM atau SENAT juga?"
Fakta kedua yang Tama dapat, Bella memiliki kakak yang doyan ngomong, sangat berbanding terbalik dengan adiknya.
"Oh, bukan. Gue cuma adik tingkatnya aja." Sebenarnya Tama sangat ingin mengakhiri sesi interogasi ini, setidaknya dipersilahkan masuk untuk mencicipi sofa itu dulu sebelum bertanya kesana-kemari.
"Oh, lo ke sini mau minta bimbingan TOEFL ya, kemarin ada beberapa anak juga sih ke sini privat buat TOEFL ada tiga cowok kalau nggak salah waktu itu."
Tama menggeleng, "bukan, gue emang udah ada janji aja sebelumnya sama dia." alibi Tama.
"Oh gitu, yaudah lo masuk dulu gih gue panggilin anaknya."
Ia mengangguk dengan senyum paksa. Detik berikutnya, raut wajahnya berubah masam. Ini bukan tentang Chandra, tetapi penjelasan terakhir Chandra masih berdenging di otaknya. Siapa tiga pria itu, apa maksud dan tujuan mereka sebenarnya, dan ada kemungkinan mereka bertukar pesan dengan Bella—sudah sejauh mana hubungan mereka berempat sekarang? Belum lagi ternyata Bella mengikuti banyak forum dan komunitas, yang sudah pasti membuat banyak lawan jenis mengenalnya. Astaga, ada berapa "kerajaan" yang harus ia runtuhkan untuk memenangkan hati putri itu.
"Lo kenapa ada di sini?" suara Bella memecah kebisingan nalarnya.
Tama terbelalak, jiwa raganya seakan terhenti sejenak. "Ee, gue..." di saat seperti ini bisa-bisanya ia lupa dengan tujuan awalnya. "Gue mau ngajak lo jajan, di toko kue biasanya." cengir Tama.
"Sorry, bukan nolak tapi ganti hari aj—"
"Udah nggak usah sok sibuk kayak tawon, lagian nggak sampe sehari dua hari kita di sana, kita nggak kemah cuma makan nongkrong, pokoknya nggak bakal ganggu waktu lo, paling cuma nyita bentar aja. Ya, ya, ya, please, gue udah bilang kan gue butuh naik-turun gunung berjuta kal—"
"Udah-udah diem lo, tunggu bentar gue ganti baju dulu."
Tama tersenyum lebar dengan tangan mengepal ke udara, "Yes."
Mission complete.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembar Sial | END
RomanceTiga serantai yang bersahabat sejak duduk di bangku SMA, lebih tepatnya sejak ketiganya terlambat dihari yang sama, mendapat point dan hukuman yang sama dari polisi sekolah, bermasalah dalam hal asmara. Dan sama-sama menjadi target cinta monyet, Bam...
