Hari ini hari keempat Tama bergabung dengan sie dokumentasi juga menjadi kameramen pribadi Bella. Dan kali ini mereka tengah chaos dengan urusan edit-mengedit, maksudnya begini Tama bagian mengedit, Bella bagian ngegasin. Lokasi hari ini Kantin kampus. Kenapa di kantin? Karena Bella sudah bosan di perpus, dan dia ingin suasana "yang lebih manusiawi".
"Maksudnya, gue bukan manusia?"
"Lo manusia sih tapi lebih ke spesies trial version."
Mereka duduk di pojokan kantin, laptop dibuka, speaker menyala kecil, sambil mengedit transisi footage. Bella memutar lagu-lagu mellow untuk latar aftermovie videonya, dan Tama mulai sadar, jika Bella ini, diam-diam pecinta lagu galau akut.
"Lagu ini kok sedih banget sih, Bell. Ceritanya tentang apa?"
"Tentang orang yang ditinggalin karena dia telat nyadar perasaannya."
Tama terdiam sejenak, sebelum kembali menyeletuk, "wah, kayak gue waktu SD ditinggal nyokap ke pasar padahal gue belum bilang 'makasih'."
Bella menoleh. "Itu sedihnya beda konteks, Tam."
"Tapi sama-sama ditinggalin kan."
Bella menoleh ke sana-kemari mencari colokan untuk charger laptopnya yang tinggal 15%.
Tama reflek berdiri, mencoba membantu gadis itu mencari colokan, tapi gegara terlalu bersemangat kursi yang di dudukinya justru ikut terangkat dan jatuh. Seketika semua orang di kantin menoleh ke pusat suara. Termasuk tukang nasi goreng di belakang.
Bella tak lagi bisa menahannya, antara malu dan tawa sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Gue gak ngerti lo tuh panitia dokumentasi atau stand-up comedian gagal."
"Yang penting gue niat, Bell. Demi ngebantu lo, semua bakal gue lakuin. Bahkan kalo disuruh pasang colokan sambil koprol pun siap."
Bella diam mencoba mengatur napas, lalu berucap pelan,
"Lo tuh ya kadang nyebelin, tapi gak bisa gue benci."
Setelah selesai kerja bareng hari itu, Tama pulang dengan mode senyum yang ia setel sepanjang jalan. Langit sore, angin semilir, dan playlist galau diputarnya seperti soundtrack hidup.
Setibanya di rumah, masih di atas motornya, bahkan belum sempat melepas helm, ponselnya berbunyi.
Tam, makasih ya hari ini. Sorry kalo kadang gue suka galak.
Pesan dari Bella yang segera ia buka bahkan motor pun belum sempat ia standarkan.
Nggak apa-apa, Bell. Lo boleh galak asal jangan ke orang lain. Ke gue aja.
Kenapa ke lo aja?
Soalnya gue tahan banting. Tapi juga tahan rindu.
Tidak ada balasan seketika,
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Tama sudah ingin meng-uninstall WhatsApp rasanya.
Tapi akhirnya...
Garing lagi. Tapi anehnya gak bikin ilfeel.
Buru-buru Tama melompat dari kasur dengan menciumi gulingnya. Ia terlalu bangga dengan pencapaiannya.
***
Keesok harinya, ketika Tama mendapati gadis pujaannya duduk seorang diri di depan ruang BEM, ia segera menghampiri Bella yang sedikit terkejut dengan kehadirannya, setelah obrolan kecil Tama memilih diam tidak lagi ingin mengganggu Bella yang tengah menyelesaikan artikelnya. Namun tiba-tiba saja gadis itu melempar pertanyaan,
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembar Sial | END
RomanceTiga serantai yang bersahabat sejak duduk di bangku SMA, lebih tepatnya sejak ketiganya terlambat dihari yang sama, mendapat point dan hukuman yang sama dari polisi sekolah, bermasalah dalam hal asmara. Dan sama-sama menjadi target cinta monyet, Bam...
