2. Bule

341 67 9
                                        

Akhirnya Tama menyentuh hari terakhir ospek, setelah melewati serangkaian kegiatan yang dimulai dari upacara pembukaan orientasi studi, ditambah perjuangan melawan kantuk, lapar, dan haus yang menyiksa, kini para mahasiswa baru terlihat berpencar memadati halaman auditorium. Tiga hari berturut-turut mereka menjalani ospek yang padat, dan ini adalah waktu yang tepat untuk melepas penat sekaligus bertemu kembali dengan teman-teman dari kelompok lain.

Termasuk Tama, Juno, dan Agus yang kini berteduh di bawah pohon mangga, berdampingan dengan barisan semut yang rajin merambat di batangnya.

Dengan wajah kusut penuh beban, Tama mengibas-ngibaskan topi fakultas ke depan wajahnya. Ia lalu merogoh tas, mengeluarkan botol air mineral yang sudah kosong.

"Gue haus. Kalian nggak pengen cari minum?" ucap Tama seraya melempar botol kosong ke sembarang arah. Ia melepas almamaternya, melonggarkan dasi, dan menghela napas panjang.

"Gue laper," sahut Juno dengan gaya meratap, tangannya mengusap perut yang terbalut kemeja putih. Ia lebih dulu melepas almamater dan menyampirkannya di bahu, seolah menyerah pada suhu udara yang menyengat.

Penampilan mahasiswa lain tak kalah kacau. Topi dibalik, kemeja digulung asal-asalan, dan almamater bertengger di lengan, bahkan ada yang mengenakannya di atas kepala seperti pelindung hujan. Meski begitu, sebagian masih berusaha tampil rapi—terutama para mahasiswi yang enggan melepas atribut sebelum mengabadikan momen lewat kamera ponsel. Sudut kanan dan kiri halaman pun dipenuhi pose-pose selfie nan terlatih, lengkap dengan ekspresi gemas dan sorotan mata penuh strategi demi menarik perhatian para kakak tingkat tampan.

"Cari makan di mana?" tanya Agus, memecah lamunan.

Pertanyaan itu membuat Tama dan Juno menatapnya aneh. Agus membalas dengan nada sarkas, "Ngapain ngeliatin gue gitu?"

"Tumben lo nyari makan," celetuk Tama, diiringi tawa kecil Juno. Ia menoleh ke sekeliling, tampak sedang mencari sesuatu. "Mana ya?"

"Nyari apaan, Jun?" tanya Tama.

"Bazar."

Tama mengernyit. "Lo mau cari makan di bazar? Nggak di jalan pulang aja?"

"Gue udah nggak bisa tahan lapar. Lo mau gue kenapa-napa waktu nyetir? Kalo gue pingsan di tengah jalan terus kecelakaan, lo mau kayak gitu?" jelas Juno dengan gaya drama yang hiperbola.

Tama menghela napas malas. Ngaco banget nih anak...

Ia memukul pelan mulut Juno dengan ujung topinya. Saat itu juga, terdengar suara gaduh dari belakang mereka. Beberapa mahasiswa tengah berjalan sambil membahas hal serupa. Juno, seperti mendapat panggilan ilahi, langsung bergerak cepat mengikuti kerumunan itu.

"Giliran makan aja lo gercep!" teriak Agus, ikut bergerak menyusul.

"Heh, tungguin!" pekik Tama, ikut berlari. Namun, di pertigaan, Agus memilih jalur kanan dan Juno lurus. Tama berdiri kebingungan, menatap keduanya bergantian. Nah lo, ini gimana sih?

"Excuse me."

Tama menoleh ke samping. Seorang gadis bule berdiri tepat di sebelahnya, melebihi tingginya sedikit, pirang, dengan senyum sopan yang sama sekali tidak peduli pada krisis eksistensial yang baru saja menimpa Tama. Mampus gue.

Ia sempat melirik ke arah Agus dan Juno—yang kini sudah resmi berubah jadi titik-titik tak bertanggung jawab—lalu kembali menatap gadis itu.

"Y-ya?"

"Is there anything I should know before using the bathroom?"

Tama terdiam.

Anything?
ANYTHING?

Kembar Sial | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang