30. Adik Ipar

72 6 0
                                        

_____________

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

_________
____




Di kedai es krim, Raen menikmatinya seakan dia memang tidak bisa membeli dengan uangnya sendiri. Padahal tentu saja dia bisa melakukan itu. Tapi rasanya berbeda, saat dimakan seperti ini. Kondisi yang terlalu capek dan lelah. Apalagi ada orang yang menatapnya jengah. "Lu tuh belepotan kalau makan!"

"Sensasi enaknya makan es krim ini. Bisa dibilang seni."

"Bukan seni, tapi lebih kejorok!"

Walaupun tidak melihat sekitar, Raen bisa merasakan curi-curi pandang yang dilakukan pengunjung kedai es krim ini. Pelakunya bukannya jaim dan tebar pesona malah fokus kepada tingkah kanak-kanaknya.

Menyenggol kaki Galan yang ada di depannya dengan kasar. Raen mengkodekan Galan untuk melirik ke arah samping. Dia sudah memastikan sendiri perempuan itu cantik dan baik. Mungkin, salah tapi setidaknya Galan tidak terus mengekorinya seperti pacar posesif. "Apaan sih?!" Kesal Galan yang diganggu saat menyuap es krim.

"Liat itu!" Ketus Raen tanpa suara, agar membuat Galan tenar pesona dan juga tertarik. Dia bahkan bergelagat seperti cacing kepanasan di mata Galan.

"Lu kenapa sih? Sakit?" Tangan Galan malah mengecek suhu tubuh di dahinya. Menghela nafas frustasi. Raen dibuat sangat kesal. Bukannya makin tertarik tentu perempuan di sekitar Galan akan mengira keduanya berpacaran dan tidak memiliki kesempatan.

Memadamkan kekesalannya. Raen memainkan stick es krimnya dan menghancurkannya.

Lagu Running Up The Hill milik Kate Bush memenuhi ruangan. Menjadikan Raen mengingat adiknya Rex. Yang sebentar lagi menjadi senior akhir di SMA. "Vecna, dulu jadi salah satu hal buat gua nakutin Rex."

"Pulang kalau lu kangen."

Raen menggeleng lemah. Dia tidak ingin kembali merasakan sulit untuk melakukan keputusan pergi dari rumah. Nyaman saat di rumah sungguh hal yang sulit dipisahkan dan dihilangkan. Jika orang tuanya kangen, mereka akan menemui putrinya di Ibukota. Tetapi, Rex tidak pernah ikut. "Dia kenapa sih ngehindarin gua? Pasti dia udah dewasa banget. Makanya males buat nemuin gua."

Mengamati raut wajah yang berpikir keras. Galan terkekeh. "Tapi satu hal. Dia juga pasti kangen lu. Walaupun dia ga pernah bilang itu. Pada kenyataannya emang cowok jelek banget buat ngutarain perasaannya dengan jujur."

"Apa dia punya pacar? Ahh, sumpah gua harus seleksi pacarnya dulu. Dia ga bisa asal milih."

"Padahal kakaknya aja ga bisa milih yang bener."

"Shut up! Anak SMA itu terlalu naif terus lugu. Jadi dia pasti milih asal aja biar ga kesepian."

"Padahal lu baru aja muji dia dewasa banget tadi."

ELRAENTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang