17. Hujan

96 35 6
                                        

Berteman lagi dengan beberapa lembar portofolio dan dua buku tebal yang membuat Tama vertigo mendadak. Ia tampak sibuk dengan deadlinenya. mengacuhkan riuh bising dari soundsystem salah satu tetanggannya yang memiliki hajat.

Bohong jika Tama tak terganggu dengan orkes yang membabi buta sejak semalam itu, bahkan sesekali Tama mengerang dengan rahang mengeras, meremas rambutnya begitu kesal, dengan batin berteriak agar petir menyambar soundsystem.

Tama melempar buku ke atas meja belajar, mengangkat kedua tangannya menyerah, dalam keadaan hening saja Tama susah berpikir apalagi seperti ini. Tama bosan, pria itu butuh melakukan pergerakan yang bisa menghilangkan stresnya, seperti melempari soundsystem atau merobohkannya.

Namun, keadaan berbalik 360 derajat setelah dewa merkurius—Hermes—menyelamatkannya dari kesuntukan. Buru-buru ia mengintip ke jendela setelah mendengar gerbang tetangga cantiknya terbuka. Benar saja ia mendapati Airin dengan setelan baby doll berjalan keluar rumah sembari mengenakan jaket parkanya.

Tama mendongak, menatap awan kelabu yang hendak memeras isi perutnya. Dengan tergesa-gesa ia berlari keluar kamar menerobos sang ibu yang tengah membawa tumpukan baju bersih, hendak di setrika juga tugas sekolah Cakka—ecobrik—yang Tama lindas dengan telapak kaki besarnya.

Alhasil beberapa baju terjatuh ke atas lantai membuat Tanti berteriak heboh. Bahkan Cakka bersiap menangis kencang karena plastik ecobrik yang hampir selesai itu pecah dan isinya—potongan plastik kecil—pun berhambur kemana-kemana. Tama mengabaikannya, karena sebuah misi penting.

Setelah puas mengintip dari jendela ruang tamu, Tama bergegas kembali menghampiri sang ibu.

"Ma, jadi beli telur sama terigunya?"

Tak segera menjawab, Tanti sempat terdiam dengan kerutan pada keningnya, mencoba menahan emosi.

"Kalo nggak jadi ya udah."

Belum sempat membalik badan, sang ibu menarik kaos Tama, "catatan belanja sama duitnya ada di atas kulkas.

Tama bergegas berlari ke arah dapur, dan mengambil kertas serta uang yang dimaksud sang ibu. Matanya melotot dengan bibir menganga, menatap deretan belanjaan yang seketika membuat Tama menyesali pertanyaannya.

"Ma, kenapa jadi banyak? Tadi kayaknya cuma telur sama terigu."

"Itu kan tadi, kalo berangkatnya sekarang, ya itu daftar belanjaanya. Udah sana berangkat keburu ujan."

Astaga, jika tahu seperti ini lebih baik Tama duduk manis menghadap bukunya, tapi tidak, demi misinya ia harus melawan rasa malasnya yang tiba-tiba datang.

"Jangan lupa bawa payung." Ujar Tanti menahan langkah Tama dan menyodorkan payung pink dengan motif bunga-bunga padanya.

Suara gemuruh di atas sana mulai terdengar, Tama menengadah sekilas, lalu menengok kanan-kiri mencoba menemukan sosok Airin yang seharusnya belum jauh.

Benar saja, ia mendapati Airin berjalan seorang diri hampir melewati gapura komplek.
Dengan langkahnya yang panjang, Tama mengekori Airin dengan cara mengendap-endap. Hingga langkah itu membawanya pada toko sembako di ujung jalan.

Tapi, tunggu, Tama yang hendak memasuki toko mengurungkan niatnya karena gadis di depan sana, tak masuk ke dalam, ia terus berjalan lurus. Tama menengok ke dalam toko, lantas mengalihkan pandangannya pada Airin yang mulai menjauh.

Huh! Sungguh diluar dugaan. Tapi, bukan berarti Tama tak bisa melancarkan aksinya, Tama mendongak setelah sesuatu menghantam kepalanya.

Hujan, tanpa pikir panjang pria itu berlari menyusul sang pujaan hati, di antara air hujan yang mulai datang keroyokan. Hanya saja, tepat di persimpangan jalan ia kehilangan jejak Airin. Ia memperhatikan deretan pedagang kaki lima juga toko klontong di sekelilingnya. Nihil, ia tak berhasil menemukannya.

Kembar Sial | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang