26. Mimpi

71 31 15
                                        

Seonggok kalimat harap tenang ini ujian bagaikan sebuah asap bagi Tama, nyatanya apa yang ada di hadapan kini tak bisa ia sebut sebagai ujian namun sebuah kesakitan dan siksaan batin bagi Tama. Tubuhnya membeku, ia bahkan tak bisa menangkap situasi saat ini, ia seakan mati rasa masih tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika ini mimpi, mengapa sesakit ini, jika ini halusinasi seharusnya ia bisa menulis dan menyutradarai skenarionya sendiri. Harapan dan keyakinan Tama seakan terbang dan hilang menjauh darinya. Apa yang ia bangun dengan begitu kokoh hancur lebur menyisakan luka dalam sekejap. Berat, hingga air mata pun membeku di dalam sana. Ada sesuatu yang membuncah di dalam tubuhnya. Namun, kaki dan mulut itu seakan terpaku dengan keadaan. 

Bahkan hujan yang mengguyurnya kini tak mendinginkan suasana hati yang memanas, seakan langit telah memutuskan untuk tak berdamai dengan hatinya. Tubuh itu menggigil bukan karena derasnya hujan, tetapi karena senyuman gadis dengan balutan kebaya putih di sana yang memancarkan kebahagiaan. Ia menatap lekat paras damai gadis itu, sebahagia itukah ia bersama pria yang ia pilih, kedamaian yang tak pernah Tama lihat selama ini. Tak sengaja mereka beradu netra, Tama tak menemukan sedikit pun belas kasihan dari tatapan Airin. Justru gadis itu melambaikan tangan dengan senyum yang merekah, semakin mengeratkan pelukannya pada sang suami yang terlihat seperti sebuah ejekan.

Sedang Tama hanya diam meratapi abadinya duka. Sial, jika saja ia bisa dengan mudah membaca isi hati Airin selama ini—tidak, Mungkin lebih tepatnya, jika saja ia sedikit pintar membaca intuisi,  membuang jauh egonya dan mencoba berdamai dengan realita bahwa memiliki Airin adalah mimpi semu, bisa jadi ia tak akan terluka separah ini. Jika dalam medis mungkin ia sudah berada pada tahap stadium akhir, dengan masa hidup hanya tinggal beberapa Minggu lagi.

Tama mendecih, menertawakan keyakinannya untuk bisa saling mencintai, bisa bersama sampai tua, bisa saling menjaga hingga mati dengan Airin. Kenyataannya ia hanya menjaga jodoh orang lain selama ini. Do'a, harapan, impian Tama kini telah pupus tanpa sedikit pun merasakan balasan akan cintanya yang tulus. Ia sungguh tak menduga jika akhir cerita cintanya diputus oleh semesta dengan begitu keji.

Nampak dari netranya yang begitu larut dalam kesedihan, tak adakah seorangpun yang tahu menahu ataupun peduli akan perasaan sakitnya saat ini? Tama butuh pelukan, setidaknya tepukan ringan untuk menyalurkan kekuatan baginya. Tubuhnya sedikit terlonjak kala seseorang menepuk pelan bahunya, dan pria itu segera tersadar. 

"Tam, woi, Tam." Serbu Juno kala tak kunjung mendapat respon dari sang empunya nama. Perlahan Tama membuka netranya yang terasa begitu lengket dan berat.

"Heh, Tam, bisa-bisanya Lo tidur di jam segini," protes Juno yang entah sejak kapan berusaha membangunkannya. Tama mengedarkan pandangan ke sekitar, dimana teman-temannya? seingatnya dia tengah mengikuti jam matakuliah. 

Ia memicing, mengamati jam tangan yang menunjukkan pukul 10:00, Tama mendelik, berapa lama ia tertidur, dan kenapa tak ada satu pun teman kelasnya yang membangunkan Tama. Itu berarti apa yang baru saja terjadi hanya sebuah mimpi, astaga lebih seram dari film the Conjuring.

"Abis begadang, Lo?"

Tama mengalihkan pandangannya pada Juno yang tengah melipat lengan kemejanya. 

"Nggak biasanya Lo ketiduran di dalem kelas."

Tentu saja ini hasil dari overthinking Tama semalam.

Pria itu hanya mengangkat alisnya tinggi sebagai jawaban. Pasalnya, ia masih terbawa suasana dengan apa yang ia alami dalam mimpinya, juga jangan lupakan jika ia masih menyimpan dendam dengan pria bergigi kelinci itu.

"Yok, ke kantin. Kita makan-makan, udah di tungguin Agus," ajak Juno dengan senyum sumringah dan tepukan ringan pada bahu Tama. Mendengar kata makan, seketika membuat mood Tama membaik, bahkan pria itu segera beranjak dan merangkul Juno. 

Kembar Sial | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang