"Lo ngapain di kelas gue?" ujar gadis itu tanpa mengalihkan pandangannya dari catatan yang tengah ia salin.
"Gue," sejenak Tama tampak diam memikirkan jawaban yang tepat, pasalnya pria itu memang datang tanpa tujuan, alasannya hanya ingin bertemu Bella. "—cuma kebetulan lewat."
Bella melempar tatapan tajam ke arahnya, "kebetulan? Di kampus segede ini?"
Tama menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "sebenernya sih, gue cuma pengen, liat lo."
Gadis itu tertawa kecil, tangannya menyilang di depan dada, "liatin gue? serius?" ujarnya dengan nada meremehkan, tatapannya bergerak menelisik lawan bicaranya, "banyak yang lebih menarik buat lo liat di kampus ini Tam. Ada pameran di galeri fakultas seni sampai jam 4 sore, atau lo juga bisa liat presentasi proyek inovatif mahasiswa Teknik Sipil di lapangan basket."
Ingatkan Tama jika Bella adalah gadis yang menggunakan 95% keseriusannya dalam hidup. Mendengar jawaban itu ia memutar bola mata malas, "sebenernya nggak ada yang menarik sih. Tapi, bicara pameran, lo mau temenin gue ke sana nggak?" ajak Tama sembari menaik turunkan alisnya.
Bella memutar pena di tangan seakan tengah berpikir, "mungkin lain waktu, gue ada banyak tugas penting hari ini," tolak Bella secara halus.
Entah hanya perasaan Tama atau memang gadis itu berbeda dari dua minggu yang lalu ketika ia datang berkunjung ke rumahnya. Ia rasa Bella sedikit menghindarinya, jika tidak salah dengar Bella punya banyak tugas, itu bukan hal yang mustahil mengingat Bella memang mahasiswa tingkat akhir, itu sebabnya ia datang tiba-tiba untuk menemui Bella. Karena mungkin dua minggu ini ia berkutat dengan tugas akhirnya sebagai alasan ia tak nampak ke permukaan.
"Tumben," celetuk Tama asal.
"Gue nggak ada waktu," jelas Bella dengan tatapan mengintimidasinya.
Namun bukan Tama jika ia tak bisa memaksa gadis itu untuk berkata 'iya'. "Lo yakin nggak mau ikut, bentar aja."
"Gue kan udah bilang nggak bisa, gue nggak ada waktu." Tegas Bella lagi.
Tama mulai yakin jika gadis itu memang sengaja menghindarinya, tapi karena apa? Baru saja Tama bernapas lega karena respons yang Bella berikan akhir-akhir ini, sudahlah Tama memang sebucin itu jika mulai terobsesi, kacau sudah jika jiwa menguasainya membara.
"Cuma bentar kok, maksimal sejam lah."
"Ajakan lo nggak sepenting tugas gue, jangan maksa gue buat bersikap kasar sama lo." Tatapannya berubah dingin dengan nada bicaranya yang tegas.
Terkejut? Tentu saja, Bella kembali pada setelan pabrik, dingin tak tersentuh. "Lo sengaja hindarin gue?"
Menghela napas pelan. "Gue nggak menghidari siapapun tanpa alasan."
"Lo berubah, kenapa? Lo risih sama gue? Ya bagus sih kalo lo bilang dari awal, setidaknya nggak bikin gue trauma."
Tatapan Bella berubah menjadi tajam namun penuh arti, "kalo lo ngerasa gue berubah, itu karena lo nggak memahami prioritas gue. Lagian lo kenapa jadi melankolis gini sih."
Jangan lupakan sifat mudah terbawa perasaan yang sudah mendarah daging pada diri Tama, hei Tam sepertinya kau lupa jika langit yang cerah bisa saja tiba-tiba mendung, definisi lain yang menggambarkan keadaan dan suasan hati Tama saat ini adalah bunga yang hampir mekar indah namun tiba-tiba layu.
Tama mengangguk pelan sebelum berpamitan, "sorry, kalo gue udah ganggu waktu lo, konsentrasi aja sama apa yang udah lo prioitasin. Gue duluan." Bella tak merespons, ia hanya diam bahkan tanpa membalas tatapan Tama.
Tunggu, apa ini? Patah hati di awal? Tama menggeleng pelan, bukankah lebih bagus seperti ini, lagipun dia belum terlalu jauh menaruh hati pada gadis itu. Sekilas ingatan tentang Airin membuat hati Tama memanas, mungkin ia harus belajar bersikap dingin setelah ini.
Tak!
"Heh!" pekik Juno bersama dengan jitakan pada kepala Tama.
"Apaan sih lo," protes Tama setengah terkejut.
"Ya, habisnya lo dari tadi dipanggil nggak nyaut-nyaut, kesambet lo?" cerocos Agus.
Tama hanya mendengus, mengabaikan pertanyaan pria berkulit pucat di sampingnya, lagi pula ia tak merasa mendengar suara Juno maupun Agus sebelumnya, atau seberapa lama ia melamun? Ayo Tama kembali fokus, jangan lagi lo jatuh di lubang yang sama. Lo punya harga diri Tam.
"Wiih angin sepoi-sepoi yang membawa aroma sate, kayaknya enak deh makan sate," ujar Juno.
Agus menoleh, "mana ada orang jualan sate siang bolong begini."
"Di balik pohon jambu itu mungkin," tunjuk Juno ke arah pohon jambu yang tak jauh dari mereka. "Atau di balik awan, siapa tahu kan ada bidadari yang jualan sate di atas sana." sambungnya sembari tersenyum polos.
Agus segera menjitak kepala Juno, "bercanda lo garing."
"Aduh sakitnya tuh di sini," ucap Juno sembari mengusap dadanya lantas tertawa lepas.
Agus bergidik sembari menjaga jarak, begitu juga dengan Tama yang segera melayangkan lirikan tajamnya tanpa sepatah katapun.
"Eh, tapi lo jangan nyepelein jokes gue yang udah selevel stand up comedy Internasional ini, setidaknya gue udah berniat membujuk hati gundah gulana sahabat kita, jarang-jarang gue mau kayak gini, jadi jangan sia-siain, hari ini doang gue kasih gratis lo dengernya besok bayar."
"Selera humor lo ketinggalan zaman. sI cakka aja pasti ogah dengernya." sindir Agus.
"Cakka mah masih bocil terlalu polos buat paham humor tingkat dewa gue, dia masih butuh waktu, proses, dan butuh—"
"Butuh sate ayam," sahut Tama. "Kalian berdua berisik banget dari tadi, kalo emang mau menghibur gue, traktir gue makan. Jangan omdo," sambung Tama.
"Nah tuh, gue juga sekalian."
Juno yang awalnya hanya menjadikan sate ayam sebagai bahan leluconnya demi menghibur Tama kini harus menelan ludah karena terpaksa mendonasikan uang birunya yang hanya tinggal selembar di dalam dompet.
"Nggak ada, uang gue tinggal gocap."
"Woles, udah cukup itu mah dua porsi bertiga," Agus menggiring tubuh Tama juga Juno.
"Heh, nggak gitu juga konsepnya kamseupay, itu duit gue buat 14 hari ke depan."
"Inget Jun rezeki anak sholeh tuh terus mengalir jadi lo jangan khawatir, siapa tau abis traktir kita, ATM lo di balikin. Lagian kan itu masih ada kembalian." Imbuh Tama.
Memutar bola mata, "terus gue harus bilang WOW gitu?"
"Udah-udah ayo buruan cari sate ayam." Kini Agus bersuara sembari mendorong tubuh Tama dan Juno agar mempercepat langkah mereka.
"Eh gue baru inget gue ada kelas sekarang." Alibi Juno.
"Et, et, et, kagak ada, kagak ada," keduanya serempak menarik tas Juno menahan agar pria itu tidak kabur.
"Biasanya juga lo bolos kelas," jelas Tama.
Juno menghela napas panjang, "Yaudah lah gue mah apa atuh." Pasrahnya.
"Gitu dong." Agus menjentikkan jari.
"Yang ikhlas lo." sahut Tama sembari menepuk-tepuk bahu Juno yang mulai lemas.
Entah ini salah siapa, Juno yang membawa mala petaka untuk dirinya sendiri atau dua temannya yang tak punya perasaan, intinya mereka bertiga sama saja. Setidaknya untuk saat ini sate ayam bisa mengalahkan Bella dalam pikiran Tama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembar Sial | END
RomanceTiga serantai yang bersahabat sejak duduk di bangku SMA, lebih tepatnya sejak ketiganya terlambat dihari yang sama, mendapat point dan hukuman yang sama dari polisi sekolah, bermasalah dalam hal asmara. Dan sama-sama menjadi target cinta monyet, Bam...
