36. Perasaan Bersalah

36 3 1
                                        

_____________

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

_________
____




Berkelana seharian menuju kebeberapa tempat. Membuat energi Raen hilang begitu saja. Memutuskan untuk beristirahat sambil menenangkan kepalanya yang cukup pening. Raen memilih melipir ke salah satu cafe di kawasan Ibukota. Cafe yang cukup cozy dan tidak memiliki banyak pelanggan di dalamnya.

Raen duduk di pojok dekat jendela sambil mengamati orang yang berlalu lalang tanpa henti. Sampai tidak sadar pesanannya telah datang. "Terima kasih!" Menyeruput kopi hangat di hadapannnya. Otaknya seketika mulai bekerja normal tanpa penat yang mencekam.

Hidup Raen dapat dikatakan selalu 100% sempurna di mata orang lain. Dia mendapatkan apa yang diinginkannya, kecuali Rafe. Pria itu satu-satunya hal yang tidak bisa digapai. Memikirkan soal Rafe, dia jadi sedikit penasaran dengan kekasih baru Rafe nantinya. Dulu sahabatnya itu selalu menceritakan keburukkan perempuan yang bersamanya agar Raen tidak menyukainya. "Bodoh!" Lirihnya terlampau pelan, dan tidak disadarinya.

Rafe, akan selalu jadi sesuatu yang tidak bisa dilupakan di hidupnya. Galan juga mengetahui itu, karena dia juga memiliki Neona di dalam hati dan pikirannya.

Drtt

"Lu di mana, Re?! Kenapa ga bilang kalau mau nongki? Gua gabut banget tau."

"Gua bukan lagi nongki. Cuman mampir sebentar. Otak gua juga butuh udara segar."

"Gua selalu mikir kalau habis koas Jevan akan lamar gua. Karena apalagi yang ditunggu? Ternyata ga ada keseriusan sampai saat ini. Harus sampai kapan? Kadang gua juga capek kalau harus terus begini. Mana makin lama dia sibuk."

"Susahkan? Kalau perasaan udah mendominasi? Gimana jadi gua dulu sekarang lu paham? Padahal dulu yang selalu ngotot buat cari yang baru."

Merasa malu dan tersindir, Clara mengalihkan wajahnya dari layar ponselnya. "Ehmm, gua udah tobat sekarang. Cuman ada Jevan di dalam diri gua."

"Apa salahnya lu nanya? Selagi masih bisa ketemu atau bertukar pendapat. Lu bisa sampein semua kegundahan lu."

"Susah, karena gua jadi manusia lemah dan kasian kalau dia habis pulang kerja. Sekarang gua harus berhenti ngekonten. Karena galau."

"Jangan sampai usaha lu sia-sia cuman karena dia, Cla. Lu dapetin itu semua ga gampang. Selagi dia sibuk, lu juga ikutan sibuk aja biar ga kepikiran."

"HUAAAAAAA gua usahain. Bye!"

Sambungan telepon diputus Clara. Merasa dia telah berbicara cukup kencang saat menjawab Clara. Raen takut menganggu orang-orang di cafe, mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut cafe. Dia tidak menemukan orang yang peduli dengan kegiatannya atau memang tadi dia tidak menyadarinya.

ELRAENTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang