13. Penyesalan dan Rasa Bersalah

142 11 1
                                        

_____________

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

_________
____






Bermain basket di lapangan, walaupun Raen tidak terlalu jago dalam olahraga. Setidaknya dia memiliki kesibukan sesaat. Bola basket yang dia targetkan ke dalam ring, selalu meleset. Emosinya semakin memuncak. Membanting bola basket asal. Bunyi tepakkan bola dengan kulit terdengar jelas di belakang. Merasa bersalah, takut mengenai seseorang. Raen langsung menuju ke sumber suara, dan mendapati Galan yang tersenyum kepadanya.

"Fokus, dan jangan andelin emosi. Semua yang dipenuhi emosi, ga akan fokus."

Brukk

Bola basket yang sejak tadi dimainkan Raen masuk dengan mudah. Harusnya Raen tidak menunjukkan wajah kagum dan kaget, apalagi tau dengan jelas Galan adalah kapten basket. Jadi bukan hal yang aneh kalau dia jago.

"Mau coba lagi?" Raen menggeleng males. Dia juga meninggalkan Galan begitu saja. Sejak pagi, dia tidak bertemu dengan Rafe. Sebenarnya pesannya belum dibalas sampai sekarang. Ditambah lagi Reiga dan Arsen yang menanyakan kabar sahabatnya kepadanya. Membuat Raen semakin bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi pada Rafe.

"Apa hari ini, free? Gua mau ajak lu makan."

"Sebenernya, gua ada rencana. Maaf ya, mungkin lain kali. Gapapakan?"

"Gapapa kok. Nanti kasih tau kalau lu udah ga sibuk, kapanpun gua pasti bisa."

"Oke."

Beberapa hari lalu, pikiran Raen memang berkelana dan tertuju pada Galan. Tetapi, mengetahui sahabatnya tidak ada kabar. Dampaknya lebih parah lagi.

Neona yang melihat dari jauh Raen dan juga Galan berbicara hanya bisa diam di pojokkan. Memikirkan matang-matang, dia ingin menjadi teman dari perempuan yang baik hati menolongnya. Padahal dia saja sudah melakukan kejahatan kepadanya. Mengetahui apa yang diimpikan Neona, Galan langsung berusaha mewujudkannya. Sepupunya dengan senang hati menyambut niatnya.

"Dia ga free hari ini. Gua udah bilang kalau dia ga sibuk bisa kasih tau. Gimana, sepupu gua udah seneng?"

Keberadaan Galan sungguh hal berharga bagi Neona. Sampai saat ini, dia kehilangan percaya diri dan tidak memiliki teman. Membuatnya seperti seorang nerd yang dijauhi. Tetapi, Galan selalu sigap berada di sampingnya dan mendukung setiap langkahnya.

Merangkul bahu dan memijatnya pelan. Galan seakan menyalurkan aura cerah dan semangat kepada Neona. "Ga perlu cemberut, dia kayaknya emang lagi ga mood bukan karena hal lain."

Neona sempat berpikir, bahwa Raen menjauhinya karena jijik dan menganggap semua rumor benar. Dia memang tidak tau diri, berharap lebih kepada Raen untuk menjadi temannya.

ELRAENCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang