Kisah remaja yang penuh rencana. Namun, semua yang direncanakan tidak berjalan sesuai rencana. Mempertaruhkan cinta dan perasaan demi sebuah cita-cita. Akankah, Raen mampu bertahan dengan permintaan Elizier untuk menunggunya?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_________ ____
"Lu tunggu di sana aja. Gua mau ke kantin rumah sakit laper. Lu mau nitip nanti gua beliin sekalian."
"Tidak perlu, atasan!"
"Kita patners, teman seperjuangan. Jadi ngerasa canggung. Lu juga bisa lebih tinggi lagi nanti pangkatnya. Santai aja!" Setelah menepuk pundak anak buahnya. Eliezer berjalan memasuki kantin rumah sakit. Dia tidak lapar, dan tidak ingin makan. Hanya saja ingin menghindari kenyataan.
"Perkataan Dimas udah ada aja di depan mata tanpa gua minta. Ajaib!" Mengingat kelakuannya yang terlalu childish dan selfish. Dia paham, kalau semua ini terjadi karena sikap dan pilihannya sendiri. Sekarang, Elizier melihat Raen tersenyum memikirkan sosok lain yang menemaninya dan juga mungkin sama sekali tidak pernah membuatnya bertanya-tanya soal perasaan.
"Permisi, apa gua bisa duduk?"
Kursi yang ditarik seseorang menghentikan pikiran Elizier yang berkelana. "Silahkan!"
"Gua liat lu sejak dateng. Tapi kalau Clara tau lu orangnya. I mean, dia akan ngerusak rumah sakit dan buat kehebohan. Lagian juga masa lalu. Ohh iya, gua sampai lupa nanya kabar lu?"
Tidak ada kebencian dan sorot mata kecewa. Raen telah sepenuhnya berubah, bahkan sepertinya tidak ada lagi Elizier di dalam hatinya. "Gua baik. Lu sendiri gimana?"
"Seperti yang lu liat. Akhirnya gua bisa ketemu sahabat lama di sini. Udah hampir 6 tahun ya? Gua ga begitu inget. Tapi lu bahagia di sana? Gua kira lu akan menetap di Jogja."
"Harusnya, tapi ada beberapa kegiatan di sini."
"Berarti lu nanti balik lagi ke sana? Kapan?"
"Seminggu lagi."
"Cepet juga. Oke, gua ga bisa lama-lama di sini. Ini bukan momen yang pas buat ngobrol. Gua pergi dulu. Permisi!"
Sepanjang obrolan hanya senyum cerah yang ditampilkan Raen, seakan Elizier tidak pernah melakukan kesalahan. Di ujung lorong kantin, masih dapat dilihat Raen yang menggandeng tangan sahabatnya untuk pergi dari rumah sakit.
Menghela nafas kasar. Eliezer merasa dirinya begitu buruk, karena mengharapkan cinta yang terjadi di masa sekolah. Masa-masa labil dan mencari jati diri.
"Gua akan hidup bebas sekarang. Sampai bertemu di lain waktu, Re!"
————
Sore harinya, Raen menjemput kekasihnya yang baru saja sampai di bandara. Dipeluknya erat tubuh yang selalu dia rindukan seminggu ini. Cara hanya bisa mengabadikan momen seperti awal pertemuan keduanya dulu.