"By the way, lo jadi masuk Sosiologi, Tam?" ujar Juno, memecah keheningan.
Tama, yang sejak tadi duduk dengan posisi santai, menoleh sejenak saat namanya disebut. Ia menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan.
"Lah, terus lo masuk apa?"
"Gue masuk Kesejahteraan Sosial," jawab Tama tenang.
BYURR.
Air dalam gelas tiba-tiba menyembur ke arahnya, nyaris membasahi wajah yang menurut banyak orang—sayangnya—terlalu percaya diri untuk disebut estetis.
Dengan refleks, Tama langsung berdiri dari tempat duduknya, sementara tawa Juno meledak tanpa ampun.
"Yakin lo? Otak lo aja kagak sejahtera!" ejek Juno sambil terpingkal.
Tama menahan napas, memasang ekspresi jengkel yang tidak berhasil membuatnya terlihat marah.
"Ya mendingan gue kesasar, daripada lo yang sengaja nyasar jurusan."
"Gue kan ada alasannya." Juno mengangkat bahu, menatap Tama sambil menahan tawa. "Nah, lo kesasar nggak pake alasan."
"Di mana-mana, yang kesasar tuh lebih logis daripada yang sengaja nyasar."
"Gue nyasar punya tiket tujuan, nah lo cuma—"
"Sama-sama nyasar. Rame lagi," celetuk Agus yang sedari tadi hanya mengamati pertikaian tak karismatik itu dengan datar.
Halo, kalian apa kabar?
Sudah lama tidak membaca komentar kalian, jadi rasanya mulai kangen interaksi kita yang ramai dan absurd.
Alur cerita ini memang aku buat cukup santai—jadi, tolong dibaca juga dengan santai ya.
Kalau bisa, jangan sambil emosi. Nanti malah nyari Tama di dunia nyata buat disiram juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembar Sial | END
RomansTiga serantai yang bersahabat sejak duduk di bangku SMA, lebih tepatnya sejak ketiganya terlambat dihari yang sama, mendapat point dan hukuman yang sama dari polisi sekolah, bermasalah dalam hal asmara. Dan sama-sama menjadi target cinta monyet, Bam...
