16. Bermain mata

98 33 6
                                        

Afridial Tama Wibowo, mulai bosan dengan materi kuliah tamu yang baru berlangsung 20 menit itu. Beberapa kali ia merubah posisi duduknya, guna menghilangkan rasa jemu, tidak ada yang menarik baginya, tak ada narasumber atau pemateri yang cantik, bersuara lembut dan bertubuh molek, nyatanya ia harus menghadap paruh baya berkepala botak dan perut buncit di depan sana, untuk satu jam atau bahkan dua jam ke depan.

Untuk mengurangi jenuhnya, ia mencorat-coret lembaran materi yang terasa masih hangat itu, sepertinya baru saja keluar dari mesin fotocopy. Terpampang nama Airin di balik lembaran terakhir, yang merupakan hasil tangannya, dengan hiasan bunga juga hati berukuran kecil-astaga kurang kerjaan sekali.

50 menit berlalu, kini pria itu mulai menguap, rasa bosan telah sepenuhnya menelan Tama. Bukan hanya mencoret, memainkan pulpen pada jemarinya, atau sekadar merubah posisi, Tama mulai mencoba berkomunikasi mencari topik pembicaraan tersendiri yang siapa tahu membuatnya bersemangat lagi, seperti membahas karakter pada game atau membahas aksi-aksi berbahaya Andy Lau dalam film-filmnya.

Jika bukan karena benda pipih dalam tasnya lowbat, karena acara lupa menchargernya semalam. Ia pasti tak akan se-boring ini.

Tama mengintip pria di depannya si fanboy yang gila aegyo. Tama menggeleng mereka tidak satu line, ia menoleh ke arah kanan, huh sepertinya kawannya itu bukan orang yang tepat untuk di ajak berdiskusi, ia terlalu fokus menyimak pemateri.

Lagi, Tama melirik ke kiri, ia tersenyum lega kala mendapati pria di sampingnya tengah asyik memainkan sebuah game dengan kaki bersila di atas kursi—sungguh attitude yang buruk.

"Pakai karakter itu juga bro."

"Hah?" Pria itu menoleh sekilas ke arah Tama. Hanya memastikan jika yang bersuara itu bukan panitia "Iya nih."

Dan di sanalah obrolan-obrolan ringan tercipta, bahkan sesekali mereka tertawa, dan cenderung sibuk sendiri dengan dunianya tanpa lagi memperdulikan materi kuliah tamunya.

Tama yang tengah meregangkan otot itu terganggu dengan suara familiar yang tak jauh darinya. Tama menoleh, ia mendapati Raymon-pendamping ospeknya-tengah mengobrol dengan beberapa rekannya di belakang sana.

Tama mulai mengedarkan pandangan, ia pikir hanya teman jurusannya yang akan hadir. Tapi, tunggu, pandangan itu terhenti pada sosok gadis dengan kacamata bundarnya, yang juga menatap ke arahnya.

Lagi-lagi, sebuah kebetulan yang kebetulan. Tama terdiam mencoba mengamati wajah gadis itu dengan seksama. Hingga si gadis lebih dulu mengalihkan netranya.

Tunggu, apa gadis itu sudah lama mengamatinya? Tama kembali melirik ke arah belakang dan tepat sekali gadis itu pun ikut menatap ke arahnya, walau hanya sekilas, lantas kembali menyimak layar projector.

Perasaan apa ini, wajah dingin itu membuatnya candu untuk mengulangnya. Sekali lagi, pria itu menoleh dan, ya, gadis itu pun kembali menatapnya, namun kini ia menahan tatapannya dengan kening sedikit mengerut. Justru membuat Tama salah tingkah.

Pria itu menarik pandangannya, berpura-pura tengah mengamati keadaan sekitarnya. Namanya juga Tama, ia tak akan puas sebelum menemukan kepuasannya sendiri, ia kembali melirik gadis yang ternyata masih menatapnya, namun gadis itu segera mengalihkan pandangannya kembali.

Astaga, situasi apa ini, bahkan Tama sampai menahan senyum melihat gadis di sana berusaha mengabaikan tatapannya.

Apa ini bisa dikatakan bermain mata?

Tama mengusap-usap dadanya yang bergejolak. 'Inget Airin Tam' batinnya.

Tak lama kemudian, seksi konsumsi datang—kebetulan Tama mengenalnya. Bukan Tama namanya kalau tidak melempar obrolan atau candaan kepada setiap teman yang ditemuinya. Kesempatan itu juga membuat Tama bisa melirik gadis yang kini sudah tidak lagi berada di tempatnya.

Kembar Sial | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang