28. Jaket

80 29 3
                                        

Nyatanya setelah pesan terakhir yang ia kirimkan semalam, hingga siang ini tak kunjung mendapat balasan, tampaknya gadis itu pun belum membacanya, atau bahkan sengaja mengabaikannya, karena beberapa kali Tama membuka ruang obrolan singkat mereka dan tampak gadis itu sedang online, jika bukan terabaikan tentu diabaikan.

Ah, ia jadi overthinking, kira-kira pesan dari siapa yang membuat gadis itu mengabaikannya, atau ada orang yang lebih penting darinya, siapa? Kekasihnya? Tunangannya? Atau yang paling mengerikan adalah suaminya? Untuk opsi yang terakhir sepertinya tidak, Bella terlihat belum bersuami.

Lagi pula jika diingat-ingat bukankah Agus pernah mengatakan jika gadis itu sulit ditaklukan. Tunggu, Tama jadi mulai curiga juga penasaran, alasan gadis itu begitu dingin kepada lawan jenis, atau hanya kepadanya, pasalnya ia masih ingat betul ketika melihat Bella bersama Raymon juga pria asing yang tak ia kenali, atau jangan-jangan salah satu dari mereka adalah suaminya? Tama memukul kepala dengan ponsel, otaknya masih dalam mode trauma, karena pernikahan sepupu dengan gadis impiannya. Wajar jika pikiran Tama begitu rusuh.

Kenapa dia harus pusing-pusing memikirkan hal itu, bukankah Bella mengajaknya bertemu di belakang perpustakaan setelah jam makan siang untuk mengembalikan jaketnya, Tama menyeringai, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan, pikirnya.

"Afridial Tama Wibowo!"

Tama tersentak mendengar namanya disebut, ia segera mendongak menatap ke arah bangku dosen.

"Tinggal kamu yang belum mengumpulkan tugas revisi."

"Tugas?" gumamnya pelan dengan wajah kebingungan, netranya melebar kala mengingat ia tak menyentuh kamarnya semalam, Tama menginap di rumah Agus dirinya bahkan meminjam tas, kemeja dan celana jeans dari lemari sahabatnya itu. mampus lo Tam

Alhasil, ia harus mengulur waktu agar bisa bertemu Bella, sambil menuntaskan tugas yang terlewat semalam. Beruntung, gadis itu akhirnya membuka pesan Tama dan mengiyakan permintaannya. Namun, kenyataannya, ia tetap datang lebih lambat dari kesepakatan, karena berbagai kendala yang seolah-olah terus menghalangi Tama untuk menemui gadis jutek itu.

"Haaah, sorry, ya, nunggu semut nyebrang tadi, hah-hah." ucap Tama yang berusaha mengatur napas karena harus berlari cukup jauh. Sedang gadis itu hanya menghembuskan napas kasar masa bodoh dengan dalih Tama lantas menyodorkan paperbag berukuran sedang.

"Lain kali nggak usah sok peduli sama gue, gue nggak mau ada urusan lagi sama lo." Ketus Bella bersiap mengambil langkah meninggalkan Tama, namun dengan dadanya yang masih kembang kempis Tama merentangkan lengannya menahan gerak gadis mungil di hadapannya. Sejenak keduanya hanya diam saling mengunci pandang, Tama yang masih berusaha menetralkan napasnya, sedang Bella dengan wajah angkuhnya tampak menunggu tindakan pria tinggi di depannya.

"Sama-sama." Dengan sisa energi yang ada, Tama tersenyum tipis, menahan lelah yang masih menempel.

Gadis itu menepis lengan Tama setelah mendengar dua kata yang keluar dari mulut Tama, seolah tidak penting. Tetapi tak berhenti di situ, pria itu kembali merentangkan tangannya yang semula hanya sebatas perut Bella, kini lebih tinggi bahkan hampir menyentuh bahu gadis itu. Tama menyerongkan wajahnya hingga berada tepat di sisi kanan wajah gadis itu.

"Jangan lupa, lo punya hutang budi sama gue." Merasa tak ada respons dari Bella yang hanya diam tanpa ekspresi, Tama kembali bersua, "tenang aja, lo bisa bayar kapan-kapan kok."

Bella menyuggingkan senyuman yang seketika memporak-porandakan degup jantung Tama, mengacaukan kembali napas pria itu, "jangan harap." sarkas Bella, lantas ia segera menepis keras lengan Tama hingga berhasil membuat tubuh pria tinggi itu terhuyung. Tama menyugar rambutnya ke belakang, sembari memperhatikan punggung Bella yang mulai menjauh. Gila tuh cewek bikin gue ngos-ngosan.

Kembar Sial | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang