15. Senyuman

98 34 6
                                        

"Kayaknya gue bener-bener nyesel deh salah jurusan, kenapa nggak kepikiran buat sekolah polisi aja ya dulu," gumam Tama dalam keadaan sibuk menonton aksi baku tembak Andy Lau dalam layar laptop yang ia pangku.

"Halah, kemaren juga lo tiba-tiba pengen belajar wushu abis liat film Jackie chan. Dasar musiman lo," sergah pria di sampingnya sembari melempar puntung rokok ke tempat sampah.

Tama yang mulai di tumbuhi fantasi semu pun seakan tak dapat membedakan mana ekspetasi dan reality.

"Coba deh bayangin tiba-tiba ada pembajak di kampus ki-"

"Diem lo," buru-buru Agus membungkam mulut Tama dengan telapak tangannya. "gue lagi males mencerna imajinasi lo," sambung Agus sebelum beranjak hendak meninggalkan Tama.

"Eh lo mau kemana?"

"Perpus."

"Gue ikut." Sahut Tama bersiap mematikan laptopnya.

Agus menoleh ke arah pria itu dengan wajah datarnya, menghentikan gerakan Tama. "Nggak usah." Seru Agus penuh peringatan, lantas kembali melanjutkan langkahnya santai.

"Yaelah, ntar gue diculik," teriak Tama tak peduli larangan Agus. Segera ia mengemas barangnya yang tak seberapa, mengapit laptopnya dalam lengan dan menyusul langkah pria yang telah jauh darinya.

"Astaga, tuh anak pendek tapi cepet banget ilangnya."

Jika ada yang bertanya kenapa mereka selalu menempel satu sama lain? Itu karena mereka masih memegang prinsip 'sial bersama' secara kasat mata, jika dilihat secara tak kasat mereka memiliki naluri yang terikat satu sama lain, tergambar jelas kalimat 'bersatu teguh bercerai runtuh' pada kening mereka yang tercetak tebal.

Seolah tak ada kawan lain, atau seakan tak bisa berteman dengan orang lain—padahal itu salah—terutama Agus, si pendiam, yang memiliki lebih banyak lingkaran pertemanan dibanding Tama dan Juno, si murah senyum dan tukang tebar pesona di mana pun. Keduanya kalah telak dari Agus, yang selalu disapa di mana pun ia berada.

Seperti saat ini, sebuah keadaan yang membuat Tama keki sekaligus bertanya-tanya akan kawan yang sedari tadi namanya terus dipanggil-panggil. Jiwa arkais Tama, yang selalu membanding-bandingkan pun muncul.

Pria itu bahkan sempat melirik dan melibatkan hubungan Agus juga Wena dalam nalarnya. Sepertinya tak ada perkembangan walau empat semester telah berlalu. Akh, tak perlu memikirkan hubungan orang lain, dirinya dengan Airin pun bisa dikatakan sama saja malah sudah lebih dari empat semester, lebih parah.

Bukan hanya langkah, bahkan Tama pun berhenti berpikir, kala pria yang sedari tadi menjadi objek pengamatan Tama mengerem langkahnya tiba-tiba.

Padahal langit siang ini tampak begitu cerah dengan lukisan awan sembur yang menghiasi lautan biru di atas sana. Tak ada tanda-tanda gemuruh petir, angin puting beliung atau hujan badai, yang akan terjadi atau sedang berlangsung saat ini, hanya saja dua manusia yang tengah berdiri saling bertukar dugaan di ambang pintu perpustakaan itu khawatir, kalau-kalau dalam waktu dekat akan terjadi bencana dahsyat.

"Gue nggak salah liat, kan? Apa mata gue mulai rabun, ya?" Ujar Tama sembari mengucek matanya. Setelah mendapati Juno, pria anti buku dan alergi aroma perpustakaan itu tengah duduk di salah satu meja sembari menatap cover buku-buku di hadapannya.

"Eh, iya nih burem mata gue, tuh ngeblur, salah liat berarti." Tama mencoba memvalidasi perasaannya sendiri.

"Yaiyalah burem, dari tadi lo usap-usap mulu." Sungut Agus yang baru saja mendaratkan tampolannya ke atas ubun-ubun Tama dan beruntung masih terjangkau olehnya.

Kembar Sial | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang