"TAMA."
Afridial Tama Wibowo meringis, pekikan sang ibu menghantam telinganya hingga terasa nyaris memecahkan gendang telinga.
"Iya," sahut Tama dengan suara pelan.
"TAAAM."
"Iya bentar." Jawabnya dengan sedikit keras.
"TAMAAA."
"Yaelah, apaan?" Tama yang tengah merapikan harta karunnya di atas meja belajar dengan terburu-buru itu, melirik ke sana-kemari guna meyakinkan sekali lagi jika tak ada satupun yang tertinggal, sebelum keluar kamar.
"Apa sih Ma?" Dengan wajah kesal, pria itu berjalan menghampiri sang ibu yang berada di dapur.
"Sarapanmu."
Tama mengembuskan napas kasar, wajahnya menyiratkan rasa sebal. "Iya, iya."
Saat hendak meraih segelas air di meja makan, langkah pria itu terhenti. Di sana, tergeletak sebuah parsel berisi apel hitam.
"Wuih, dapet darimana nih." Tama melirik sang ibu dengan penuh kecurigaan. "Jangan-jangan Mama dapet dari selingkuhan mama ya."
Seketika cubitan telak mendarat di lengan pria itu. Entah setan mana yang merasuki Tama sampai mulutnya begitu lancang menarik kesimpulan. Beruntung sang ayah sudah lebih dulu berangkat bekerja; kalau tidak, rumah itu barangkali sudah tercatat dalam sejarah sebagai arena Perang Dunia III.
"Anak kurang ajar, gini-gini mama orangnya setia, nggak doyan selingkuh. Itu si Rayyan yang bawa oleh-oleh dapet dari bosnya."
"Adu-duh, ampun Ma, ampun, iya deh iya, Tama minta maaf."
Segera ia berlari kecil menuju sofa guna melarikan diri. Namun tindakannya tertahan, akh, lebih tepatnya di tahan oleh seseorang yang entah sejak kapan duduk cantik mengisi ruang tamunya.
"Udah mau berangkat kuliah, Tam." senyum tipis mengembang dari wajahnya, sambil merapikan lipatan kain di pangkuannya.
"Eh bude, iya nih bude, bude sendirian?" ujar Tama kembali berjalan menuju sofa.
"Enggak, tuh sama Rayyan." Bude Tama mengangkat dagunya ke arah luar rumah, telunjuknya mengarah pada mobil Rayyan yang terparkir di depan.
Netra Tama tertuju ke arah pandang Bude Santi—ibu Rayyan. Benar saja, sosok Rayyan muncul dari ambang pintu.
"Eh, Tam. Mau berangkat lo?" Rayyan menyembulkan kepala lebih dulu dari balik pintu, lalu masuk sepenuhnya.
"Yoi, bye the way, bos lo darimana?" Tama menjawab sambil mengaitkan tas ke pundaknya, nada suaranya santai tapi ada sengatan kecil di ujung kalimat.
"Dari China." Rayyan berkata sambil menggeser layar ponsel, nada suaranya datar, fokusnya tak lepas dari notifikasi yang baru masuk.
Tama hanya mengangguk, sembari ber'ohria'
"Udah?" Tanya Santi pada Rayyan, lantas pria itu mengangguk dan mengajak sang ibu untuk segera berpamitan.
Tama berjalan keluar mengantar Rayyan dan sang ibu. Pandangannya tanpa sengaja tertumbuk pada sebuah tote bag kecil dengan kartu ucapan yang menggantung di tali pegangan. Keningnya mengerut, mencoba mengais ingatan tentang benda yang terasa begitu familiar di atas dasbor mobil.
Itu kayak bungkus jam tangan yang dibeli Airin waktu itu
'Mbak, saya mau yang ini sekalian sama kartu ucapannya ya mbak'
'Tam, lo lebih pilih sepatu atau jam tangan'
Seketika ia menarik ingatan ke belakang.
'Gue bingung mau kasih hadiah buat Adrian, besok siang dia udah bakal balik ke Canada'
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembar Sial | END
RomanceTiga serantai yang bersahabat sejak duduk di bangku SMA, lebih tepatnya sejak ketiganya terlambat dihari yang sama, mendapat point dan hukuman yang sama dari polisi sekolah, bermasalah dalam hal asmara. Dan sama-sama menjadi target cinta monyet, Bam...
