Kisah remaja yang penuh rencana. Namun, semua yang direncanakan tidak berjalan sesuai rencana. Mempertaruhkan cinta dan perasaan demi sebuah cita-cita. Akankah, Raen mampu bertahan dengan permintaan Elizier untuk menunggunya?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_________ ____
Hampir 1 jam lamanya, Raen di kamar. Dia bosan bukan main, dan hampir selama itu juga dia tidak mendengar suara berisik dari bawah. "Kok aneh, biasanya sama Jian kan heboh banget kayak bawa orang sekomplek." Dengan penasaran yang menyelimuti, Raen turun ke bawah dan menemukan keduanya menonton film horor.
Lihatlah manusia sok cool dan jagoan yang nahan takut. Mengetahui kakaknya turun, Rex mengusir Raen untuk pergi darisana. "Nonton tuh liat ke layar, bukan ke dapur. Cemen!" Menyaksikan keakraban dua saudara di sampingnya. Rafe hanya bisa terkekeh.
"Lu ga mau ikut nonton?"
"Gua udah pernah nonton. Fyi nih! Rex itu takut sama film horor. Nanti dia ga bisa tidur HAHAHA." Bantal sofa yang sejak tadi dipeluk Rex melayang ke wajah Raen yang sedang tertawa.
"ENAK AJA YA LO MUKUL-MUKUL! Kamar gua ga nerima tamu malem ini. Tidur aja nyempil di Ayah Bunda."
"Yahh, kak. Jangan gitu dong!"
Berlarian ke sana kemari seperti tom and jerry. Rafe tidak menyia-nyiakan apa yang dilihatnya dengan mengabadikan momen ini di ponselnya. Memvideokan Raen yang bertingkah konyol mirip anak 5 tahun, yang meledeki lawannya. Juluran lidah, dan goyangan pantat ditunjukkannya untuk membuat adiknya kesal.
Grep
Rex memeluk kakaknya dari belakang. Raen tidak marah sama sekali, dia masih saja menertawakan adiknya. "Kakakku yang paling cantik nan baik di dunia ini. Harus sharing kamar hari ini ya!" Film yang direkomendasikan karena keseruannya, tidak lagi menyaksikan setelah Rafe melihat apa yang ada di hadapanbya.
"Gua dapet apa nih? Jangan bilang gratis. Karena di dunia ini ga ada yang gratis. Ingat itu?"
"Mau apa? Gua kasih cogan aja lu nolak."
"Gua ga butuh pasangan. Cuman lu beliin beberapa wishlist gua."
"Terserah yang penting gua tidur di kamar lu malem ini."
Mengacungkan jempol setuju. Raen menuju ke dapur untuk minum dan membuat masakkan simple. "Boleh nyobain juga ga nih? Selama ini gua baru tau lu bisa masak."
"Lu sendiri ga pernah nanya dan remehin gua."
"Maaf, gua mau coba."
Senyum smirk ditampilkan Raen saat menoleh ke arah Rafe yang sedang duduk di meja makan. "Lu inget tadikan? Ga ada yang gratis di dunia ini."