Di mana pun ia berada, Marshall selalu berada di sana.
Ardelle mengerjapkan matanya, berusaha memfokuskan penglihatannya yang memburam. Di tangannya terdapat infus, namun ruangan ini bukan rumah sakit. Ia mengetahui jika dirinya berada di kamar Marshall ketika netra birunya menjelajah. Bibirnya mendesis kala tubuhnya terasa kaku dan sakit. Netranya menatap langit-langit kamar dengan deru nafasnya yang normal. Sama sekali tidak ada suara sedikit pun yang Ardelle dengar dari kamar ini.
Ia tidak menyukainya. Ketenangan ini membuatnya gelisah. Rasa nyaman yang ia rasakan membuat hatinya menolak dan merasakan takut secara tiba-tiba. Seketika deru nafasnya mulai tidak beraturan, membuat Ardelle beranjak bangun dan memukul dadanya. Tangannya yang terkepal segera dicekal. Ardelle mendongak saat sebuah tangan menangkup wajahnya. Ia menatap Marshall yang juga sedang menatapnya.
Tanpa ucapan, Ardelle tahu Marshall menyuruhnya untuk mengikuti nafasnya ketika tangannya yang dicekal dibawa untuk menyentuh dada bidangnya. Ardelle segera menarik tangannya, namun Marshall cukup cepat untuk menariknya dengan keras hingga tubuhnya terbentur badan kekar pria itu. Jantungnya berdetak keras. Ringisan yang keluar dari bibirnya ditutup oleh bibir panas yang menyentuh bibirnya dengan lembut. Tangannya dibawa naik untuk melingkari lehernya.
Ardelle membuka matanya ketika merasa ciuman ini berbeda. Ia tidak bisa berkedip ketika Marshall juga menatapnya, sedangkan bibir pria itu melumatnya dengan lembut. Ia mendorong Marshall dengan pelan. Sebelum memberi jarak, Marshall mengecup pipi Ardelle dengan lembut.
"Kenapa?" tanya Ardelle disela deru nafasnya. "Kenapa kau...menciumku?"
"Di mana ia menyentuhmu?"
"Bagaimana dengan mereka?"
Ardelle sengaja tidak menjawab pertanyaan Marshall karena pria di depannya ini juga tidak menjawab pertanyaannya. Mata birunya menatapnya dengan datar. Setelah itu, Ardelle merasakan tangan yang berada di pinggangnya semakin naik dengan pelan. Ia menahan nafas ketika Marshall mendorong punggung atasnya.
"S-sir."
"Di mana mereka menyentuhmu, Ms. Cavanaugh?"
Ardelle meraup oksigen ketika mendengar suara berat Marshall yang anehnya terasa nyaman di telinganya. Ia sedang marah dan Ardelle bisa membaca matanya walaupun wajah Marshall terlihat datar.
"H-hanya bibirku. Dia hampir menyentuh...badanku jika kau tidak menembaknya," cicit Ardelle. Pria ini terlalu dominan saat marah.
Marshall hanya bergumam pelan. Tangan pria itu bergerak menyisir rambutnya dengan jemarinya dan semua rambutnya menyatu di genggaman Marshall. Ardelle kembali menahan nafas dan mencengkram baju Marshall saat pria itu mengecup rahangnya.
Setelah itu, Marshall mengucapkan kalau ia akan memanggil dokter dan Ardelle membiarkan punggung tegap itu menghilang dari pintu. Ia menundukkan wajahnya dan menatap gamang infus di tangannya.
Ketika mereka berciuman, Ardelle bisa melihat isi matanya. Mata itu menatapnya dengan penuh dengan permintaan maaf.
Dan sepertinya, Marshall menciumnya untuk menghilangkan jejak pria itu di bibirnya. Perasaannya berkata seperti itu.
Ardelle menoleh ketika mendengar dering ponselnya. Tangannya menggapai benda persegi itu dan menggeser layar dengan pelan.
"Ardelle's speaking," ucapnya pelan.
"Are you okay?"
Bibirnya terkatup rapat. Hanya deru nafasnya yang terdengar di seberang telepon.
"Elle, kau tidak merindukan ayahmu?"
"Elle?"
"Mama sangat merindukannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Blue Eyes
Romansa#1 in your eyes Ardelle Cavanaugh, hanya perempuan biasa di mata birunya. Namun di mata orang, ia adalah pengatur di keluarga Cavanaugh. Tiga tahun menetap di New York membuat bebannya berkurang. Namun, bertemu Marshall El Blackton sepertinya merupa...
