Tama sibuk menyel-scroll isi ponselnya secara asal. Namun sebenarnya, di dalam sana ia sedang memeras otak, mencari cara untuk memecah keheningan di antara dirinya dan Bella, yang memilih diam sambil mengamati sekitar. Tama merutuki dirinya sendiri karena seketika kehilangan kata-kata—canggung dan gugup. Di sisi lain, ia juga tak ingin membuat gadis di hadapannya merasa tidak nyaman. Ia benar-benar mati kutu.
Perlahan pandangan Tama beralih pada Bella, sejenak menikmati keindahan di hadapannya. Wajah dingin yang memancarkan aura menawan, "Bell." Akhirnya, pria itu berani membuka mulut, dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
Gadis itu menilik ke arah Tama, "lo mau tau satu rahasia nggak?" Tama memainkan alisnya dengan gerakan naik-turun. Bermuka tebal dulu saja.
"Apa?"
"Lo adalah alasan kenapa gue percaya kalo bidadari itu ada." Detik berikutnya gadis itu membuang pandang ke lain arah. Namun Tama tak menyerah, ia kembali melontarkan sebuah pertanyaan yang mampu membuat Bella terdiam. "Menurut lo, gue kelihatan paling ganteng waktu ngapain?"
Keduanya hanya saling bertukar pandang dalam keheningan, wajah tenang Tama tak sepadan dengan degup jantungnya yang melompat-lompat kacau di dalam sana, berharap Bella akan mengembalikan pengakuan yang baru saja ia sampaikan pada gadis itu dalam bentuk kiasan yang menunjukkan bahwa ia peduli pada Tama. "Susah ya pertanyaannya? Yadeh, nggak harus jawab sekarang, berarti lo hutang jawaban sama gue, tapi gue pingin tau apa yang ada di pikiran lo waktu pertama kali kita ketemu, ini wajib dijawab."
"Nyebelin." Singkat Bella. Seperti ombak yang datar.
Pria itu menelan getir. Jujur saja, hati Tama bagai disayat sembilu karena itu bukan jawaban yang ingin ia dengar. Namun, jika dipikir-pikir, wajar saja jika gadis itu tak memiliki kesan mendalam, apalagi ketertarikan padanya. Pertama kali mereka berinteraksi saja karena bule toilet itu, dan pada pertemuan kedua, Tama malah memecahkan layar ponsel Bella. Jangan lupa pertemuan berikutnya pada insiden hampir bertabrakan. Tetapi pria itu tak gentar. Bagai detektif, ia masih mencari cara untuk mendapatkan petunjuk bahwa Tama tak semenyebalkan itu di mata Bella.
"Kalo gue boleh tau, bekal hari itu lo yang makan kan?"
"Bukannya lo kasih ke gue ya?"
"I-iya, gue kan cuma mastiin siapa tau aja lo buang atau lo kasih ke temen lo gitu."
"Gue yang makan, puas lo."
Tama mengulum bibir menahan senyum, kini ia seakan melambung ke atas awan. Tetapi jawaban itu kurang memuaskan bagi Tama, seperti buah yang tidak manis. ia pun kembali melontarkan pertanyaan. "Terus, apa alasan lo hari itu mau bantuin gue ke acara nikahan sepupu gue? Kalo cuma karena balas bud—"
Seakan tahu isi pikiran Tama, gadis itu segera memotong pembicaraan. "Awalnya gue terpaksa karena ngerasa berhutang budi sama lo, dan berharap setelah itu gue nggak perlu terlibat apapun lagi sama lo."
Tama mulai menundukkan pandangannya perlahan. Hatinya remuk redam. Mungkinkah akhirnya akan sama seperti sebelumnya? Bedanya, kali ini terlalu terang-terangan, dan endingnya akan berakhir dengan melupakan—cih, sama saja. Luka yang tak kunjung sembuh itu seperti hujan yang tak berhenti, seperti api yang membara, membakar dan menghanguskan harapan.
"Tapi, setelah hari itu, gue menyadari satu hal, kalo lo bukan cowok yang semenyebalkan itu. Gue bisa ngeliat ketulusan dari mata lo, mungkin sikap absurd lo itu hanya sebagai kamuflase."
Perlahan Tama kembali menatap netra Bella yang teduh, wajah dingin itu tak lagi ia lihat di sana. "Gue pernah ngerasain apa yang lo rasain, gue sakit tapi sok baik-baik aja."
Tampak kening Tama mengernyit. "Lo pernah ditinggal nikah juga?"
Gadis itu mengibas tangan pelan di depan wajah, "Nggak setragis itu sih."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembar Sial | END
RomanceTiga serantai yang bersahabat sejak duduk di bangku SMA, lebih tepatnya sejak ketiganya terlambat dihari yang sama, mendapat point dan hukuman yang sama dari polisi sekolah, bermasalah dalam hal asmara. Dan sama-sama menjadi target cinta monyet, Bam...
