42. Operasi luluhkan es batu

10 1 0
                                        

Malam harinya, mereka menghabiskan waktu di warung burjo langganan dekat rumah Agus. Tama masih dengan hoodie kuning, tapi tidak dengan wig yang sudah ia lepas. Sekarang rambutnya acak-acakan karena stres.

"Menurut lo... dia bener-bener ilfeel nggak sih?" tanya Tama sambil mengaduk indomie kuahnya.

"Gini, ya. Bella itu tipe cewek yang nggak bakal jatuh hati sama aksi norak. Tapi bisa jadi dia penasaran," jawab Agus bijak, bak motivator karbitan.

"Penasaran?"

"Iya. Lo tuh beda dari cowok kebanyakan yang ngejar dia. Biasanya cowok-cowok lain tuh ngedeketin dia lewat DM, atau sok cool, atau pamer-pamer. Lah lo? Wig pink, lagu potret, dan tulisan absurd. Unik banget." Sahut Juno.

Tama berpikir sebentar. "Berarti... gue harus lanjut?"

"Lanjut. Tapi... upgrade, bro. Jangan sampe tiap hari lo jadi tontonan. Nanti lo viral bukan karena cinta, tapi karena dianggap butuh pertolongan." ujar Juno sebelum menyesap kopinya.

"Gini aja Tam, gue ada ide bagus yang mungkin bisa menjebatani lo buat mencuri kesempatan." sahut Agus yang segera membangkitkan semangat Tama.

"Apaan?" Antusias Tama.

"Tadi Wena sempet bilang ke gue kalo charger laptopnya ketinggalan di ruang himpunan, nah dia minta tolong sama gue sebenernya, cuman gue belum sempat, gimana kalo besok pagi lo aja yang ambil."

"La terus apa hubungannya sama Bella."

PLAK

Juno menoyor kening Tama, "pinter dikit napa."

                                                                                                       ***

"Lo yakin dia ada di sana?" bisik Tama memastikan.

Agus mengintip dari celah jendela, lantas mendorong tubuh Tama, dan berucap lirih "udah buruan sana."

"Do'ain gue ya." Tama pun memberanikan diri untuk membuka pintu.

Hari itu ruang himpunan sedikit sepi. Hanya ada Bella, duduk santai di sofa pojok tengah mengetik sesuatu di laptopnya. Dan seperti biasa earbuds menempel di telinga. Mukanya serius, seperti sedang menyelesaikan proposal penelitian NASA.

Tama masuk perlahan. Pria itu mulai berpura-pura mencari kabel charger.

"Eh... Bella," sapa Tama sok santai.

Merasa terpanggil gadis itu menoleh, membuka salah satu earbuds-nya. "Hm?"

"Kamu—eh, maksudnya, lo.. liat charger laptop warna putih nggak?"

Bella melirik meja. "Nggak. Mungkin di laci bawah."

Tama berjongkok, membuka laci. Kosong. Tapi ia masih pura-pura sibuk mengubek-ubek isi meja. Padahal dalam hati, Tama sedang menyusun kalimat untuk mengobrol lebih lanjut.

"Bell...lo sibuk banget ya akhir-akhir ini?" akhirnya dia berani bertanya, lirih.

Bella tampak masih sibuk mengetik. "Lumayan. Lagi handle acara seminar nasional. Jadi panitia inti."

Tama segera duduk di kursi dekat Bella. "Wah... keren. Gue bisa bantuin nggak?"

Bella menoleh. Matanya bergerak meneliti Tama dari atas sampai bawah, seakan tengah menimbang sesuatu.

"Emangnya lo bisa apa?"

Pertanyaan simpel, tapi menusuk. Mampu membuat Tama berkeringat dingin. "Hmm... gue bisa desain, bisa jadi sie acara juga... bisa jadi apa aja, asal bisa deket—eh, maksudnya... asal bisa bantu..."

Kembar Sial | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang