Marshall menyugar rambutnya dengan asal ketika ia sedang berdiri di depan mansion Cavanaugh. Seorang lelaki yang terlihat seperti Kent alias kakeknya menyapanya dengan ramah.
"Joey menghubungiku. Welcome to our mansion, Marshall. Bagaimana kabar ayahmu?" sapa Fred lalu menyerangnya dengan pertanyaan.
"Baik, sir. Ia sedang menemani Joey di rumah sakit. Saya juga baru mendengar kalau Mrs. Cavanaugh sudah siuman," ujar Marshall dengan sopan.
"Aku juga lega mendengarnya. Ayo masuk," ajak Fred lalu Marshall mengikutinya. "Aku senang kau datang ke sini. Dulu ayahmu sering datang untuk mencari Matthew. Tetapi aku sedikit sedih," ujar Fred. Seketika Marshall melihat bahu Fred sedikit turun.
"Karena ayahku sudah tidak pernah datang ke sini lagi, sir?"
"Please, call me Fred or grandpa. Aku lebih suka itu daripada kau memanggilku dengan sopan. Untuk pertanyaanmu, bukan itu," jawabnya. Langkah kaki Fred berhenti. Ia melihat orang-orang cukup sibuk bahkan beberapa pelayan terlihat mengangkat piano besar.
"Aku sedih kau kemari di saat berita tidak enak seperti ini," lanjut Fred sembari menghela nafas.
Marshall terkekeh kecil. "Jika ada berita baik, dengan senang hati saya datang ke sini. Jika anda mengijinkan."
Fred menoleh ke arah Marshall dan menepuk bahunya dengan pelan. "Tentu aku mengijinkan! Mason sudah seperti anakku sendiri dan kau adalah cucuku. Kau bebas berkunjung ke sini," ucapnya dengan senang.
"Apa anda sedang mengganti furniture?" Matanya juga mengarah ke arah orang yang sedang berlalu-lalang.
Fred kembali melihat beberapa pelayannya yang lalu-lalang. Ia menggeleng. "Tidak, aku belum bosan."
Marshall melirik Robert. "Lalu?"
"Ardelle sedikit gila hari ini. Maukah kau melihatnya?"
***
"Kau suka bunga ini, Elle?"
Ardelle memejamkan matanya erat sejenak lalu kembali menatap rumah kaca yang ada di depannya saat suara Matthew tiba-tiba terdengar di telinganya.
Ia membawa kardus itu masuk ke dalam dan membuang semua isinya ke tengah-tengah dengan telanjang kaki, tidak peduli dengan luka di sana. Mata biru itu menatap puluhan sepatu yang sering ia patahkan dulu. Dua piano besar terlihat berdiri manis dengan masing-masing berwarna kaca transparan dan putih susu.
Dadanya bergemuruh kencang. Ardelle mendengar derap kaki mendekat, namun ia tidak peduli dan membuang kardus itu dengan asal. Wajah pucatnya yang datar seolah tidak ingin diganggu, namun Andine tetap mengutarakan rasa penasarannya.
"Nona, piano anda kenapa dipindahkan ke sini?" tanyanya sopan namun sedikit panik. Matanya menjalar ke arah dua piano serta beberapa biola yang sudah patah. Bahkan puluhan sepatu ballet terlihat menggunung di sana. Andine lalu melirik kaki nonanya.
"Aku akan bermain."
"Di sini? Kondisi anda-" Andine menghentikkan ucapannya ketika Ardelle menatapnya dengan tajam. Bahunya terangkat mendadak akibat nonanya yang baru saja mengambil biola di atas piano lalu mematahkannya dengan cara dibanting.
Andine dan para pelayan segera menyingkir dari sana untuk menghindari amukannya. Sebelum itu, ia menundukkan kepalanya dengan pelan lalu melangkah pergi dengan sedih. Fred berdiri dengan seseorang di sampingnya di bawah pohon besar yang rindang, membuat Andine segera melangkahkan kaki untuk mendekat.
"Selamat datang di Mansion Cavanaugh, Mr. Blackton. Kami senang menerima anda di sini," ucap Andine dengan senyuman. Marshall mengangguk sopan untuk menerima sapaan yang sepertinya adalah kepala pelayan di sini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blue Eyes
Romansa#1 in your eyes Ardelle Cavanaugh, hanya perempuan biasa di mata birunya. Namun di mata orang, ia adalah pengatur di keluarga Cavanaugh. Tiga tahun menetap di New York membuat bebannya berkurang. Namun, bertemu Marshall El Blackton sepertinya merupa...
