43. Bikin dia notice

14 1 0
                                        

Setelah menertawakan ide ngamen galau  absurd itu, Agus menarik napas panjang.

"Tapi serius, Tam. Kalo lo mau bikin Bella notice lo, lo harus beda. Cewek kayak dia udah biasa dideketin cowok. Lo harus kasih sesuatu yang... nggak dia duga."

Tama melirik penasaran. "Contohnya?"

"Ya... misalnya, lo bisa ajak dia brainstorming buat konsep aftermovie, tapi pake pendekatan yang 'niat'. Jangan kayak anak dokumentasi biasa. Bikin kayak lo lagi kerja bareng co-founder."

"Gue ngajak dia rapat?" Tama heran.

"Ya nggak formal juga, bro. Ngajak nongkrong aja tapi pretense-nya kerja. Ngerti nggak? Lo bilang, 'Bell, gue pengen diskusi soal tone visual aftermovie seminar kemarin.."

"Wuih tone visual, berat amat bahasanya."

Agus menyengir. "Justru itu. Lo harus ngasih vibes 'anak kreatif yang passionate', bukan cuma 'anak maba yang suka ngarep'."

Tama mulai mencatat apa saja yang pria itu katakan di notes poselnya, mulai dari membuat konsep aftermovie, mengajak diskusi konsep, dilarang menggombal, awkard, dan panik.

"Gue suka poin terakhir," kata Tama sembari tersenyum. "Tapi lo tau sendiri kalo gue deket-deket Bella, gue langsung demam panggung."

"Makanya lo harus latihan," Jawab Agus. "Gini deh, nanti malem ke rumah gue. Kita simulasi."

"Simulasi?"

"Lo pura-pura ajak ngobrol Bella, gue jadi Bellanya."

Tama terbahak-bahak. "Nggak bisa. Lo terlalu maskulin buat meranin Bella."

Sedang Agus tidak peduli. "Gue rela ngorbanin pride gue demi lo nggak jadi bebek nyasar."

Akhirnya mereka berdua keluar dari kantin, masih menertawakan ide simulasi absurd Agus. Tapi dalam hati, Tama merasa... ini serius. Ini perjuangan. Ini bukan cuma soal cinta—ini soal harga diri.

                                                                                              ***

Kamar Agus yang biasanya penuh poster band indie dan tumpukan laundry, malam itu berubah menjadi studio latihan gebetan. Tama duduk di bean bag, memegang ponsel. Agus duduk di seberangnya, dengan selimut pink dan kaca mata bulat, pura-pura menjadi Bella.

"Jadi, Bell, gue mau ngajak diskusi konsep aftermovie," ujar Tama, sok tenang.

Agus langsung mengibasikan rambut ghoibnya. "Konsep kayak apa, Tam?" 

Tama terkekeh. "Heh, suara lo jangan cowok banget," protes Tama.

"Iya-iya udah lanjut."

"Ehm... gue mikir tone-nya bisa dibuat sedikit dreamy, agak cinematic, biar beda dari aftermovie kampus yang biasanya..."

"Maksudnya gimana? Contohnya?" ucap Agus kini memakai suara lembut seperti perempuan.

Tama mulai terbata-bata. "Ya... kayak slow motion shot pas pembicara dateng, terus transisi blur to focus pas audience tepuk tangan..."

Agus pura-pura berpikir. "Hmm... interesting. Tapi lo yakin bisa ngedit kayak gitu?"

"Eh... ya... bisa sih. Maksudnya, gue bisa belajar—"

"CUT!" Teriak Agus, sembari melepas selimutnya. "Lo terlalu gugup, Tam! Lo nggak boleh nunjukkin kalo lo ragu. Cewek tuh suka cowok yang yakin sama omongannya."

Kembar Sial | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang