8. Casual Dadakan

176 47 10
                                        

Berbekal camilan ringan milik Cakka yang diambil Tama diam-diam, ia kini menjalani rutinitas maraton film lintas genre sepanjang libur semester. Hampir tiap pagi atau siang, Tama mampir ke rumah Airin hanya untuk mengajaknya nobar, lengkap dengan komentar Tama yang lebih ribut dari filmnya.

Karena belum juga mendapat panggilan dari beberapa CV yang sudah ia kirim, Airin akhirnya mengiyakan saja ajakan itu. Setelah sesi nonton selesai, Tama biasanya langsung menghilang pulang—berhibernasi brutal sampai malam, atau bahkan sampai keesokan harinya. Benar-benar definisi pemalas dalam wujud paling nyata..

"Tam, lo nggak bosen kayak gini terus?" Ucap Airin ditengah-tengah film, matanya masih terpaku ke layar, tanpa benar-benar menoleh ke arah Tama. Nada suaranya datar, tapi alisnya terangkat tipis—campuran heran dan sedikit lelah.

"Bosenlah." Jawab Tama cepat sambil menggeser posisi duduknya, punggungnya melorot ke sandaran sofa. Ia menghela napas panjang, lalu meraih camilan dengan ekspresi nelangsa berlebihan, seolah hidupnya benar-benar sedang diuji oleh kebosanan kelas berat.

"Terus kenapa nggak ngerubah keadaan?" Sahut Airin sembari menggigit camilannya.

Terdengar hembusan napas kasar dari Tama, "Gue sih mau-mau aja, tapi cewenya yang nggak mau." Ujarnya sambil menjatuhkan kepala ke sandaran sofa, 

Airin menoleh ke arah Tama yang masih serius memperhatikan film. "Kita ngomongin apa sih?"

Kini Tama ikut memalingkan wajah, menjadi berhadapan dengan paras Airin yang semakin cantik jika ditatap lebih dekat. "Ngomongin gue sama lo," jelas Tama dengan suara parau yang mampu merubah suasana. "Ki-ta," sambungnya, sembari mengarahkan telunjuknya bergantian ke arah wajah keduanya.

Airin baru menyadari wajah Tama yang sedikit berbeda, terlihat lebih dewasa dengan kumis tipis yang entah sejak kapan tumbuh. Rambut sedikit gondrong menutup daun telinga dan menyentuh tengkuk lehernya. Laki-laki manja itu kini sudah tumbuh dewasa.

Tama menjentikkan jarinya beberapa kali, berusaha mengembalikan kesadaran Airin. "Heh, malah ngelamun. Ada yang aneh sama muka gue?"

"I-iya, ada yang aneh. Rambut lo potong gih," gugup Airin yang tak merubah posisi.

"Kumisnya nggak?" Ujar Tama sembari menaik turunkan alisnya.

Sekali lagi Airin memperhatikan kumis tipis yang menghias wajah Tama. "Enggak," jawabnya dengan suara pelan, sialnya terdengar oleh telinga Tama yang kini begitu tunggang hati.

"Lo nggak tertarik ama gue?" Dengan rasa percaya diri yang tinggi, Tama menampilkan smirk menggodanya.

"Pingin narik iya Tam." Airin meraih plastik camilan sembari merubah posisi duduknya, kembali menghadap laptop. Nyatanya, jantung gadis itu berdesir hanya karena kumis tipis Tama.

"Yaelah kasar banget lo jadi cewe." Begitu juga dengan Tama, tangan pria itu tak tinggal diam, ia mengambil alih camilan dari tangan Airin yang hendak gadis itu suap ke dalam mulutnya.

Airin sempat melongo dan tak terima, ketika melihat camilannya di giring ke dalam mulut pria itu. "Kasar gimana, gue apa-apain juga nggak."

"Mau dong di apa-apain sama lo." Airin menoyor kepala Tama yang sedang berpose sok imut di depannya.

"Nggak jelas, cari kesibukan sana lo, nggak mungkin kan lo selama tiga bulan bakal kayak gini terus, berkembang dikit lah Tam," ketusnya sebelum menyuap camilan ke dalam mulut.

"Nanti lah itu. Gue masih belum puas males-malesan." Tama beranjak dari sofa, berjalan ke arah meja rias Airin. Mengobrak-abrik kotak aksesoris yang baru saja gadis itu benahi, mendapati aroma mencurigakan dari sana, Airin lantas berdiri menyusul Tama. "Pinter ya lo, baru juga gue benerin tadi."

Kembar Sial | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang