33. Obsesi dan emosi

56 18 2
                                        

Sudah hampir 15 menit pria itu hanya berdiri menyandar pada rak buku dengan tangan menyilang di depan dada, mengamati gerakan gadis yang tak jauh darinya. Sejenak ia mengalihkan pandangan ke luar, lebih tepatnya pada beberapa pejalan kaki yang berebut sela kosong di depan toko buku untuk berteduh. Tama sedikit resah, mengingat waktunya semakin mendesak, ia kembali memperhatikan Bella yang bahkan tak memperdulikannya. Kening Tama mengernyit kala seorang pria tak dikenal berjalan menghampiri Bella, jika dilihat dari segi penampilan, sudah bisa dipastikan jika pria itu adalah karyawan toko. 

"Apa ada yang bisa saya bantu?" Dengan kepala yang masih mendongak gadis itu sontak melirik ke arah pria tersebut.

"Dia nggak butuh bantuan," celetuk Tama, sembari berjalan mendekati Bella dengan tatapan datar.

"Baik," pria itu tersenyum sekilas lantas melangkah meninggalkan keduanya.

Dengan wajah pasrah Bella membalik badan menghadap Tama, "mau lo apa sih ngikutin gue terus?" ujarnya setelah menghembuskan napas panjangnya.

"Gue udah bilang kan dari tadi, gue cuma mau lo ikut gue, itu aja," Tama mengendik.

"Gue juga udah bilang sama lo kan, gue...nggak...mau." eja Bella, dengan maksud agar lebih dipahami oleh pria tinggi di hadapannya. 

"Kali ini aja, gue mohon, please, gue janji deh nggak bakal ganggu lo lagi—eh, bentar nggak-nggak bukan itu, maksudnya gue janji nggak bakal maksa-maksa lo lagi, suer." mohon Tama dengan wajah memelas dan pose peace sign.

Merasa jengah, sepertinya alien itu memang tidak mengerti bahasa manusia, Bella pun segera membalik badan dan mengayun langkah cepat menjauhi Tama. 

"Bella, Bella, Bella, tunggu." Dengan kaki panjangnya Tama berhasil mengejar dan menarik lengan Bella.

"Apaan sih lo pegang-pegang." Gadis itu berusaha memberontak, awalnya Tama tak mengindahkan penolakan dari Bella. Sebelum akhirnya gantungan kunci berbahan tembaga yang memiliki sudut runcing itu menggores punggung tangan pria itu. Sepertinya Bella tidak bermaksud melukai Tama dengan gantungan kontak motornya, terlihat dari raut wajah Bella yang berusaha menutupi kecemasan.

Tama mengangkat kedua tangannya tinggi, sebagai arti ia tak akan melakukan kontak fisik dengan gadis itu lagi. Merasa aman, tanpa mengatakan sepatah katapun Bella melanjutkan langkah, tetapi Tama kembali berhasil menghalangi gadis itu hingga tubuh Bella menghantam tubuh bagian depan Tama begitu keras. Hollyshit, tak menampik jika rasa sakit akibat benturan dari kening gadis itu sangat berefek pada dadanya, tapi Tama harus pasang wajah cool kan. 

"Lo be—" Tama buru-buru menahan bibir Bella dengan telapak tangannya. Namun, tak disangka, saat itu juga ia merintih kesakitan ketika Bella menggigit tangannya.

"Rasain." ketus Bella yang kini lolos dari kejaran Tama. Namun—

"Please bantuin gue."

Perlahan Bella mengurangi ayunan kakinya, sebelum akhirnya dia benar-benar berhenti.

"Gue nggak janji, tapi mungkin untuk kali ini aja, tolong bantu gue, setidaknya buat menebus waktu gue yang terbuang sia-sia karena begadang mengharap balasan chat lo, berdiri kayak orang bloon nungguin lo, juga buat luka gores dan rasa nyeri akibat gigitan lo di tangan gue." Lawak sekali Tama, selalu menemukan kesempatan diwaktu yang tidak tepat. 

Entah karena merasa tidak enak hati, atau risih karena terus diganggu alien itu, Bella pun membalik badan. "Gue harus bantu lo apa?"

Senyum mengembang di wajah Tama, sebelum Bella kembali bersua, "gue kasih waktu 5 detik. satu, dua, tiga, em—"

Kembar Sial | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang