28 - Five Stages of Grief : Anger

263 19 0
                                        

Fred mengerahkan seluruh uangnya demi Ardelle yang memaksa untuk melakukan perawatan di mansion. Ketika ia sampai di rumah sakit, kondisi Ardelle mengalami penurunan yang cukup tajam setelah melihat Cade dan Matthew. Tetapi tetap saja Ardelle mengucapkan permintaan yang tidak masuk akal, namun  Fred sama sekali tidak bisa menolak.

Monitor berbunyi secara konstan. Tiang infus berdiri tegak di samping tempat tidurnya. Fred bahkan membawa beberapa suster dari rumah sakit untuk mengontrol kondisi Ardelle.

"Bagaimana kondisi perusahaan?"

Fred menoleh ke arah Louis yang terduduk di sofa. Pergelangan kakinya terlihat menggunakan gips.

"Saham menurun cukup pesat."

Louis menatap Fred dengan iba. Pria yang sudah seharusnya menikmati waktu luang, tiba-tiba kembali beraksi menggantikan pemimpin yang lama. Mau tidak mau harus dilakukan karena Matthew meninggal secara mendadak. Fred bahkan tidak ada waktu untuk menangis. Dengan mata merah yang terlihat, Louis tahu bahwa Fred menangis di sela kekacauan ini.

Louis menatap Ardelle yang tertidur dengan nyenyak. Matthew dan Ardelle. Anak dan cucu kesayangannya.

Fred mungkin kehilangan anaknya. Tetapi Ardelle mengalami kehilangan dua kali lipat lebih sakit daripada dirinya. Dengan diagnosis dokter bahwa ia tidak memungkinkan untuk melakukan balet, biola, dan piano, membuat Louis tidak tahu menggunakan reaksi apa pada wajahnya. Ia terdiam.

Ardelle sudah kehilangan Matthew dan Cade. Ditambah dengan mimpi-mimpinya. Bagaimana ia akan menjalani hidup?

"Tidak apa-apa, Fred. Elle pasti kuat," ucap Louis, mengerti dengan isi hati Fred yang sama dengan dirinya. Walaupun ia juga tidak yakin dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan.

"Kau juga sudah tidak bisa berenang lagi?"

Mendengar pertanyaan Fred membuat Louis menatap kakinya. "Dibandingkan Ardelle, ini bukan apa-apa."

"Maaf, Louis."

Louis menggeleng pelan. Obat penenang tersebut sepertinya bereaksi dengan baik pada Ardelle. Kepalanya lalu menunduk dengan dua tangan sebagai penyangga. Air matanya mengalir ketika kenangan bermain dengan Matthew menyeruak pada ingatannya. Mimpinya menjadi atlet renang sama sekali bukan apa-apa, ketika Matthew yang berperan sebagai ayah kedua dan Ardelle yang selalu berada di sisinya.

***

Pintu balkon terbuka lebar membuat udara pagi masuk dengan mudah. Ardelle mengerutkan dahinya dengan tatapan kosong pada tirai yang bergoyang tertiup angin. Lembaran kain tersebut sangat mudah untuk goyah jika diterpa sesuatu.

Ayahnya tidak pulang.

Cade juga tidak memeluknya.

Sedangkan tangannya kembali mengusap telinga dengan keras.

"Nona, apa ada yang sakit?" tanya suster di sebelahnya. Infus baru sudah terpasang rapi.

Telinga itu memerah ketika tangannya lepas dari sana. "Bisakah kau mengambil foto yang ada di meja sana?"

Suster melirik ke arah meja yang Ardelle tunjuk. "Semuanya?"

Dengan anggukan yang diberikan membuat suster yang bernama Leora mengambil foto itu sebanyak enam buah. Ia lalu memberikannya kepada Ardelle. Melihat itu membuat Leora segera memberikan privasi bagi Ardelle. Ardelle melirik figuran yang berada dipangkuannya.

Semua kenangan yang ia lalui tercetak jelas pada foto-foto yang ada di pangkuannya sekarang. Foto penuh dengan senyuman ini membuatnya tersiksa. Rasa gemuruh yang perlahan muncul di dadanya membuat matanya bergetar. Ia segera melempar semua foto itu ke arah pintu balkon dengan nafas yang memburu.

Blue EyesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang