Kisah remaja yang penuh rencana. Namun, semua yang direncanakan tidak berjalan sesuai rencana. Mempertaruhkan cinta dan perasaan demi sebuah cita-cita. Akankah, Raen mampu bertahan dengan permintaan Elizier untuk menunggunya?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_________ ____
Hari kelulusan tiba. Raen mampu menyelesaikannya dengan cepat dari seharusnya. Tiga tahun setengah dia mendapatkan gelarnya dan berdiri dengan toga di kepalanya. Ada hal yang lebih spesial di hari ini. Rex datang, membawa bunga dengan tubuh yang dewasa dan semakin tinggi. Padahal berulang kali Raen mempertanyakan kepada Bundanya, apa adiknya akan datang. Sarah tidak bisa memastikannya dan mengatakan bahwa Rex selalu saja membuat alasan didetik-detik terakhir.
Tidak sanggup menahan kerinduan, Raen memeluk erat tubuh tegap nan tinggi Rex. "Bodoh! Kenapa lu ga pernah datang?"
"Lu ga pernah minta!" Dengan wajah sombongnya. Laki-laki muda itu mengatakannya tanpa merasa berdosa sedikitpun.
"Ya kenapa ga dateng aja sih?!"
"Sibuk. Yang penting sekarang gua di sinikan! Sama temen-temen lu."
Arsen dan Reiga datang dengan perawakkan yang jauh berbeda dengan saat dia sekolah dulu. Raen tidak pernah bertemu dengan teman-temannya semasa sekolah. Dia sibuk dengan dunia dan kegiatannya. Lagipula, dia tidak terlalu dekat dengan keduanya. "Wow, siapa nih yang udah jadi sugar daddy?"
"Lu aja mau ga? Gua kebanyakkan duit tapi ga bisa habisinnya." Arsen dengan entangnya mengatakan hal seperti itu sambil merangkul bahu Raen.
"Siapa yang ngasih tau?"
Reiga maupun Arsen spontan menoleh ke arah Rex. Mau marah juga Raen tidak bisa, karena saat ini kebahagiaannya benar-benar nyata.
"OMG! Ini siapa? Tiba-tiba ada cowok lagi. Mana si impoten!" Arsen yang baru terpana dengan kehadiran perempuan sexy di hadapannya mendadak merinding ngeri. Mendengar kata 'impoten' adalah hal yang menyeramkan bagi para kaum adam. Sedangkan, Reiga menenggak ludahnya kasar. Karena tatapan yang diberikan Clara cukup intens dan menelaah ke arah yang tidak seharusnya dilihat.
"Ini temen gua SMA."
Mengangguk paham, tanpa mengenalkan diri atau bersalaman. Clara seperti mencari seseorang, namun belum juga menemukannya. "Dia temennya si impoten juga dong? Well, gua ga peduli. Sekarang kita harus foto. Eh lu berdua cepetan fotoin kita."
Belum juga berfoto, segerombolan orang-orang culun bagi Clara menghampiri sahabatnya. Tidak ingin terhuyung, dia pun pergi menjauh. "Ewh, kenapa mereka di sini?!" Galan yang baru saja mengajak anak-anak BEM mendadak bingung dengan pertanyaan Clara.
"Kenapa?"
"Gua mau foto! Malah diganggu. Ga suka!"
Menerima banyak bunga, tangan Raen bahkan sampai penuh. Rex membantu kakaknya yang kewalahan dengan membawakan bunga-bunga tersebut.