22. Peringatan

68 7 1
                                        

_____________

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

_________
____





Hari pertama menginjakkan kaki di kampus. Raen menunggu kedatangan Clara yang terengah dengan name tag yang sudah entah mengarah ke mana. "Jahat ga sih kalau gua mau ketawa? Tapi ini lu habis kena badai atau gimana?"

Dengan wajah pias, dan cemberut. Clara merapihkan asal rambutnya asal dengan jarinya. Dia harus berusaha keras menghindari kemacetan di jalan dengan menggunakan ojek pangkalan tanpa menggunakan helm. Bahkan sepertinya, semua orang di jalan tersenyum ke arahnya karena membaca biodata yang tertulis di name tagnya yang berada di punggungnya. "Lebih dari badai! Tornado kayaknya. Ayo masuk! Gua ga mau kalau udah sampai sini tetep dihitung telat. Padahal efforts gua udah ga ada harga dirinya tadi!"

Mengerti dengan apa yang dibicarakan Zoe tentang Clara. Hari ini, dia menemukan dirinya di diri orang lain. Apalagi setelah mendengar cerita semangat Clara tentang apa yang dilaluinya sebelum sampai kampus. "Gua besok bertekad buat dateng lebih pagi!" Dengan mata yang berapi-api. Clara menaikkan tangannya sebelah yang berkepal kuat layaknya pahlawab di medan perang dengan wajah serius, seakan benar-benar menunjukkan tekadnya.

"Semoga ya!"

Menyadari ada yang sedang mengamati dirinya dan juga Raen dari jauh. Clara menoleh, dan menemukan laki-laki tampan yang menggunakan almamater kampus tersebut sedang mengatamati tanpa malu. Bahkan setelah ditangkap basah, dia tidak memutuskan pandangannya. Namun, Clara menyadari bahwa ada sesuatu yang membedakannya dengan kakak tingkat lainnya yaitu slayer kain berwarna di lengannya. Dia panitia ospek. Bulu kuduknya merinding, membayangkan dirinya dihantam membabi buta karena telah berani menatapnya dengan sorot terpesona.

"Lu katanya punya pacarkan? Dia kuliah di mana?"

"Ah, dia lagi pendidikan polisi. Bukan pacar sih. Cuman gua punya dia, dia punya gua." Mengerti itu, Clara malah jadi melupakan niatnya agar tidak tertangkap telah menatap kakak tingkat yang merupakan panitia. Obrolan yang dibuka Clara terlalu personal, dan menjadikannya bersalah. Tetapi otaknya tidak bisa bekerja dengan baik setelah senyum itu terngiang-ngiang di kepalanya.

"Susah ya pasti? Maksudnya tuh, lu jadi bingung mau klaim dia pacar tapi ga ada status. Tapi kalau bilang temen terlalu jauh. Apa itu cuman pendapat gua aja?"

"Ya begitu, susah. Apalagi sekarang dia mau kita katak break dulu tanpa komunikasi sampai pendidikan selesai."

Menganga tidak percaya, kesan anggun yang pertama kali Raen lihat seketika musnah. Dia benar-benar tidak jaim, dan ekspresif sepertinya. "Kok lu bisa bertahan? Maksudnya apa yang dia kasih buat lu mau nunggu tanpa kepastian? Mungkin lu bakal bilang gua penghasut. Tapi jaman sekarang itu serem loh. Ga ada semua orang yang hatinya baik dan suci. Apalagi dia ga kasih lu komunikasi sama sekali."

ELRAENTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang