Langit kampus tampak mendung, tapi hati Tama lebih mendung lagi. Dia duduk seorang diri di bawah pohon beringin depan gedung perpustakaan, berbalut jaket abu-abu favoritnya yang sudah mulai memudar warnanya. Tangan kanan memegang kopi susu kekinian, tangan kiri menyecroll Instagram—yang isinya, ya begitu-begitu saja. Dari foto prewedding hingga honeymoon Airin dan Rayyan, sepupunya sendiri, masih nangkring paling atas. Tamparan digital setiap pagi.
"Kenapa sih, Rin? Harus banget nikah sama sepupu gue?" gumam Tama lirih, sok dramatis, padahal tidak ada yang mendengar juga.
Airin. Gadis pertama yang membuat Tama percaya cinta itu bukan hanya untuk tayangan FTV sore. Dulu mereka sedekat itu. Dari hangout bareng, bertukar playlist Spotify, atau cerita wattpad, bahkan menonton konser Payung Teduh bersama—hanya berdua. Tama kira, itu momen mereka. Ternyata, Airin hanya menganggapnya... teman—mungkin.
Harapan itu terus menggantung, hingga akhirnya Rayyan memintanya untuk menjadi groomsmen di hari pernikahannya dengan Airin.
Bahkan undangan pernikahan mereka itu lebih menusuk daripada penolakan Airin—jika saja gadis itu mengatakannya sedari awal.
Rayyan, sepupu Tama yang selalu terlihat sempurna dari keponakan, sepupu, dan cucu lainnya. Lulusan ekonomi bisnis, pintar, senyum kalem, dan yang paling penting—sudah mapan. Jika dibandingkan dengan Tama yang masih struggling mencari bahan untuk menyusun makalah tugas akhirnya, ya jelas kalah jauh.
Sudah satu bulan, tapi luka itu belum benar-benar sembuh. Apalagi jika duo kadal—Agus dan Juno—selalu melempar lelucon dengan membawa-bawa nama Airin.
"Eh, Airin dateng tuh sama suaminyaaa~"
"Kayaknya Airin hamil deh!"
"Pasti cakep banget anaknya kayak Rayyan!"
Brengsek.
Tama menyimpan ponselnya, mengusap wajah, lalu bersandar di batang pohon. Dari sela-sela daun, dia melihat awan abu-abu bergerak pelan. Seperti hatinya, yang sudah mulai move on sedikit, terus keinget lagi.
"Masih aja ngelamunin Airin?" suara berat tiba-tiba menyahut dari sampingnya.
Tama menoleh. Juno, sahabatnya, tengah berdiri dengan dua cup kopi.
"Tenang, gue bawa doping," katanya sembari menyodorkan satu cup pada Tama.
"Thanks, bro. Tapi kafein nggak bisa ngilangin trauma cinta," jawab Tama, sok puitis. Dengan bola mata menatap ke arah cup kopi miliknya yang telah kosong.
Juno duduk di sampingnya. "Bro, udah deh. Airin OTW punya anak. Lo mau jadi om yang gagal move on selamanya?"
Tama berdecak pelan. "Gue tau. Gue udah nggak berharap ke Airin lagi kok."
"Yakin?"
"Iya. Sekarang gue lagi fokus ke target baru."
Juno melotot. "Jangan bilang... Bella?"
Tama mengangguk dengan senyum lemah. "Iya, Jun. Bella."
"Anjir, yang lebih susah dideketin dari admin jurusan itu?"
Tama terbahak. "Iya. Tapi entah kenapa, gue suka banget sama dia. Dia tuh... misterius. Nggak gampang ditebak. Tapi juga dewasa banget tutur katanya, dan justru itu yang bikin gue penasaran."
Juno melirik temannya itu dari atas hingga bawah. "Lo tuh, ya... udah ditolak kenyataan, masih bisa semangat ngejar hal yang nggak pasti."
"Gue kan ambisius, Jun. Kalo hidup gue gampang, nggak seru."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembar Sial | END
RomanceTiga serantai yang bersahabat sejak duduk di bangku SMA, lebih tepatnya sejak ketiganya terlambat dihari yang sama, mendapat point dan hukuman yang sama dari polisi sekolah, bermasalah dalam hal asmara. Dan sama-sama menjadi target cinta monyet, Bam...
