Tama berjalan kencang mengelilingi koridor luas di lantai 5 dan 6, hanya untuk menemukan sosok gadis yang sejak semalam tidak membalas chat atau pun sejuta panggilan darinya, beberapa kali ia mengecek ponsel, sudah ada 10 panggilan keluar yang ia lakukan dari pagi hingga detik ini, namun tak kunjung mendapati respons. Kacau sudah emosi Tama, ia menyugar rambutnya ke belakang dengan menyisir pandang mana tahu gadis yang ia cari berada di salah satu bangku tunggu yang tersedia di lantai 6 ini. Tetapi hasilnya nihil, hanya beberapa cewek-cewek yang asik bergosip dan ber-selfie yang kini menatap ke arahnya lantas berbisik-bisik, seakan menjadikan Tama objek ghibahannya. Tentu saja, mungkin bagi mereka PDH yang ia gunakan sangat asing, mengigat lantai 6 rata-rata dihuni oleh anak-anak dari prodi Ilmu Pemerintahan dan Hubungan Internasional.
Tama tak memperdulikan tatapan-tatapan itu, ia terus menelisik ke lorong lain, mungkin ia bisa mendapati Bella di lift yang berada di tengah gedung. Napasnya mulai habis, nyatanya sejauh ini pun ia masih belum menemukan Bella, seakan ditelan bumi bahkan teman-teman dari gadis itu yang akhir-akhir ini selalu berseliweran di sekitarnya, seakan serempak menghilang. Apa mungkin mereka tidak ada kelas hari ini? Tapi minggu lalu ia masih bertemu Bella di hari dan jam yang sama, bahkan sepertinya gadis itu pulang lebih lambat darinya.
"Kemana lagi gue harus nyari tuh cewek," Tama berkacak pinggang sembari menjilat bibir bawahnya, napasnya sedikit menggebu, akhirnya pria itu mendudukkan diri di bangku panjang seberang lift. "pakek ngilang segala lagi," Tama kembali mengecek ponselnya yang lengang tanpa notifikasi satupun. "Apa geser jam matkul kali ya," gumam Tama sembari bersandar pada dinding, netranya menatap langit-langit koridor, menerka-terka sudut kampus mana yang harus ia jajaki. Terlintas di kepala Tama sesuatu yang banyak kemungkinannya, pria itu lantas segera bangkit dan membawa langkah cepatnya menerobos beberapa mahasiswa yang lalu-lalang. Tama menggigit bibir bawahnya menahan senyum sepanjang menuruni puluhan anak tangga itu.
"Mau kemana lo Tam, buru-buru banget." tepat di lantai dasar langkahnya terhenti paksa oleh tangan gempal Juno.
"Ada urusan mendadak," lanjut Tama menyingkirkan tangan Juno yang menempel pada bahunya.
"Gue ikut." Bukan hanya cakap angin, pria bergigi kelinci itu benar-benar mengekori Tama yang segera menghentikan langkahnya lagi.
"Nggak usah." Sambar Tama.
Juno mengerjap sejenak sebelum menyahuti sentakan Tama. "Pelit banget lo."
"Bodo amat," Tama kembali mengayun langkah, mengabaikan kelinci gempal di belakangnya.
Suara menggelegar di langit sempat membuat Tama hampir membatalkan rencananya, ia menengadah menatap ragu awan kelabu yang sudah hampir menguasai setengah langit di atas sana. Namun, sebelum ujung-ujung air itu menyerang, gairah yang berdesir di dalam tubuhnya harus di redam. Dan pada akhirnya hasrat itu justru menggiringnya ke tepi ruko yang tak jauh dari kampus, tak hanya itu ia kembali mengumpat kala mendapati sosok Juno yang tiba-tiba menepikan moge; motor gedenya tepat di samping motor Tama.
"Lo ngikutin gue, keras kepala banget sih lo," serang Tama pada pria yang bahkan belum sempat menstandarkan moge-nya.
Sejenak Juno hanya diam menatap Tama sembari melepas kaitan helm-nya, lantas ia mendekat dan hampir memukul kepala pria di hadapannya menggunakan helm. "Untung lo temen gue," geram Juno dengan gigi rapat, syarat akan menahan emosi, "gue nggak bawa mantel, lagian gue nggak tahu kalo lo di sini juga,"
Tama melempar tatapan dingin, sebelum akhirnya berdiri menjaga jarak dari Juno. "Awas aja ya lo ngikutin gue."
"Pede banget lo, nggak minat gue." Juno menyahuti, sembari bersedekap dan bersandar pada folding gate yang tertutup.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembar Sial | END
RomanceTiga serantai yang bersahabat sejak duduk di bangku SMA, lebih tepatnya sejak ketiganya terlambat dihari yang sama, mendapat point dan hukuman yang sama dari polisi sekolah, bermasalah dalam hal asmara. Dan sama-sama menjadi target cinta monyet, Bam...
