Kisah remaja yang penuh rencana. Namun, semua yang direncanakan tidak berjalan sesuai rencana. Mempertaruhkan cinta dan perasaan demi sebuah cita-cita. Akankah, Raen mampu bertahan dengan permintaan Elizier untuk menunggunya?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_________ ____
Kepulan asap rokok mengudara. Semua orang di sana menggunakan pakaian berwarna hitam. Ezra bersandar pada pohon yang akan membuat teduh tempat baru istri dan kekasih abadinya. Berada di posisi yang tidak mencolok, membuat Ezra cukup tenang. Mungkin saat ini, dia terlihat paling biasa saja. Walaupun demikian, dia tetap manusia yang memiliki hati dan perasaan. Apalagi, sampai akhir hayatnya Elina masih saja mengudarakan kebencian yang mendalam kepadanya.
"Aku sungguh membencimu! Kenapa harus kau orang yang aku sukai dan cintai sampai saat ini. Tolong jaga, Eliezer untukku. Apa kau bisa? Dia anak baik dan perhatian. Tolong jaga dia!" Sebelum akhirnya, Elina benar-benar menutup matanya untuk terakhir kali.
Dokter menceritakan semuanya kepada Ezra dan Rafe tentang riwayat penyakit yang disembunyikan Elina selama ini. Sudah hampir, 5 tahun Elina bolak-balik untuk kontrol. Tetapi, dokter sama sekali tidak mendapatkan kemajuan. Ingin dia menyampaikan ini, tetapi Elina mengatakan bahwa dia bisa sembuh. Karena putranya menunggu dirinya pulang. "Ini termasuk keajaiban, dia bisa menunggu sampai putranya tidak lagi sendirian. Ibumu orang hebat, Eliezer. Namamu menjadi terkenal, karena Elina sering membicarakanmu. Dia juga mendonorkan mata bagi orang yang membutuhkan dan organ lainnya."
Rafe hanya mematung di samping nama Mamanya. Dia mengingat semua perkataan dokter yang telah menemani perjuangan Mamanya. "Elina mengatakan putranya sungguh tampan. Dia juga menanyakan apa saya memiliki anak perempuan. Karena putranya bisa menjaganya, walaupun umurnya masih muda. Dia juga cukup romantis, tapi wajahnya yang dingin membuatnya tidak seperti itu."
Di akhir hayat Mamanya. Ada satu hal yang Rafe sesali, yaitu tidak mengetahui rasa sakit yang disembunyikan Mamanya. "Ma, pasti berat. Berjuang sendirian dan nyembunyiin semuanya dari orang lain. Kenapa Mama ga kasih tau, El? Kenapa?"
"Elizier?"
Mendengar suara yang terdengar lembut seperti panggilan Mamanya. Rafe menoleh, dan mendapati Raen di sana yang menangis. "Dia pergi, Re! Ninggalin gua di dunia ini. Gua sendirian."
Raen menggeleng kuat, "Lu harus inget! Lu ga pernah sendirian. Mama pasti sedih kalau lu bilang begitu. Dia akan liat lu dari langit, dan dia akan terus hidup di dalam hati lu!"
"Lu? Apa bakal nemenin gua?" Rafe sadar dengan pertanyaannya memalingkan wajahnya malu. Mulutnya di luar kendali. Tapi itu yang ingin Rafe pastikan, keberadaan Raen.
Dengan senyum tulus sempurna, Raen mengangguk yakin. "Gua ada di sinikan? Walaupun telat. Gua ga akan bisa janji, tapi gua bakal berusaha untuk itu."
Menatap lekat mata Raen, Rafe tidak menemukan keraguan dan kebohongan.
"Gua langsung datang, waktu heboh ada yang meninggal di komplek sebelah. Apalagi pas Bunda nyebutin nama tante Elina. Gua ga ada persiapan ke sini, gua minta maaf." Keduanya sudah berbicara di luar pemakaman. Tidak mengerti maksud ucapan Raen barusan, Rafe memperhatikan penampilan perempuan di hadapannya yang memakai piyama.